Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Ragu


__ADS_3

Sore hari yang terasa dingin.


Awal kisah baru akan segera dimulai. Jesslyn memantapkan hati untuk teguh pada rencana awal. Walaupun bayangan Dodo selalu melintas di benak, Jesslyn selalu menepis itu. Rasa dendamnya telah mengalahkan rasa yang aneh muncul belakangan ini. Karena cinta tidak akan mendarat sempurna di atas hati yang penuh dendam.


Mobil Jesslyn sudah memasuki pekarangan, pertanda kisah akan segera terkuak. Lagi dan lagi Jesslyn dihadapkan oleh pemandangan yang menyayat hati, pemandangan bu Unah dan Dodo yang tersenyum merekah.


"Neng, ntar ke rumah ya."


Jesslyn menutup pintu mobil


"Ada apa emang mak?"


"Cuma minta pendapat, Emak beli baju soalnya hehe."


"Oh yaudah nanti saya kesitu, tapi mau mandi dulu."


"Iya neng emak tunggu ya "


"Iya Mak."


Dodo lantas menjalankan rutinitas setiap sorenya, memarkirkan mobil Jesslyn yang berhenti sembarang. Ragu, beberapa kali Dodo ingin menemui Jesslyn hingga istrinya itu menyadari ada yang ingin dikatakan Dodo.


"Bilang aja, ada apa?"


"Non mau ke rumah emak ya? tidak apa-apa tadinya saya mau ngajak non ke suatu tempat, tapi sepertinya emak lebih membutuhkan pendapat non."


Jesslyn tampak berfikir penuh pertimbangan.


"Setelah dari rumah emak, aku bisa ikut denganmu."


"Baiklah, terimakasih non."


"Iya sama-sama Do."


Jesslyn segera mengubah jadwal yang sebenarnya dia ragu jika sore ini memberi kejutan pada Erma. mengulur waktu hingga malam hari mungkin lebih memperbaiki perasaanya.

__ADS_1


^^^"Bram"^^^


"iya Bu, saya sudah dijalan sedikit lagi sampai"


^^^"jangan sekarang, nanti malam saja. aku ada urusan."^^^


"Baik Bu"


*Haduh* *Jesslyn ada apa sih sama kamu hah. harusnya kamu senang bisa mengakhiri semua ini. tapi apa? kamu malah gelisah gak karuan begini . Ada yang ditakutkan, apa yang kamu takutkan coba, sadar Jess. Erma sebentar lagi akan menanggung akibat perbuatannya*. batin jesslyn


Jesslyn mencoba menguasai hatinya yang bertolak dengan ambisi. Menarik nafas dalam dan membuangnya ke sembarang arah, bersamaan itu Bu Unah memanggil dirinya.


"Iya Mak, sebentar ya masuk aja sini."


Jesslyn mempersilahkan Bu Unah untuk masuk membawa gembolannnya. Rasanya Bu Unah sudah tidak sabar menunggu Jesslyn di rumah.


"Maaf ya neng. Sudah mandinya?"


"Sudah mak, baru aja selesai pakai baju. Nih lagi mau sisiran."


hah


Jesslyn menurut saja seperti terhipnotis. Dia duduk di depan Bu Unah dan memberikan sisir.


"Dulu emak punya anak perempuan, anak pertama tapi udah meninggal semenjak bayi." Bu Unah bercerita sambil menyisir rambut Jesslyn. Membayangkan jika menantunya ini adalah anak perempuannya.


"Sakit?"


"Iya, jaman dulu kan gak kaya sekarang banyak klinik. Ada juga jauh."


"Ini neng rambutnya cakep banget ya" sambung Bu Unah lagi terpukau.


"Hehe bisa aja emak"


Keakraban menantu dan sang mertua begitu hangat, Jesslyn tampak begitu bahagia bercanda dengan Bu unah dengan selera humor yang tinggi. Di tambah lagi Bu unah adalah tipe orang yang tidak baperan. Di kata sebagai bahan lelucon juga bagen bagen aja.

__ADS_1


"Tuh neng emak beli baju banyak banget ya."


Bu Unah mencocokkan satu persatu bajunya di badan, meminta pendapat Jesslyn pantas atau tidak. Jesslyn antusias dia tidak pernah seperti ini dengan sosok figur seorang ibu. Jesslyn mengomentari dengan sangat objektif.


Dan pada akhirnya


"Neng, emak juga beliin buat neng. Tapi emak gak tau neng suka apa enggak. Nih liat dah."


Bu Unah menunjukkan dress hitam dengan panjang di bawah lutut. Simple namun elegan. jesslyn tak percaya ini


"So sweet banget sih emak. Mana pas banget di saya. Terimakasih ya mak, saya suka."


*S*uka sama ketulusan emak. batin jesslyn lirih


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.bersambung...


__ADS_2