Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Obrolan Bram dengan Jesslyn


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, masalah demi masalah sudah datang silih berganti. Banyak kisah yang tercipta dalam kehidupan manusia, dari yang membuat bahagia hingga yang menyesakkan dada.


Sudah satu pekan Jesslyn tidak memandang wajah suaminya dalam pelukan. Lelaki sederhana yang sangat dia rindukan setiap waktu, kini tengah berjuang dengan pilihan yang sudah di sepakati bersama.


Dodo dipercaya untuk memimpin Manggala corp namun masih dibawah pengawasan Willy, tangan kanan tuan Niko. Kejujuran dan kelurusan hatinya diharapkan oleh nona Rianti mampu mengubah bisnis abu tersebut.


"Do, ada kesulitan?" tanya Rianti saat berkunjung ke manggala.


Dodo menggeleng, pertanda tidak ada yang perlu di khawatirkan. Peraturan Niko untuk tidak berbicara dengan pujaan hatinya sudah tercatat secara resmi. Sampai Dodo melanggarnya, Jesslyn pun tidak akan selamat.


*D*o aku gak nyangka, ternyata aku sudah melibatkan mu terlalu jauh. Yang awalnya aku hanya ingin menempatkan kemampuanmu di tempat seharusnya. Rianti.


Di sela kesibukannya, Dodo tidak pernah ingkar janji. Dia selalu menyempatkan untuk memasak makanan Jesslyn. Setiap harinya diantar oleh utusan terpercaya Dodo, yang tak lain adalah Iyan, kakak laki-lakinya.


Dalam kotak makanan tersebut, selalu terselip kata penyemangat, puisi, bahkan stiker lucu yang dapat membuat Jesslyn tersenyum. Tapi tetap saja, seperti ada yang hilang.


Segudang hal yang harus dodo pelajari sangat menyita perhatian dan waktu.


.........


"Bu"

__ADS_1


"Ada apa Bram?"


"Bisakah saya sekarang berbicara di luar pekerjaan?" Jesslyn melirik jam tangan sebentar.


"Apa?"


"Dodo hilang bak di telan bumi, setelah Bu Jesslyn sudah sangat menyayanginya. apakah itu yang dinamakan lelaki baik?"


Berkas yang sedang ditangan di jatuhkan. Jesslyn memejamkan mata dan memijat sedikit pelipis.


"Saya tidak bisa jawab pertanyaan itu Bram."


"Sampai saat ini saya belum menemukan bukti bahwa dia benar-benar menyayangi Bu Jesslyn. Jangan salahkan saya jika saya mengambil tindakan."


"Maksudnya?"


"Dara suka sama kamu, emang gak sadar sama perhatiannya dia? gak sadar juga perhatiannya di balas dengan acuh olehmu? kalau begitu apa bedanya kamu sama yang kau tuduhkan pada Dodo."


"Jika Dodo kamu anggap sudah salah karena dia pergi dan menyia-nyiakan wanita yang disayangi, bagaimana dengan kisah kamu dan Dara Bram?"


Bram membeku, bahkan dia baru tahu jika dara menyukainya. Gadis yang selalu perhatian walau tidak pernah terbalas.

__ADS_1


"Bu Jesslyn jangan salah paham." Bram berkelit walau dia juga ragu untuk mengatakannya.


"Salah paham? kamu yang telah salah paham Bram. Sudahlah, saya mau pulang."


Bram beranjak dari tempatnya berdiri untuk mengikuti Jesslyn, baru saja melangkah Jesslyn berhenti. "saya mau pulang sendiri."


"Tapi Bu?"


"Bram kamu membantah? kamu sudah bosan bekerja disini?"


"Tidak Bu, maafkan saya."


"Bram, tahu gak? Dodo tidak pernah mengeluh tentangmu walau aku tahu kamu menghinanya. Tapi kamu selalu mencelanya, seperti saat ini, walau aku dan kamu tahu kalau dia tidak pernah mencari gara-gara denganmu. Coba kamu pikirkan dan renungkan, siapa yang tidak baik." Jesslyn mengulur waktu untuk mengucapkan kalimat ini sebagai dasar pemikiran Bram, lalu dia beranjak pergi dengan wajah lusuhnya.


Bram putus asa membiarkan Jesslyn pulang seorang diri. Kata-kata Jesslyn sangat mengganggu pikirannya, benarkah Bram menjadi jahat dengan lidahnya hanya karena ambisi.


Hatinya yang beku dan bersawang kini tersapu dengan ucapan Jesslyn barusan, sedikit demi sedikit terketuk oleh kebenaran yang selalu dia pikirkan. Dodo tidak pernah mencelanya ataupun mencari masalah, sebaliknya, dia selalu tersenyum ramah dan memilih menghindar jika Bram sedang memancing emosi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2