Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Kondangan dulu


__ADS_3

Pagi menyambut lagi, setiap harinya menjalani rutinitas seperti biasa dari pagi hingga petang. Lalu malamnya bersatu merajut kisah romantisme.


Begitulah kisah sehari-hari yang di jalani pasangan Dodo dan Jesslyn. Walaupun sibuk dengan karir masing-masing, mereka akan selalu menyempatkan waktu untuk quality time. Sempat tidak sempat waktu itu harus di luangkan.


Karena prinsip mereka, kenyamanan pasangan harus di dahulukan di banding uang. Jangan posisi sampai terbalik, demi uang pasangan terabaikan. Padahal tujuan kita mencari uang adalah tercukupinya kebutuhan lalu pasangan merasa bahagia, bukankah begitu?


Tidak terasa waktu itu sudah berjalan satu Minggu lamanya. Dan hari ini Dodo mendapat undangan pernikahan sepupunya yang berada di dekat rumahnya dahulu.


Dia kesana memboyong Jesslyn, sekaligus memperkenalkannya lebih dekat dengan keluarga besar.


"Do, aku sudah cantik belum? Maaf, maksudku sayang."


Dodo yang sedang duduk di tepi ranjang sambil sibuk dengan ponselnya menoleh, "Cantik non" Jawaban yang jujur, memanglah Jesslyn terlihat cantik.


Setelah menjawab pertanyaan Jesslyn, Dodo masih saja memandangi istrinya, ponsel yang tadi sempat menjadi benda akrab kini malah tersisihkan.


Kenapa Dodo malah jadi lihatin aku begini sih. Kan jadi bikin grogi.


Selesai Jesslyn merias wajah dia beranjak untuk berganti pakaian. Sebelumnya, dia menanyakan pendapat kepada sang suami.


"Menurutmu aku pakai baju yang mana?"


"Yang mana saja non, asalkan sopan dan nyaman non pakai."


"Terimakasih."


"Sama-sama non "

__ADS_1


Jesslyn bergumam dalam hati, memang benar Dodo berbicara yang menurut dia pantas dibicarakan. Tidak berlebihan, tidak pula dikurangi. Pantas, saat Jesslyn menuduhnya gombal, Dodo sampai kebingungan.


Menunggu istrinya sedang berganti pakaian, Dodo meraih ponselnya kembali. Meneruskan aktivitas yang sempat tertunda karena sedang memperhatikan istrinya.


..........


Di satu sisi.


Bu Unah sangat mengharapkan kedatangan Dodo untuk memenuhi undangan agar dia bisa melepas rindu. Sambil sibuk menjamu tamu matanya melanglang jauh, hatinya penuh harapan agar anak bungsu dan menantunya datang kesini.


Saat keluarga besar berkumpul, sudah pasti banyak yang menanyakan bagaimana kabar sana-sini, bagaimana mereka menjalani hidup, serta membahas apa yang telah terjadi.


Sebuah acara memang menjadi ajang berkumpulnya saudara dengan penuh cerita.


"Nah tuh mobil siapa bagus banget?"


"Assalamu'alaikum" Ucap Dodo dan Jesslyn berbarengan. Jesslyn celingak-celinguk mendapati warga yang menghadiri undangan membawa beras di dalam wadah.


"Wa'alaikum salam. Eh kedatangan tamu jauh nih. Dodo sama neng Jesslyn. Ayo makan." Sang punya hajat menyambut, sapaan wajib di awal pertemuan adalah mengajak tamu untuk menyantap hidangan.


"Dodo, neng Jesslyn. Akhirnya kalian datang juga. Ayo kita makan dulu." Bu Unah menggandeng lengan menantunya, menariknya jauh dari Dodo. "Akhirnya menantu emak yang blaem-blaem kesini juga."


"Hehe, emak bisa saja. Neng senang bisa ketemu emak, mertua cihuuuy."


"Hahaha" mereka tertawa bersama. Adegan itu menjadi tontonan yang mengandung banyak imbuhan dari para kerabat. Kebanyakan memuji bagaimana kedekatan antara menantu dan mertua yang jarang terjadi.


Walau begitu, tidak jarang juga mulut nakal berkata sebaliknya. Mereka berkata seolah biasa, dan tidak menyadari perkataannya begitu menyakiti.

__ADS_1


Bu Unah dan Jesslyn tidak terlalu menanggapi dengan mulut orang yang seperti itu. Mereka malah tambah asyik dengan urusan makanan.


"Neng, nambah makannya." Sapa pemilik hajat lagi.


"Iya, ini juga masih ada." Jawab Jesslyn, pemilik hajat tersenyum dan berlalu menyapa para tamu undangan yang baru datang.


Lagi-lagi Jesslyn memperhatikan apa yang di bawa oleh para ibu-ibu.


"Mak, saya perhatikan dari tadi setiap tamu undangan wanita yang datang membawa tentengan. Apa itu?"


"Itu isinya beras neng, rata-rata kaum ibu-ibu memang kondangannya pakai itu. Ada juga yang pakai amplop."


"Oh begitu"


Tak sampai disitu, Jesslyn juga memperhatikan keadaan sekitar. Hebohnya dua tamu yang saling menertawakan apa yang telah di perbuat, mereka memasukan kue ke dalam tas masing-masing sambil tergelak kecil.


Ada yang sibuk mengomentari penampilan orang lain, ada juga yang ripuh dengan tangisan anak balitanya. Semua itu tertangkap mata oleh Jesslyn.


Sampai puncaknya, istri Dodo tersebut mendapati To'ing, Jamal, Rohim dan Toyib datang menyerbu Dodo, bos ternak ikan yang mereka rindukan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2