Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Akhirnya...


__ADS_3

Masih dengan dialog hati yang ingin di cegah, Jesslyn melangkah ragu hingga sampai depan kamarnya. Belum juga ada tanda-tanda bahwa Dodo akan datang.


Pupuslah harapan Jesslyn untuk bertemunya hari ini. Dia terus saja melihat ponsel yang tidak ada notif pesan masuk sama sekali apalagi dengan panggilan. Jangan harap.


Jangan berharap Jesslyn, santai saja. semakin kamu berharap semakin kamu tersiksa. Jesslyn perang batin, tapi tetap saja hatinya mellow. Dia membaringkan tubuh di kasur.


Air mata sudah turun, di sela kegalauan nya pintu pun terketuk oleh seseorang.


*I*tu pasti Dodo.


Ceklek... pintu terbuka. Pak Dirga ada di baliknya.


"Papah, ada apa? aku lagi galau, nanti saja ngajak bercandanya." Seru Jesslyn yang ingin melanjutkan tangisannya lagi. Tangisan di malam hari karena terlalu merindukan seseorang.


"Sayang, galaunya jangan lama-lama ya." Suara Pak Dirga beriringan dengan suara pintu yang tertutup.


"Iya pah tenang saja."


Tok..tok.. tok..


"Ada apalagi pah..." teriak Jesslyn, tapi tidak ada sahutan, terus saja suara ketukan masih terdengar. Jesslyn meradang, ganggu saja tidak tahu apa orang lagi galau sedih kaya apa, Jesslyn terus menggerutu dalam hati.


Pintu di buka tidak ada orang disana.


Astaga, aku baru ingat. Jika berlarut dalam kesedihan yang mendalam atau marah yang tak terkontrol, maka ada makhluk astral yang kasihan pada kita. Aku gak mau itu terjadi. Dodo datanglah sayang..

__ADS_1


Suara ketukan itu terus saja terdengar. Tapi Jesslyn baru menyadari jika ketukan itu bukan dari arah pintu, melainkan jendela. Dengan langkah takut dia mencoba memberanikan diri untuk membuka.


Awalnya Jesslyn menutup mata, takut melihat penampakan nanti. "Ini saya non, bukan penampakan, buka matanya sayang."


Deg, Jesslyn membulatkan mata, wajah tampan yang sangat dirindukan dengan senyuman manis yang mampu menggetarkan hati telah datang. Membawa sebuket bunga lily putih yang sangat cantik. Sama cantiknya dengan Jesslyn.


"Sayang"


"Berhenti non, jangan kesini. Biar saya yang melompat masuk." Dodo segera masuk lewat jendela, seperti seorang kekasih yang sedang menyelinap karena hubungan yang tak direstui orang tua.


"Non Jesslyn, istri saya yang cantik. Kangen suaminya gak?" Dodo merentangkan tangan. Jesslyn malu-malu tapi mau. Dia berhambur memeluk Dodo, setelahnya menepuk-nepuk Dodo karena kesal sudah membuatnya galau merana.


"Pukul terus saya non, memang pantes buat di pukul karena sudah membuat non terjangkit rindu berat." Dodo dengan senang hati menerima pukulan kecil istrinya.


"Iya kamu jahat, bikin orang jadi sesak nafas terus setiap hari. Huhuhu.."


"Non, saya bawa bunga. Semoga non suka."


"Kamu tahu darimana aku suka bunga ini?"


"Saya di rekomendasikan oleh penjaga toko setelah menyebutkan karakteristik non."


"Emang apa yang kamu sebutin sayang?"


"Rahasia. hehe"

__ADS_1


"Dih" Jesslyn mencubit pipi suaminya dengan kedua tangan, dibalas oleh Dodo dengan mengusel hidungnya.


"Sayang kok kamu gak lewat pintu saja sih datangnya? malah lewat jendela udah kaya maling." Tanya Jesslyn penasaran kenapa kejadiannya bisa seperti ini.


"Tadi saya sudah berada di depan pintu kamar, terus ketemu sama papah."


"Terus ini semua ide papah?"


"Iya non, maaf ya saya jadi bikin non takut sampai mengira saya ini penampakan."


"Hahaha"


"Non, bolehkan sekarang saya yang melepaskan rindu pada non?"


"Boleh sayang."


Wajah Dodo semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Tangan kanannya mengusap belakang kepala Jesslyn lalu menariknya hingga hanyut lebih dalam.


"Nafas wahai suamiku." Perintah Jesslyn mengetahui Dodo tersengal.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2