Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pulang ngaret


__ADS_3

Waktu pulang sudah tiba, sejak jesslyn dan Dodo berangkat ke kantor bersama, Dodo setiap jam pulang kerja selalu pulang terlebih dahulu. Menunggu jesslyn di persimpangan jalan untuk bertukar kendaraan dengan Bram.


Dodo jauh memandang ke arah jalan menunggu kedatangan mobil jesslyn. Haus melanda dia pun pergi sebentar ke warung terdekat untuk menghilangkan dahaga.


"Do, ngapain lu?" sapa karyawan tempat dia bekerja yang ternyata ke warung itu juga.


"Beli minum dulu, haus" gugup, Dodo tak sempat menanyakan balik.


Glek..glek..glek.. dahaga terhempas tapi berubah menjadi panik. Bagaimana kalau jesslyn sudah datang.


"Saya duluan bang."


"Lah buru-buru amat, sini dulu kita ngopi?"


"Hehe saya ada urusan."


"Oh yaudah hati-hati"


"Iya bang"


Dodo menghampiri motornya, tadinya jika teman kantornya belum beranjak dari warung tersebut, ia akan berpindah tempat dan menghubungi jesslyn. Tapi baru saja Dodo mengeluarkan ponsel, mobil sudah berhenti di dekat motornya.


Dodo menyapu pandangan ke arah sekitar, terutama warung tadi memastikan jika teman kantornya sudah beranjak pergi. Tidak nampak seorang pun yang dikenal.


aman. pikirnya.


"Kamu kenapa?"


"Nanti saya ceritakan di dalam non?"


Bram memicingkan mata mendengar jawaban Dodo, siapa dia enak sekali kalau bicara. Sampai pembicaraan tak mau melibatkannya.


Dodo masuk ke mobil dengan tergesa, Jesslyn yang tak tahu hanya mengangkat bahu.


"Masih diam aja nih, gak mau bilang?"

__ADS_1


"Oh ya, tadi ada karyawan kantor di warung seberang. saya khawatir dia akan melihat kita. tapi pas non tiba saya melirik kesana sudah tidak ada orangnya."


"Kenapa kamu gak bilang?"


"Saya baru mengambil ponsel non sudah keburu datang."


"Terus kamu nyalahin saya?"


"Tidak non, untuk ke depannya saya akan lebih hati-hati."


Jesslyn menggigit jari, bagaimana jika status pernikahannya akan ketahuan para karyawan. Keputusannya untuk berangkat bersama Dodo memang sangat beresiko.


"Do, mulai besok aku bawa kendaraan sendiri. Tidak dengan Bram maupun kamu."


Ada gurat cemas di wajah Dodo.


"Iya non."


.........


Di balik warung, karyawan itu muncul kembali. Dia bersembunyi saat kejadian penjemputan. Awalnya dia memang ingin bersantai sebentar menyesap kopi sambil bermain game. Namun saat sebuah mobil berhenti di tempat Dodo dia mengira memang benar Dodo memiliki urusan, tapi..


Refleks otaknya menyuruh untuk segera pergi, dia bersembunyi dibalik dinding samping warung tersebut.


*Y*a ampun Dodo masuk ke mobil Bu jesslyn dan menyetir. waah ternyata..


Di waktu yang bersamaan, Dodo merinding merasakan hawa dingin yang menyergap bulu kuduk.


"Kenapa kamu?" tanya Jesslyn melihat Dodo begitu gelisah sambil memegang tengkuknya.


"Tiba-tiba perasaan saya tidak enak non."


Hembusan nafas kasar jesslyn sudah mewakili tanggapan, daripada memikirkan hal yang belum jelas akan terjadi apa, lebih baik dia menghibur diri dengan datang ke rumahnya dahulu sebelum menikah.


"Kita ke rumahku yang dulu."

__ADS_1


"Baik non."


Mobil terus melaju dengan jarak yang lebih lama, karena sudah hampir sampai pada rumah Dodo dan Jesslyn mereka berputar arah menuju kediaman Jesslyn.


Sementara itu, Bram sudah sampai pada tempat tujuan. dia menunggu lama di depan teras di temani suara bising nyamuk kebun yang mengitari kulitnya.


*L*ama sekali, nona jesslyn baik-baik sajakah?


Yang di prioritaskan adalah jesslyn, tidak peduli bagaimana kondisi Dodo. Padahal sebagai manusia kita harus saling peduli satu sama lain tanpa pandang bulu.


Bi lilis melihatnya cemas, mau mengajak menunggu di dalam juga tidak enak sebab bukan rumah pribadinya. Mengajak terus bicara juga segan karena Bram orang yang irit dengan perkataan.


Akhirnya Bu unah menghampiri, sepertinya dia dari tadi juga memperhatikan.


Tring... pesan masuk.


"Bram pulanglah titipkan saja kuncinya pada orang rumah."


"Baik Bu"


*K*enapa nona jesslyn tidak memberitahuku dia sedang dimana.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.bersambung....


__ADS_2