Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Bolehkah aku egois?


__ADS_3

Usai sudah rasa sakit yang sempat menggerogoti. nikmat sehat sudah Dodo miliki lagi agar bisa beraktifitas seperti biasanya. dia pun menjadwalkan diri untuk meninjau bisnis perikanan miliknya sebelum sibuk berkecimpung di dunia bisnis Manggala.


"Silahkan masuk non." Dodo membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Jesslyn tampak berfikir, menatap lekat mobil yang akan di kendarai Dodo. dia baru melihatnya dan jika dilihat secara seksama mobil ini termasuk kalangan atas.


"Emm, ini mobil siapa?" ragu, tapi tetap penasaran lebih dominan daripada canggung.


"Ini mobil pemberian dari tuan Niko untuk dipakai selama bekerja di Manggala. katanya posisi yang akan diduduki oleh saya jika bepergian tidak boleh memakai motor butut, sepeda, apalagi jalan kaki. kendaraan umum pun tidak boleh." jawab Dodo apa adanya.


Jesslyn menarik nafas, "pernah gak sih kamu berfikir andai saja kita tidak pergi ke pasar malam itu lalu bertemu nona Rianti dan tuan Niko pasti tidak akan seperti ini."


"Saya tidak pernah berandai-andai non, dan menyayangkan apa yang telah terjadi. karena setiap peristiwa yang kita alami itu merupakan takdir. jadi yang bisa dilakukan adalah antara bersyukur dan sabar. mau tidak mau harus di hadapi."


"Iya sih kamu benar, tapi setidaknya jika aku berandai itu tidak terjadi, pasti sekarang kamu masih jadi cleaning service kesayanganku. hehehe"


"Do, eh maaf. suamiku, sejujurnya aku lebih nyaman kamu yang dahulu. sederhana dan selalu ada." wajahnya sedih.


"Tenang non, saya selalu akan seperti dulu yang selalu ada. kejadian kemarin saya pergi tidak akan terulang lagi."


"Janji."

__ADS_1


"Iya, saya janji."


Jesslyn sedikit mendapat ketenangan hati dengan apa yang di katakan Dodo. dia masuk ke dalam mobil dan siap berpetualang hari ini dengan suami tercinta.


Waktu kebersamaannya dengan Dodo adalah waktu yang sangat di nanti. selalu ada saja kejadian dan sikap dDodo yang membuat Jesslyn jatuh cinta semakin dalam.


"Non"


"Iya sayang. ada apa?"


"Bagaimana kabar pak Bram?"


"Bagaimana apanya nih?" Jesslyn menggoda.


"Baik apanya nih?"


Dodo terrgelak, sebenarnya dia juga ingin tahu apakah Bram masih mengejar cinta istrinya dan bersikeras kalau dirinya tidak pantas untuk jesslyn.


"Kok malah ketawa sih, kamu coba pertanyaannya ganti yang lebih spesifik." ucap Jesslyn berusaha mengorek isi hati Dodo.


"Pak Bram masih mengejar cinta non?" akhirnya pertanyaan kejujuran terlontar. saat Dodo lirih bertanya seperti itu dia sambil mengetuk-ngetuk kemudi. pandangan matanya jauh ke depan dengan segenap pikiran yang menyelimuti.

__ADS_1


"Masih, tambah giat malah." ada sedikit unsur kebohongan yang menggebu-gebu.


Dodo menatap Jesslyn, lalu beralih lagi ke jalan. Air muka serius kini sudah nampak. Bukan seperti dulu lagi jika tersakiti hanya menjawab tidak apa-apa.


"Non"


"Iya"


"Saya tidak membiarkan pak Bram memaksakan kehendaknya pada istri saya lagi. Tidak apa-apa kan jika saya egois ingin memiliki non seutuhnya?" ucapannya begitu serius dengan tatapan sendu.


"Jika dia masih berusaha keras, biarkanlah juga saya berusaha keras untuk menjaga non."


Jesslyn tersipu, jantungnya berdebar hebat mendapat perlakuan bagai berlian. memang benar, jika istri jatuh di tangan laki-laki sejati maka dia akan diperlakukan bagai berlian permata.


Begitu pun sebaliknya, jika seorang istri jatuh di tangan laki-laki yang salah maka hanya ada air mata yang menjadi teman hari-harinya. jangan lah salah memilih lelaki hanya dia orang kaya, pilihlah dia yang kaya dengan hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.bersambung...


Mengandung pesan amanat Suamiku bukan orang kaya.


__ADS_2