Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Seperti mimpi


__ADS_3

"Neng bagaimana kabarnya?" Bu Unah membelai rambut menantunya lalu mengusap-usap punggung. Mereka berbincang sambil berjalan menuju kamar pak Dirga.


"Baik Mak, emak sendiri bagaimana kesehatannya? Jesslyn kangen emak."


"Alhamdulillah, emak udah sehat. Jangan pernah ngerasa sendiri ya neng, ada emak disini, dan jangan tinggalin emak lagi ya."


"Iya Mak."


"Emak sih sebenarnya gak maksa buat neng tinggal dekat emak lagi, lagian kasihan juga papahnya neng sendirian di rumah. Emak cuma berharap rumah tangga anak pada rukun, neng Jesslyn juga jangan lupa main kesana tengokin emak." sambil mengapit lengan sang menantu.


"Iya Mak, Jesslyn akan kembali kesana kok, tapi tidak sekarang. Maaf ya, maafkan keegoisan Jesslyn." lirih, Jesslyn bersandar di bahu Bu Unah.


"Iya, gak kenapa-kenapa neng. Maafin keluarga emak ya sudah bikin neng menderita." Maksud hati Bu Unah mewakili keluarga meminta maaf atas kejadian Erma. Walaupun mereka tidak tahu, walaupun mereka juga di bohongi, yang namanya keluarga pasti ada rasa tanggung jawab sesuai peranannya masing-masing.


"Emak gak salah, keluarga juga tidak salah. Yang salah Erma dan juga Jesslyn."


"Memangnya kenapa neng Jesslyn salah?"


"Maaf Mak, Jesslyn sudah mempermainkan pernikahan hanya untuk melancarkan balas dendam. Padahal, bisa saja saya mengungkap fakta kejahatan Erma tanpa harus menikahi Dodo yang tidak ada sangkut pautnya."


"Entah kenapa ide muncul setelah mengetahui Dodo yang bekerja dengan saya adalah adik ipar Erma. Pikir saya ini lah ide bagus agar saya bisa dekat mengawasinya dan mencari bukti."

__ADS_1


"Neng Jesslyn bos nya Dodo di tempat kerja?"


Jesslyn mengangguk, dilihat dari pertanyaan Bu Unah, sepertinya pihak keluarga belum mengetahui jika Jesslyn adalah bos di tempat Dodo bekerja.


"Iya Mak, Jesslyn parah ya Mak, tukang bohong."


Bu Unah tidak menggubris, dia sedikit shock namun dapat menguasai. Seutas senyum kecil terlihat untuk menutupinya.


..........


Setelah pertemuan dua keluarga yang berbeda dalam bentuk perhatian terhadap orang yang sedang mengalami musibah sakit, sudah saat nya mereka kembali pada aktifitas masing-masing.


Satu pelajaran dapat dipetik dari pertemuan mereka, berdamai dengan keadaan memang lebih baik daripada lari dari kenyataan. Apa yang ditakutkan Jesslyn benar-benar menghilang. Kelegaan hati Bu Unah pun sudah dapat di raih.


Sejenak terlintas dibenak apa yang telah dilakukannya hari ini sangatlah salah, bagaimana bisa dia esok hari menjelaskan kejadian yang sebenar-benarnya pada Jesslyn. Berbohong pun tak mungkin.


Bukan hanya satu alasan kenapa dia harus berfikir ulang untuk mengubur perasaanya, alasan melihat ikatan menantu dan sang ibu mertua yang begitu jarang terjadi. Tapi ini adalah alasan yang kesekian, setelah rentetan peristiwa dan bukti menjelaskan bahwa Dodo memanglah mempunyai niatan tulus, bukan hanya soal harta.


Bram mengeluarkan ponsel lalu menelpon Dara yang sedang di dalam rumahnya.


"Kamu sudah tidur?"

__ADS_1


Hah demi apa ini, Bram menelpon ku hanya untuk menanyakan sudah tidur apa belum? biasanya ada masalah segawat apapun dia tidak pernah menghubungiku kalau bukan tentang Jesslyn.


"Dara.." Bram memastikan karena tidak ada jawaban dari tadi.


"Eh iya Bram, aku belum tidur. Kalau aku sudah tidur aku tidak mengangkat teleponmu."


Iya juga ya, kenapa aku jadi bodoh begini.


"Dar, aku lagi di depan rumahmu. Kalau kamu mau temuin aku, bukain pintunya. Tapi kalau kamu tidak mau, abaikan saja."


"Bram, aku lagi gak mimpi kan?"


"Gak dara, kamu gak mimpi, kamu kan belum tidur."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2