Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Dodo sakit, gak kuat menahan rindu


__ADS_3

"Sayang, tumben kamu belum bangun. Biasanya kamu duluan yang bangunin aku, bikin sarapan dan segala macamnya." ujar Jesslyn mendapati suaminya masih tergolek di kasur.


"Hemm, iya non maaf." membuka mata perlahan.


*K*epala saya pusing sekali, badan juga pada sakit semua.


"Ya ampun sayang, badan kamu panas." Jesslyn panik, tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadi istri siaga.


"Kita ke rumah sakit ya sayang." Jesslyn berlari keluar kamar untuk mempersiapkan semua. Dia juga ingin memberikan kabar ini pada Pak Dirga.


"Non, jangan. Bantu saya minum obat penurun panas saja ya."


"Iya sayang, Sebentar ya."


Sepuluh menit kemudian. Jesslyn sudah kembali dengan membawa baskom kompresan.


"Sebelum minum obat kamu harus makan dulu, tapi buburnya sedang dipersiapkan. Sambil menunggu aku mau kompres kamu dulu."


Jesslyn memeras handuk kecil, menilap dengan rapi dengan ukuran sesuai lalu menempelkannya di kening Dodo. Saat menaruhnya, tangan Jesslyn langsung di sergap.


"Sini non, saya kasih tahu cara mengobati sakitnya." Dodo memperagakan tutorial cara menyembuhkan sakit yang di deritanya. Dia memindahkan tangan Jesslyn hasil penyergapan tadi di atas d*danya.


"Sayang emang kaya gini bisa nyembuhin sakitnya kamu?"

__ADS_1


"bisa non, saya sakit seperti ini karena menahan rindu."


Ecie..cie..cie..cie..


Hidungnya kembang kempis menahan debaran jantungnya, wajahnya memanas tapi bukan demam. Jesslyn senyam senyum sendiri.


Sayangnya Dodo tidak melihat pemandangan di depannya, matanya terpejam dengan terus menggenggam erat tangan Jesslyn. Seperti membenarkan bahwa pernyataannya tadi bukanlah bualan semata.


"Sayang, buburnya sudah matang. Aku suapin ya." Sudah lagi mengaduk hingga buburnya di rasa tidak sepanas tadi.


"Iya non." membetulkan posisi tubuh dengan setengah duduk, lalu dia menatap lekat jesslyn yang akan menyuapinya. Wajah ramah senyum itu ada lagi memanjakan mata, walau terdapat guratan meringis menahan pusing.


Suapan pertama sudah masuk dengan lancar, mengunyah bubur yang memang sudah halus sambil terus memperhatikan sang istri. Tangannya mulai mencoba mengelus pipi orang yang sedang menyuapinya, membuat Jesslyn tidak sanggup jika harus berlama-lama dalam posisi ini.


*K*alau begini caranya, bisa-bisa aku terkena demam cinta juga hehehe.


"Tidak, mana bisa aku kerja sedangkan suami lagi sakit disini."


Mendengar itu membuat hati Dodo begitu tentram, tidak ada keraguan lagi atas pernikahannya. Semua berjalan baik-baik saja sesuai harapan, rumah tangga yang di dalamnya dipenuhi kasih sayang.


Bukan lagi pipi yang di usap, sudah berpindah membelai rambut indah Jesslyn sambil bergumam.


"Non sekarang sudah sayang sama saya ya. saya senang non bisa perhatian seperti ini."

__ADS_1


"Iya" malu, lalu menundukan kepala.


Dodo meraih dagunya, "tatap wajah saya non, jangan nunduk. Saya pengen lihat terus wajah non."


*D*o aku gak sanggup, kamu kaya pangeran di negeri dongeng tau gak.


Perlahan Jesslyn mulai menegakan wajah, menyuapi buburnya hingga tandas. Mereka hanya beradegan makan bubur sambil berpandangan cukup lama.


Ponsel Dodo bergetar.


"Sayang kamu kenapa sih kalau jauh dari aku hp nya gak bisa di hubungi. kamu punya hp tidak berguna sekali. sengaja ya kaya gitu? biar bisa di kangenin. cih" setelah melihat ponsel Dodo bergetar Jesslyn langsung mencibir.


Dodo tertawa kecil mendapat cibiran istrinya, baginya, Jesslyn sedang merajuk pertanda rasa sayang yang begitu besar dan juga sangat menggemaskan.


"Maaf ya non, sini saya mendekat saya jelaskan kenapa saya tidak bias di hubungi."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2