
Di tengah kegaduhan grup 'Bukan ikan biasa', Toyib memasuki obrolan dengan polos, kedatangan chatnya saat baru bangun tidur membuatnya jadi bulan-bulanan para penghuni grup.
Jesslyn cekikikan, membaca chat kocak yang berada di grup tersebut. Kepergian Dodo ke kamar mandi menjadi kesempatan emas menyisir apa saja yang ada di dalam ponsel pribadi milik suaminya.
Chat terakhir membuat Jesslyn terpingkal, dimana Toyib menjadi sasaran empuk para Nelayan yang akan ditinggal pergi Nahkodanya, uppss bukan Nelayan pemirsa, hanya pekerja kolam ikan.
"Kamu tertawa sendirian aja nak, papah juga bagi dong." Seru Pak Dirga mendapati Jesslyn asyik dengan ponsel Dodo.
"Papah istirahat saja, biar cepat sembuh dan cepat balik ke rumah. Maaf ya pah tawanya Jesslyn mengganggu istirahat papah."
"Justru papah cepat sembuh kalau ketawa."
"Ah masa sih? kata siapa? jangan mengada-ngada." Sungut Jesslyn.
"Kata papah barusan, kamu sedang menertawakan apa si nak?"
Karena faktor kasihan pada papahnya yang sedang kepo maksimal, Jesslyn menunjukan grup chat Bukan ikan biasa, mereka lalu tertawa kompak.
"Hahaha kasihan sekali ya yang namanya Toyib itu, di sumpahin harinya Senin semua."
"Papah kasihan tapi malah ketawa, huh papah." Protes Jesslyn, Namun garis senyumnya masih melengkung indah.
"Iya ya hehe."
"Padahal ya pah, mereka kan bukan pekerja yang sudah diatur jam kerjanya. Bahkan mereka bekerja dengan sepenuh hati setiap hari. Bukan seperti pekerja kantoran maupun pabrik yang memiliki libur weekend dan beraktifitas kembali di hari Senin."
"Aku jadi kepikiran karyawan di kantorku setiap hari senin apakah mereka mengeluh?"
"Sayang, kan kamu setiap rapat pagi di kantor mengumpulkan semua kepala divisi, kamu selalu menghardik yang mengantuk atau yang tidak nyambung saat kamu melayangkan pertanyaan dengan tiba-tiba. Kamu selalu menghardiknya dengan kalimat 'Masih liburan kah pikiranmu?".
Jesslyn tergelak.
"Pah, aku coba balas sebagai Dodo."
"Kamu pasti ketahuan nak, kamu dan Dodo sangatlah berbeda."
__ADS_1
"Ya kan hanya sebuah tulisan pah, bukan suara."
Iya papah tahu sayang, namun kamu juga perlu tahu bahwa karakter bisa dituangkan lewat tulisan.
(Dodo)
Rohim jangan seperti itu ya😂, itu tidak baik.
(Rohim)
?
(To'ing)
?
(Jamal)
?
Sejak kapan kakak Dodo membela tapi menertawai?
Deg...
"Papaaah...lihatlah" Jesslyn menyodorkan layar ponsel ke arah Pak Dirga.
"Tuh kan apa kata papah."
Saat Bapak dan anak ini sedang sibuk haha hihi, pintu toilet terbuka dan Dodo muncul di baliknya, Jesslyn dan Pak Dirga langsung merapatkan mulut.
"Non sama papah belum tidur ternyata, asyik sekali ngobrolnya."
"Iya nih papah di ganggu istri kamu."
"Ah masa, bukannya tadi ada yang..."
__ADS_1
"Tidurlah Nak, putriku sayang. Besok kamu harus ke kantor." Pak Dirga menyela perkataan Jesslyn agar putrinya tersebut tidak berbicara di luar nalar.
"Iya non, benar kata papah." Dodo masih percaya menitipkan ponselnya pada Jesslyn yang pada kenyataanya malah di nistakan oleh sang istri.
Lelaki itu menyiapkan air beserta obat dosis malam yang diberikan suster tadi. Memberikannya pada papah mertua dengan telaten.
"Terimakasih Nak Dodo."
"Sama-sama pah." Dodo menaikan selimut pak Dirga sampai pinggang. "Selamat beristirahat pah."
"Iya nak, kamu juga ya."
"Iya pah itu pasti."
Jesslyn hanya memperhatikan bentuk perhatian Dodo kepada papahnya, dia merasa tersentuh sekaligus tersentil, sebab sejak tadi gadis itu sebagai anak perempuan tidak kepikiran untuk memperhatikan obat apa yang akan ayahnya minum. Bahkan dia lupa jika mereka sedang berada di rumah sakit.
Dia dari tadi sibuk dengan ayahnya bercengkrama seolah sedang di ruang tamu rumah.
Selanjutnya, Dodo membelai lembut rambut Jesslyn dan memintanya untuk ke sofa. Jesslyn menurut, perkataan Dodo bagai sihir yang menghipnotis, seolah apa yang di diminta adalah sebuah perintah yang diharuskan.
Dodo mengatur duduknya, menyiapkan bantal di pangkuan.
"Sini non, istrihatlah."
Jesslyn merebahkan tubuh dan menyandarkan kepala di bantal yang sudah disiapkan. Dodo terus mengusap kepala Jesslyn sampai wanita itu merasa nyaman dan tertidur pulas.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.