Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Kejujuran


__ADS_3

"Kita semua khawatir sama lu Do soal kecelakaan itu. Semua udah kita urus beserta motor Iyan yang baru. Nanti sore kayanya sampai." Selesai berucap To'ing menyesap kopinya yang berada di piring kecil. Cara minum kopi di daerahnya memang seperti itu, dituangkan ke dalam tatakan gelas terlebih dahulu agar uap panas segera pergi.


"Maaf membuat kalian khawatir, harusnya saya memberitahukan semua orang kalau saya baik-baik saja. Kalian sudah makan? kalau belum ayo kita masuk ke rumah."


"Sudah Do, kita semua sudah makan." Jawab To'ing perwakilan, yang lain terdiam. Namun jawaban To'ing juga menelisik Toyib sampai membetulkan duduknya lalu berbicara.


"To'ing bohong Do, kita semua belum makan siang." Pernyataan mengagetkan sampai semua mata tertuju pada Toyib dengan berbagai arti.


"Oh kalau gitu tunggu sebentar saya mau ke dalam memastikan." Tuan rumah masuk memastikan di dapurnya sudah tersedia makan siang atau belum, juga meminta ijin pada istrinya untuk mengadakan makan siang bersama.


Makanan sudah tertata di meja dengan lengkap sambal dan lalapan. Kebetulan sekali Jesslyn datang menghampirinya ke dapur, "Sayang" sapanya, sambil memeluk Dodo dari belakang.


"Iya Non, oh iya saya mau minta ijin sama Non untuk mengajak makan siang bersama To'ing, Rohim, Jamal, dan Toyob di rumah, boleh tidak?"


Jesslyn berfikir sebentar, "Kamu tidak ajak aku?" cemburu, kenapa lagi-lagi dirinya harus berjauhan. Di tambah janji yang sudah diikrarkan Dodo bahwa selesai meeting zoom dirinya tidak lagi menjauhi Jesslyn. Tapi kenapa persoalan makan Dodo memilih untuk menjauhinya lagi.


Dodo memandang manik indah yang berkaca milik istrinya, "Saya tetap makan bareng Non, tapi tidak dengan yang lainnya." Otak ini semakin bingung, apalagi dengan perasaan. Jesslyn sebenarnya sangat kesal dengan dirinya sendiri, kenapa tidak bisa mengalah sedikitpun dan berusaha melunak dengan Dodo.


Selama ini Dodo tidak pernah mengecewakannya, dan selama itu pula Dodo tidak pernah mengkhianatinya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menjadi istri yang baik.


"Iya sayang boleh, ajak aja mereka ke dalam, nanti aku masuk ke kamar. Aku tunggu kamu selalu."


"Terimakasih Non."


.

__ADS_1


.


.


Di depan teras sana, saat Toyib menjadi bulan-bulanan yang lain karena membocorkan rahasia bahwa mereka belumlah makan, Toyib hanya berdiam diri sambil tersenyum. Seperti bukan dirinya yang selalu mengeluarkan pembelaan menohok. Kalau bukan bikin kesal, ya paling bikin dongkol.


"Ayo, kalian masuk. Semua sudah siap." Dodo mempersilahkan.


"Do, tidak usah repot-repot. Kita memang sudah makan kok." Kali ini Rohim yang berbicara mewakili tiga kepala, iya tiga, tidak mewakili Toyib.


"Teman, hehe. Ngakunya saja teman tapi tidak mau berbagi rasa. Ngakunya saja teman tapi tidak mau jujur."


Deg.. untuk pertama kalinya Toyib bicara serius.


"Apa kalian pikir Dodo enak di bohongin kalian dengan bilang yang tidak sebenarnya. Dodo malah senang kalau kalian benar-benar anggap dia teman, mau berbagi rasa suka maupun duka. Bukan kaya begini, saling canggung, kaya sama orang lain saja. Do, sebenarnya mereka belum pada makan."


Semua terdiam, kecuali Dodo. Lelaki itu memberikan tanggapan atas penuturan Toyib.


"Benar apa yang di katakan Toyib. Dia banyak belajar tentang arti kejujuran. Ayo ah masuk keburu dingin makanannya."


Dengan langkah gontai membawa serpihan keterkejutan, kawanan Dodo masuk mengikuti langkah sang tuan rumah.


Mereka makan dalam hening, tiga kepala saling melirikan mata membahas ada apa dengan Toyib, orang yang selalu berbicara asal kini telah menyadarkan tentang kejujuran.


Di piring mereka, hanya Dodo yang makan dengan porsi sangat sedikit. Hal ini tentu menjadi perhatian temannya, apakah dia sakit hingga tidak berselera makan?

__ADS_1


"Do, kok lu makan sedikit banget sih? kaya porsi balita." Kata Jamal pada Dodo.


"Ini porsi setengah saya, soalnya saya mau menemani istri makan juga nanti. Biar tidak terlalu kenyang." Jawab Dodo dengan jujur.


"Kenapa gak bareng sama kita aja makannya?" Tanya Rohim. Sebelum jawab Dodo tersenyum dulu.


"Istri saya kalau makan terlihat gemas, saya tidak rela berbagi kegemasan itu sama orang lain."


"Budak cinta." Kompak mereka berkata seperti itu dan hanya di tanggapi gelak kecil oleh Dodo.


"Bilang aja mau nyuapin istri tapi gak boleh dilihat sama kita hehe." Toyib menimpali.


"Cihuuy pokoknya." Lanjut To'ing.


"Entah kenapa kebiasaan itu membuat saya bahagia." Ucap Dodo sambil berkhayal apa yang dituduhkan kepadanya. Tanpa disadari, ada hati yang tersentuh di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.


Hari ini aku tidak salah mengambil keputusan, Terimakasih sayang, terimakasih My Dodo, kamu mencintaiku sampai sedalam ini.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2