Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Tetangga usil


__ADS_3

"Bram, kamu sudah menyiapkan hadiahnya?"


"Sudah Bu, ini" Bram menyodorkan sekotak hadiah yang di tata cantik dengan pita seperti kupu-kupu. Warnanya pun bagai hadiah yang akan diberikan kepada seorang kekasih.


"Bagus. Bagaimana dengan bukti?"


"Bukti sudah di tangan, tinggal menunggu waktu yang tepat."


"Kamu yakin Bram?"


"Yakin Bu."


"Terimakasih Bram."


"Sama-sama Bu, memang sudah kewajiban saya." Jesslyn yang mendengarnya sedikit menaikan alis.


...........


Di rumah Erma.


"Jesslyn terimakasih, teteh senang banget dapat hadiah sebagus ini. Chandra saja belum pernah ngasih kado kaya gini saat teteh ulang tahun."


Erma tertegun, langsung mencoba hadiah dari jesslyn berupa kalung emas nan cantik.


"ih cakep banget kan."


Erma berlenggak-lenggok di depan cermin. Berasa ingin mengumumkan pada khalayak umum bahwa ia menerima hadiah dari Jesslyn.


Padahal Jesslyn sudah berpesan agar disimpan sebagai cerita tersendiri. Jesslyn khawatir kabar tersebut akan menimbulkan kesenjangan sosial.


"Aku pamit pulang dulu. Semoga bermanfaat hadiahnya." Jesslyn sudah berdiri dan hendak pulang ke rumah.


"Sekali lagi terimakasih ya Jesslyn, kamu memang the best pokoknya. Teteh janji gak akan bilang siapa-siapa." Erma memeluk Jesslyn.


"Iya teh."


Jesslyn berlalu, di tengah perjalanan dia menengok ke arah warung Bu Unah. Ternyata ibu mertuanya sedang merapikan belanjaan.


*B*ukannya emak sakit ya.


"Assalamualaikum Mak."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Eh neng abis darimana?"


"Dari rumah teh Erma. Emak bukannya lagi gak enak badan ya? kok sudah buka warung?"


"Emak sudah mendingan, kemarin gulanya lagi tinggi aja. Lagian kalau emak terus tiduran malah gak enak nih badan."


"Oh gitu. Tapi jangan terlalu capek ya Mak."


"Iya neng, oh ya neng udah makan belum?"


"Belum Mak, nih mau makan bareng aa Dodo."


"Emak punya pecak oncom, cobain dah."


*A*pa tuh


Bu Unah langsung tergesa memasuki rumah, mengambil makanan yang akan di tunjukan untuk Jesslyn. Seperti sedang ingin menunjukan sebuah prestasi, Bu Unah sumringah ingin cepat menunjukannya.


Jesslyn tersentuh, merasakan kasih sayang Bu unah yang tulus. Walaupun badan kurang fit, tetap bisa memasak dan berbagi makanan untuk anak dan menantunya.


Rasa rindu kepada mendiang ibunya terasa menyeruak.


.........


Dengan bangga dia menceritakan bagaimana cara membuat, serta rasanya yang unik ketika kita sedang bosan makanan cepat saji. Bosan makanan lumrah di menu setiap harinya.


"Gimana neng? enak ya? kata emak si gurih. hehe" Bu Unah bersemangat.


Jesslyn sedang menghayati rasa.


*G*ila si ini, tampilannya ga meyakinkan. tapi pas di makan enak.


"Enak Mak. saya suka."


"Nih buat neng."


"Emangnya emak udah makan?"


"Udah tenang."


"Terimakasih Mak, saya bawa nih."

__ADS_1


"iya neng."


"Menantu sama mertua akur bangat inih." seru seorang tetangga yang hendak berbelanja. Sebut saja Bu sarnih, yang pernah disebut Erma tempo hari.


"Lah emang harus begitu." jawab Bu Unah.


"Neng Jesslyn udah ngisi belum?"


"Ngisi?" Jesslyn tidak mengerti


"Hamil." Bu Sarnih memperjelas.


"Belum."


"Lah kok belum, lama ya."


"Perkara anak mah tergantung rejeki yang maha kuasa, lagian juga masih muda. nikmatin masa berdua dulu ya neng." Bu Unah membela membuat Jesslyn terenyuh sekaligus menatap tajam Bu Sarnih. Kalau tidak ingat Bu Unah yang memasak sudah dia lempar cobek berisi pecak ke wajah tetangga usil itu.


"Mak jesslyn balik dulu ya."


"Iya neng."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.bersambung...

__ADS_1


__ADS_2