Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Nama Lengkap


__ADS_3

"Sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih pada Bu Jesslyn." Bram bersuara , tidak ada raut kecewa menyajaki wajah pria beralis tebal itu. Bram sangat berbesar hati bahkan cenderung senang dengan apa yang telah ditetapkan untuknya.


"Bram, terimakasih atas kerjasamanya selama ini. Dan maaf atas ini semua"


"Iya Bu, tidak apa-apa. Memang ini sudah seharusnya yang dilakukan. Apakah ada yang bisa saya bantu lagi Bu? Kalau tidak saya permisi."


"Tidak ada Bram, kamu boleh pergi sekarang."


Anggukan kepala menjadi penghormatan terakhir untuk Jesslyn. Setelahnya, lelaki yang bernama Bram pergi menyambangi ruangan yang telah menemaninya cukup lama. Dia pandangi seluruh sudut ruangan bahkan barang yang tertata rapi seolah sedang menatapnya pilu.


Akhirnya aku bisa berada, dimana aku terlepas dengan Jesslyn. Semoga kalian bahagia, dan semoga kami juga bahagia.


Lama Bram berdiri memilah apa yang akan dia bawa dari sini. Barangnya terhitung sedikit seukuran orang yang telah menempati lama sejak awal. Hanya satu yang menjadi perhatian, sebuah buku tebal di laci dengan hanya memandanginya saja membuat Bram meringis.


Selain buku itu dan surat mutasinya yang mengintip di balik jas, Bram tidak membawa apapun bersamanya. Tidak ada adegan membereskan ruangan kerja yang akan ditinggalkan dengan sebuah kardus, tidak seperti itu bagi lelaki yang pernah patah hati yang saat ini sedang menyesap rokok di gazebo belakang.


Tatapan matanya menyalang pada wanita yang baru saja keluar dengan anggun. Tidak lama setelahnya muncul laki-laki yang sempat dia benci setengah mati, merengkuh lalu menuntun wanitanya.


Demi menghabiskan rokok yang sudah terbakar setengah, Bram merogoh saku untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Dara. Bagaimanapun yang dia punya saat ini adalah gadis itu.


"Pak Bram"


Suara yang ia kenal dengan baik menyapa, Bram mendongak sudah ada Dodo berdiri dengan senyuman.


"Pak Dodo" Panggil Bram setengah terkejut.


"Tidak usah pakai pak, Dodo saja." Pintanya. "Kalau begitu, panggil saya juga tidak pakai pak, Bram saja." Bram tidak mau kalah.

__ADS_1


"Baiklah, Bram.. Oh iya maaf jika saya mengganggu waktunya, saya cuma mau menyampaikan terimakasih sudah menyelamatkan istri saya dari jatuhnya benda."


"Oh itu, iya Do.. sama-sama. Jangan lupa, Minggu ini hadir ke pernikahan saya."


"Insyaallah saya datang."


Senyum Bram mengembang, ada kelegaan bisa berbicara sesantai ini dengan mantan cleaning service yang dulu dia hina. "Do, saya boleh minta sesuatu? itu juga kalau kamu tidak keberatan."


"Memangnya apa yang bisa saya bantu?"


"Do, saya ingin peluk kamu, boleh kan?" Katanya di bubuhi cengengesan, antara canggung dan malu Bram mengibas jasnya demi mengusir serpihan debu rokok yang menempel. Sudah percaya diri bahwa Dodo mau di peluk olehnya.


"Boleh" Dodo merentangkan tangan menyambut tubuh Bram.


Idih, main peluk-pelukan. Mampuss kau Bram, jatuh cinta sama Dodo kan. Batin Jesslyn yang memerhatikan dari kejauhan. Alih-alih bersimpati dengan keadaan Bram yang telah membantunya banyak hal, wanita itu malah sibuk sumpah serapah menertawakan sebuah karma Bram kepada Suaminya.


"Tuh kan, hahaha" Jesslyn tergelak menyaksikan Bram mengacungkan kelingkingnya minta di kaitkan.


"Do, kita baikan ya." kelingkingnya masih tergantung di udara. Selang dua detik kelingking itu sudah bertautan "Memangnya kapan kita tidak baik-baik saja?" jawab Dodo berupa pertanyaan.


"Memangnya kapan kita baik-baik saja?" Jawab Bram tidak pernah mau kalah. Dodo menangkap sinyal lelaki di hadapannya memiliki kemiripan sifat dengan Jesslyn. Bagaimana jika mereka benar-benar dipersatukan oleh semesta? akan apa jadinya nanti.


...........


Istirahat sejenak dari cerita cinta segitiga yang tidak akan berujung jika tidak ada pilihan untuk menjauhi salah satunya.


Jesslyn telah selesai menunaikan kewajibannya, sementara Dodo sudah terbaring di kasur dengan ponsel yang menemani, Jesslyn masih memakai mukena berkeliaran sampai depan rumah bersenda gurau dengan sang ibu mertua.

__ADS_1


Sadar kesayangannya keluyuran malam-malam, Dodo memanggil dengan cara tidak biasa, dia ingat dengan petuah Bang Dani yang memenuhi memori kepala. Tidak ada salahnya untuk mencobanya hari ini.


"Jesslyn Andara.." Seru Dodo


Yang di panggil masih sibuk menanyakan apa itu banggle. Jesslyn bertanya-tanya pada mertuanya fungsi gunting kecil, banggle dan juga sapu lidi aren. Apa hubungannya dari ketiga benda itu.


"Jesslyn Andara.." memanggil sekali lagi dengan jarak yang lebih dekat. Jesslyn mematung dengan mata yang membulat, itu berarti dirinya telah mendengar panggilan suaminya.


Jesslyn mendekati sumber suara, mencegah sang suami menemuinya di depan Bu Unah dan Pak Nata. Sebab wanita ini akan menyeret suaminya ke kamar lalu melayangkan protes besar-besaran.


"Apa tadi kamu bilang?" Jesslyn berkacak pinggang dengan mukena yang masih dikenakan.


"Jesslyn Andara.." Kata Dodo sekali lagi.


"Jangan sebut itu lagi, aku tidak suka di panggil nama lengkap. Kamu memang sudah bosan memanggilku Non, tidak bisakah kamu panggil aku sayang saja hah. Kalau tidak bisa akan kupukuli kamu seperti ini." Jesslyn memukuli Dodo dengan manja.


Jadi benar apa kata Bang Dani, istri tidak suka di panggil nama lengkap oleh suaminya.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2