Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Jika seperti ini, pertahankanlah.


__ADS_3

Sudah memasuki jalan ramai, mobil yang ditumpangi Jesslyn sudah tidak berekor lagi.


"Bagaimana?" Kata Willy pada anak buahnya. "Dua wanita itu sudah aman, lalu bagaimana dengan tikus kecil itu bos?


"Lepaskan saja, tidak ada untungnya bagi kita. Atau kalian mau memasukannya ke dalam penjara?" Ujar Willy menggelitik. "Tidak bos, yang ada kita yang malah masuk penjara." Mereka tertawa.


"Lucu sekali, baru kali ini orang jahat menolong orang yang sedang kesusahan" Wily bergumam namun nada suaranya masih dapat terdengar. "Apa bos?" dikira sebuah perintah oleh anak buahnya.


"Kepo lu. Ayo kita come back menghadap bos Dodo, nanti kalian yang laporan."


"Siap bos"


Ketika sedang berbalik, mobil sedan hitam lewat dari arah gedung Manggala. Kemudian berhenti tepat di depan tiga pria yang sedang memandang.


Kaca mobil turun, "Bagaimana?" Kata pria di dalam mobil itu yang tak lain adalah Dodo. "Aman", jawab Willy.


Dodo berterimakasih lalu memerintahkan Willy agar segera kembali. Dia pun menitip beberapa pekerjaan yang belum sempat terselesaikan, karena menenangkan istrinya yang sedang takut jauh lebih penting.


Mobil kembali melaju, mengantarkan sang pengemudi ke tempat tujuan. Dodo melihat sebentar ponselnya untuk melihat dimana letak Jesslyn berada.


Ciiittt...


Mobil berhenti mendadak menghindari kucing yang tiba-tiba berlari di depan. Beruntunglah Dodo tepat waktu mengerem sampai tidak terjadi penindasan.


...........


Di kantor Jesslyn berada.

__ADS_1


Sampai sudah Jesslyn di ruangan kerja. Mengatur nafas yang sempat tidak beraturan lalu memangku wajah dengan topangan kedua tangannya. Dia membayangkan sebentar apa yang barusan terjadi.


Bersamaan itu, Anggi langsung mendapat penanganan di klinik di perusahaan Jesslyn. Luka kecilnya sedang dibersihkan lalu diberi obat merah. Belum sampai beres, Anggi sigap berdiri memberi hormat pada Dodo yang baru saja datang.


"Duduklah" perintah Dodo, "terimakasih kamu sudah menjaga istri saya"


"Sudah menjadi tugas saya pak"


Dodo meneruskan langkah lagi mencari keberadaan sang istri. Saat pintu ruangan Jesslyn terbuka, istrinya masih dalam posisi tadi dengan mata yang terpejam.


Langkah kedatangan Dodo pun masih belum disadari Jesslyn, dia mengusap lembut kepala sang istri dan membenarkan jepitan rambutnya. "Non" panggilnya.


"Sayang" Jesslyn memeluk Dodo erat, sambil mengucap kata maaf berkali-kali.


"Sayang maaf, aku tidak bisa menahan diri dan malah membuatmu cemas." Pelukannya sudah di lepas, sadar jika ini bukanlah dirumah.


"Ssssttt" jari telunjuk menempel di bibir. "Sudahlah sayang, untuk apa kamu minta maaf? kamu ini samanya dengan Anggi, aku yang salah malah kalian yang minta maaf."


"Kalau aku tanya alasan kenapa kamu minta maaf, pasti kamu jawab Saya yang salah tidak menjaga Non dengan baik, iya kan? hayo ngaku."


Dodo tergelak dengan kepiawaian istrinya dalam membalikkan pembicaraan. Jesslyn sudah pandai membaca topik pembicaraan Dodo.


"Non, kenapa tidak kembali ke rumah saja? memangnya Non masih bisa melanjutkan pekerjaan?"


"Disini banyak orang, aku akan lebih tenang dan nyaman berada disini dulu. Di rumah sepi, papah pun belum kembali dari rumah paman."


Dodo meraih paper bag yang teronggok di meja. Dia membukanya dan mengeluarkan kotak makanan yang memang sudah dipersiapkan untuknya. "Non sudah makan?" tanya Dodo.

__ADS_1


Jesslyn menganggukan kepala pelan, "makanlah sayang". Karena istrinya sudah mengisi perut dan tidak mau lagi makan bersama, Dodo menyantap lahap makan siangnya. Mengunyah sambil terselip senyum kecil ke arah Jesslyn memberikan arti bahwa makanannya enak.


Memang makanan resto sudah di jamin enak, yang lebih membuat nikmat karena telah dipersiapkan oleh sang istri tercinta. Suapan kedua sudah tertelan dan akan mengambil kembali suapan selanjutnya. Tangan Dodo yang sedang menyendok langsung di tahan Jesslyn.


"Sayang, berikan padaku."


Dodo menyerahkannya pada Jesslyn. Wanita itu kini yang mengaduk makanan sambil berbicara. "Aku mau menyuapimu, boleh kan? walaupun kamu sedang tidak sakit."


"Boleh Non"


Jesslyn menahan haru mengamati suaminya makan begitu lahap. Bukan perkara yang mudah untuk mencapai titik ini, dia bahkan melewati kejadian tak terduga sebelum akhirnya mereka dipersatukan dalam makan siang suap-suapan.


"Non, terimakasih telah berusaha menjalankan tugas istri menurut versi Non. Saya sangat senang. Non istri aa yang baik, bagi saya tugas istri hanya perlu menjaga kepercayaan dan cinta, serta bahagia dan saling mendukung satu sama lain."


"Sama melahirkan anak ya sayang?"


"Itu bonus Non, anak adalah pelengkap. Jangan terlalu dipikirkan, yang penting saya sangat sayang sama Non."


Air mata bahagianya sudah hampir turun, mengiringi rasa haru yang menyeruak karena telah memiliki suami yang memperlakukannya dengan manis. Jika kelak kamu memiliki lelaki ini, pertahankan lah kawan.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2