Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Terimakasih atas hari ini


__ADS_3

Hiks...hiks..hiks..


"Takuut.. sayang aku takut...hiks..hiks.." Jesslyn menangis sesegukan, suaminya berusaha menenangkannya dan mencari cara agar keluar dari situasi ini. Dodo merogoh saku lalu sibuk memainkan ponsel dalam keadaan terbungkus plastik.


Bajunya sudah basah kuyup, Dodo terus memeluk dan berusaha menghibur istrinya jika mereka akan baik-baik saja. Tangan kanannya mengusap wajah sang istri yang sedang ketakutan dan menggigil, sedangkan tangan kirinya memegangi daun cukup lebar untuk sekedar berteduh.


"Non jangan takut, ada saya disini." Lelaki itu pasang badan untuk mencegah hujan langsung menerpa sang istri. Air deras mengguyur badan serta kepalanya, lalu mengalir dan bermuara di dagu, pada akhirnya menetes jatuh bercampur dengan air mata Jesslyn.


Sambil menahan dingin, Dodo berkata dengan tenang "Non, hujan tidak selalu memberikan bencana, hujan akan marah jika manusia tidak ramah."


"Namun hujan juga banyak mengajarkan tentang kehidupan, salah satunya selalu datang memberikan kesejukan walaupun harus jatuh berkali-kali."


"Non, katanya berdo'a di waktu hujan adalah waktu yang bagus, serta dipercaya do'anya akan di kabul. Ayo Non kita berdo'a semoga Dodo Junior memang ada di perut Non."


Jesslyn seketika menghentikan tangisnya, seperti lupa dengan apa yang telah terjadi. "Suamiku.."


"Iya Non"


"Kau baik sekali padaku. Ayo kita berdo'a bersama, semoga kelak aku bisa melahirkan anakmu. Dan yang penting anakmu jangan lahir dari wanita lain."


"Tidak mungkin Non, istri saya kan cuma Non seorang." Mereka memejamkan mata, lalu berdo'a sambil mengadahkan tangan.


Mata sudah terbuka kembali, guyuran hujan mendadak tidak terasa. Dodo menatap ke atas ada payung besar melindungi mereka dari hujan, seseorang telah datang untuk menjemput mereka.


............


Ada untungnya anak buah Mangala tersebar di berbagai kota. Ketika di butuhkan segera, mereka bisa datang dengan tepat waktu tanpa memakan waktu yang lama.

__ADS_1


Anak buah yang membawakan payung serta kendaraan mobil untuk Dodo dan Jesslyn datang dengan tidak berseragam. Walaupun demikian Dodo dapat mengenali orang-orang nya.


Saat ini mereka sudah berada di tempat yang hangat. Baju mereka sudah berganti menjadi kering, sudah saatnya menghangatkan yang tadi sempat dingin.


Dodo datang membawa makanan berkuah yang masih mengepulkan asap. "Permisi Mbak, apa boleh kita bertukar posisi?" Ucap Dodo kepada Dara yang sedang duduk disamping Jesslyn.


"Oh iya, silahkan." Dara pamit keluar, Dengan kondisi yang sudah di alami Jesslyn hari ini membuatnya enggan keluar dari mobil untuk sekedar menyantap makanan.


Dodo membuka seluruh jendela, meniup-niup kuah yang masih berasap, lalu menyuapkannya pada Jesslyn. "Sayang, terimakasih ya atas hari ini, aku sangat bahagia bersamamu". Ucap Jesslyn sambil meresapi makanan yang masuk ke mulutnya.


"Iya Non, apakah sungguh Non senang hari ini dengan mata yang sembab habis menangis?"


"Tadi itu tangisan bahagia sayang, sudahlah tidak usah di risaukan lagi. Aku ingin makan, suapi lagi sayang."


Kini Bram dan Dara menjadi saksi kedekatan Dodo dengan Jesslyn, mereka masih memandangi pasangan yang sedang saling melengkapi.


Saat Dojess berjalan menuju mobil dengan payungnya, mereka melintasi mobil Bram, dan pada kesempatan ini Dara pun menyapa mereka.


Dara menceritakan maksudnya bersama Bram yang tidak bisa menempuh perjalanan karena jalan yang tertutup. Tanpa Dara tahu sebenarnya orang-orang dihadapannya lah yang telah melewati peristiwa besar.


Dara juga sempat menanyakan kenapa baju yang di kenakan Dojess basah kuyup padahal mereka memakai payung besar. Mereka menjawab sengaja bermain hujan dan berdo'a di bawahnya.


Dara pun mengerti.


Dengan pengetahuan Dodo akan jalan alternatif yang sering dia lewati saat berpetualang, mereka dapat melewati jalan kemacetan dan berhasil memasuki kota mereka.


.

__ADS_1


.


Sebelum melanjutkan perjalanan kembali, Dara berbincang sedikit dengan sahabatnya, Jesslyn. Kali ini Bram pun ikut berkata barang sepatah dua kata kepada Dojess.


"Terimakasih ya Pak Dodo, saya sudah di bantu untuk bisa melewati kemacetan tadi." Terimakasih pertama yang tulus di ucapkan Bram kepada Dodo.


"Sama-sama Pak Bram"


"Untuk Bu Jesslyn, selamat mendapat suami yang baik dan super perhatian seperti Pak Dodo. Maaf jika saya baru menyadarinya sekarang."


"Iya Bram, syukurlah kalau kau sudah menyadarinya. Yang pasti kau harus lebih menghargai dirimu sendiri dan juga orang yang menyukaimu." Jawab Jesslyn dengan menatap ke arah Dara, Dara yang di tatap gelagapan.


"Sekali lagi selamat, Ibu telah menemukan orang yang tepat, saya jadi merasa lega dan tenang melihat Ibu aman, tenang dan tentram." Kata Bram penuh ketulusan kali ini.


"Tenang? memang ketenangan apa yang kau cari Bram, jika orang mati saja masih di Do'akan agar tenang. Ada-ada saja kamu ini."


"Non." Dodo menempelkan jarinya untuk menghentikan ucapan Jesslyn, untung hanya jari tangan, bukannya bibir hehe.


.


.


.


Bersambung..


Jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2