
"Bram, bisakah kamu jangan mengkhawatirkan aku lagi. Jika kamu masih seperti ini kamu hanya akan mencelakai perasaan calon istrimu saja."
Ketika seorang istri merasa perhatiannya terbagi dengan wanita lain, maka pernikahannya hanya sebatas hitam diatas putih, tidak lebih dari tempat mengerikan yang perlahan menggerogoti hati.
Dan ketika Bram diam tidak menunjukan pembelaan apapun, Jesslyn membuang nafas kasar, dia gusar atas pembenaran kalimatnya yang memang ditujukan kepada Bram sebagai pancingan.
"Bram.." sekali lagi Jesslyn memanggil.
"Iya Bu, mana mungkin saya tidak mengkhawatirkan orang yang pernah saya sayang."
Berkas yang memang dari tadi berada dalam genggaman Jesslyn diayunkan jatuh sedikit kasar di atas meja. "Bram, aku tarik kata-kata ku tadi, aku tidak jadi meminta bantuanmu."
"Ibu tidak usah khawatir, saya akan tetap membantu tanpa mengharap apapun. Karena.." Bram menghentikan ucapan mulutnya yang hampir saja akan membongkar kejadian tadi malam jika tidak dihentikan.
Malam itu,
Untuk memenuhi tuntutan rasa rindu yang menyiksa, Bram berkunjung ke rumah Dara seorang diri. Ke rumah gadis yang sudah mengalihkan separuh atensinya saat mengetahui Dara begitu menghargai orang lain. Sialnya, orang tua Dara sedang tidak berada di rumah.
"Ada apa Bram kamu malam-malam begini ke rumah?" sepasang mata bening milik Dara menelusup bola mata kecoklatan milik Bram. Mencoba mencari disana maksud kedatangan Bram datang kemari. Alis tebal yang terpaut serta senyum yang yang terukir dari belah bibir lelaki yang amat dicintainya dalam diam, sudah mewakili jawaban kalau Bram datang bukan untuk hal yang urgent.
"Aku cuma mau memastikan kalau calon pengantinku baik-baik saja disini."
Dara tergelak, "Aku baik-baik saja Bram, tapi bisa juga kan memastikan lewat hp? seperti bukan kamu saja." Dara berujar masih menyisakan tawa samar yang akhirnya menghilang saat dirinya menawarkan minum.
.
__ADS_1
.
"Karena apa Bram? kamu melamun?" pertanyaan Jesslyn mengembalikan kesadaran Bram yang sempat melanglang buana.
"Karena saya sayang sama semua orang." Jawaban klise macam apa yang di lontarkan Bram, hingga membuat Jesslyn mendecih.
"Kau pergi saja persiapkan semua, setelah makan siang kita akan meninjau hasil proyek pembangunan Tuan Niko." Jesslyn menyudahi omong kosong Bram yang dirasa sudah sukses membuat Bram bukan seperti dia yang biasanya.
Karena aku juga gak tahu kenapa, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Di satu sisi aku juga masih saja mencemaskanmu dan ingin melindungimu Jess, tapi jantung aku ini juga sudah mampu berdegup untuk Dara. Apalagi dengan bibir ini sudah seutuhnya milik dia.
"Bram, kau sudah gila ya senyum-senyum sendiri."
Hah
"Iya apanya?" Jesslyn sudah menaikan alis.
"Iya saya akan membantu menjualkan rumah Bu Jesslyn." Jawab Bram begitu lugas dan percaya diri. Wanita yang bernama Jesslyn menyemburkan tawa sambil melambaikan tangan. Sudahlah aku muak bicara dengan orang gila, begitulah arti gerakan tangannya.
Sementara dalam kebingungan Bram, ponsel yang sedang berada di saku jas bergetar. Nama yang tertera di layar ponsel mengharuskan Bram untuk cepat-cepat membuka pesan darinya.
..........
Di tempat peninjauan.
Adanya e-mail masuk pemberitahuan informasi proyek dipercepat, mengharuskan Jesslyn turun tangan meninjau langsung apa saja yang belum di aplikasikan.
__ADS_1
Situasi bangunan yang baru berdiri tegak belum sepenuhnya rapih, masih menyisakan sisa-sisa bahan bangunan berserakan. Sepuntung kayu dari lantai dua jatuh hampir menimpa Jesslyn.
Refleks gerak cepat Bram menarik pinggang ramping Jesslyn hingga terjerembab masuk dalam pelukan. Aroma parfum khas yang selalu di dambakan menguar, menyapu rongga hidung sampai kedalam ruang hati.
Seketika otak Bram Flashback ke malam itu, mencium Parfum beraroma cuddle saat kepalanya terus mendekat di wajah Dara hingga semakin dekat.
Dara yang tidak menunjukan gestur penolakan, memejamkan mata saat bibir mereka menyatu dan mulai ada pergerakan. Persetan dengan hasrat ini, Bram berharap gadisnya dapat menghentikan ulahnya.
Dalam bayangan peristiwa malam itu dia terdorong nyatanya sekarang juga Bram terpukul mundur. Jesslyn segera bangkit dan mendorong Bram menjauhinya.
"Maaf Bu saya hanya berusaha menolong."
"Iya Bram aku mengerti."
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1