
Malam hari menjelang.
Gelapnya malam mengikuti langkah Dodo untuk menuntaskan rindu yang mereka bahas di telepon. Tidak sampai itu, dalam sambungan, Jesslyn juga berteriak-teriak seolah dirinya menderita sekali.
Dia mengucap salam saat pintu terbuka, lalu disambut oleh bibi pelayan yang memang sudah di tugaskan untuk membuka pintu. Disana, Jesslyn sedang ditemani Anggi beserta Bram yang menjaga.
"Sayang"
Jesslyn memeluk Dodo dikhalayak publik. Anggi pamit undur diri, sedangkan Bram masih bertahan sesuai kebiasaannya dulu. Anggi memberi kode pada Bram agar lekas mengikutinya keluar.
"Ada apa non? kenapa Pak Bram juga ada disini? kamu baik-baik saja?" Dodo cemas.
"Kamu jujur sama aku, kamu kenapa sayang?" memeluk Dodo sekali lagi dengan perasaan yang dalam. Tangannya mengusap-usap punggung suaminya dengan lembut.
"Saya? tidak kenapa-kenapa. Saya baik-baik saja non."
"Jangan bohong." Jesslyn berderai air mata, dia menunjukan sebuah surat mirip dengan yang di tujukan To'ing tempo hari.
Ternyata dia mengirimi ini juga kepada non Jesslyn.
"Non dapat ini jam berapa?"
"Sebelum makan siang, dan setelah kamu meminta Anggi untuk menjagaku lebih dekat."
__ADS_1
Mendengar jawaban Jesslyn, Dodo menganalisa, dirinya sedikit lega karena suratnya datang sebelum dia berbicara dengan musuh. Itu tandanya, musuh pun belum menyadari perihal rencana Dodo datang menancapkan bendera putih lalu mengambil perjanjian tidak saling mengusik.
Jesslyn menjelaskan bagaimana dirinya melewati hari ini. Datangnya surat itu bukan membuatnya takut mati hari itu juga, tapi Jesslyn merasa takut akan kehilangan Dodo untuk selamanya.
Dia mencoba menghubungi sang suami namun nomornya pun tidak aktif dari siang hari. Jesslyn semakin kalut pada saat itu, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim Bram datang ke kantor Manggala.
Dengan kenyataan informasi dari Bram bahwa Dodo tidak ada disana, Jesslyn semakin gusar. Dia menangis meraung, trauma yang membekas tentang kehilangan Joe timbul kembali, menyebabkan Anggi dan Bram harus menjaganya di rumah.
Dodo menenangkannya, meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Lantas dia memanggil Anggi untuk masuk kembali dan dimintai keterangan.
Tinggalah Bram di luar sana dengan rasa penasaran yang menggerogoti.
"Maaf pak, bersamaan dengan datangnya surat ini, ada yang berusaha mencelakai nona Jesslyn sebagai peringatan. Pergerakannya sudah saya ketahui sehingga saya bisa mencegah itu semua." Anggi menjelaskan secara garis besar.
"Anggi, awasi terus situasi dengan teliti. Kejadian ini memang ada hubungannya dengan saya." Dodo memberi perintah. "Sekarang silahkan kamu istirahat, tugasmu sudah selesai untuk hari ini."
"Anggi, bagaimana?" Bram langsung menghadang jalan.
"Bagaimana apanya pak?"
"Emm itu, apa yang sebenarnya terjadi?" Bram bertanya sambil melirik-lirik suasana di dalam.
"Maaf Pak Bram, dilarang mengintip privasi orang lain. Jagalah pandangan anda. Untuk pertanyaan pak Bram saya tidak tahu jawabannya, karena saya pun memang tidak tahu masalah mereka."
__ADS_1
Anggi melanjutkan langkah, saat sudah tepat di depan pintu mobil, Anggi berhenti dan menoleh. Bram masih berdiri tidak tahu harus bagaimana. Gadis itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Bram.
"Anggi" Panggil Bram.
Anggi yang sudah meraih handle pintu melepasnya, menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa pak Bram?" tubuhnya berbalik dan menatap lekat Bram yang sedang menghampiri.
"Aku juga mau ikut pulang. Aku tidak mau berlama-lama disini."
"Oh, Pak Bram mau saya kawal sampai rumah?" tanya Anggi, dia memang benar-benar sedang bertanya. Tidak ada maksud lain.
"Tidak, saya bisa sendiri. Kenapa kamu nanya seperti itu?" Alisnya meninggi, dia merasa Anggi sedang mengejeknya.
"Lalu kenapa Pak Bram memanggil saya? saya kira Pak Bram mau pulang beriringan."
Iya juga ya, kenapa aku manggil Anggi segala.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...