
Jesslyn memeriksa saldo ATM Dodo melalui m-banking. Dodo yang percaya dengan bos nya itu tak hanya memberi kartu ATM saja tapi ke aplikasinya juga.
Saldo masuk menunjukan angka lima juta rupiah, angka yang tidak banyak untuk jesslyn namun sangat tidak mungkin untuk Dodo. Gajinya tak sampai lebih dari lima juta itu pun sudah habis dia pakai , darimana lagi dia.
Jesslyn berasumsi Dodo memiliki tabungan, dan jika pernikahan ini berlangsung lama maka tabungan Dodo akan habis terkuras. Jesslyn mulai memikirkan hal ini dan tidak bertindak gegabah lagi. dia tidak mau di cap sebagai pemorot harta orang.
Biarlah kejadian kemarin menjadi pelajaran, yang awal niatnya hanya untuk mengerjai, tidak disangka ada hal yang tak terduga terjadi.
"Bram, bagaimana perkembangan penyelidikanmu?"
"Masih belum menemukan titik tering belum ada bukti yang kuat untuk mengarah kepadanya. saya akan terus berusaha."
"Aku percayakan padamu. dan jangan terlalu lama"
"Baik Bu."
Bram keluar ruangan dan menjalankan tugas yang belum selesai. Tidak lama Dodo mengetuk pintu mohon ijin untuk membersihkan ruangan direktur.
Jesslyn mengijinkan, Dodo menjalankan tugas sebagaimana mestinya dan tak pernah berubah. selalu hafal desain interior dan letak pembersihan yang jesslyn inginkan.
Jesslyn bukannya menatap layar laptop dan memeriksa pekerjaan, melainkan memperhatikan Dodo yang sedang bekerja.
*T*ernyata begini rasanya, ruang kerja di bersihkan cleaning service, tapi petugasnya adalah suami sendiri.
Jesslyn mengacak rambut frustasi, membuang nafas kasar dan mencoba menstabilkan detakan jantungnya.
"Sudah selesai Bu, apa ada yang bisa di bantu lagi? atau ibu mau dibuatkan kopi?" tawaran Dodo melihat raut jesslyn yang begitu kusut.
"Tidak, terimakasih"
"Kalau begitu, saya permisi" Dodo keluar ruangan membawa alat kebersihannya. lagi-lagi jesslyn mengintip lewat ekor mata.
*B*agaimana bisa seorang cleaning service mempunyai ART di rumahnya. huhh jesslyn sepertinya kau sudah gila.
__ADS_1
Jesslyn geli sendiri dengan pikirannya sampai membuat mulutnya tak berhenti tertawa kecil. cuma Dodo yang bisa membuatnya seperti ini.
Sedangkan Dodo tidak tahu menahu kalau dirinya telah membuat banyak tawa pada Jesslyn.
"Sadar jesslyn, sadarlah.. tujuanmu bukan itu." Menepuk pipinya berulang agar sadar. mulutnya sudah kembali lagi ke mode cool. Lima menit kemudian garis ujung bibirnya sudah meninggi lagi. Untung saja hanya dia seorang yang berada di ruangan.
Jika dalam kesendirian jesslyn sulit mengendalikan pikirannya yang terus menayangkan seperti sebuah trailer. peristiwa Dodo tersenyum lalu menunduk dan tak berani menatap, peristiwa Dodo memberikan ATM nya yang notabene jesslyn adalah bosnya di tempat kerja, peristiwa jika jesslyn pura-pura marah wajah Dodo langsung pias, dan seorang cleaning service di rumahnya memiliki ART.
Jika jesslyn lebih teliti, yang lebih patut ditertawai lagi adalah dirinya sendiri.
.........
Di warung Bu Unah.
Bu unah sedang memilah cabai yang sudah busuk untuk di semai di belakang rumah. datanglah gerobag buah beserta tukangnya.
Toret..toret..
"Eh copot.." Bu Unah kaget.
"Hah"
"Semingki.."
"Semangka nek." jelas anak kecil yang sedang memilih jajanan.
"Idi ipil imi inggir nih, pising jigi idi."
"Apa kata dia?" Bu unah menanyakan lagi pada anak kecil itu.
"Ada apel Ama anggur, pisang juga ada. itu bahasa gaul nek huruf vokalnya di ganti 'i' semua."
"Ya ampun, emang bagen udah tua ngomongnya begitu?"
__ADS_1
"Hahaha, beli kagak nih. banyak banget buahnya tuh mana cakep-cakep bangat."
"Gua beli pisang Ama anggur dah."
"Kemaren Erma juga borong pisang Ama anggur juga. tapi belom di bayar."
"Yaudah sekalian itung, gua yang bayar."
"Ok siap, beres Ama bi Unah mah hehe"
"Jadi berapa ini nek?" anak kecil hendak membayar sambil menunjukan jajanan pilihannya.
"Jadi dua ribu."
*L*emes banget ya badan gua rasanya. batin Bu Unah
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.bersambung ...