Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Satu kenyataan lagi


__ADS_3

Pagi ini, cahaya matahari tampak terang menyinari belahan bumi. Hangatnya menerobos masuk menelusup lewat celah-celah hingga membuat Jesslyn meringis kesilauan.


Ia bangun, menggerak-gerakan badannya ke kanan dan ke kiri sambil mencari keberadaan Dodo disampingnya. Ruang di sampingnya kosong bukanlah hal yang dapat mengerutkan dahi, sudah biasa seperti itu, yang luar biasa adalah ketika Jesslyn bangun masih mendapati sang suami pada tempatnya.


Setelah nyawanya sudah kumpul, aroma masakan Dodo menyergap hidung lalu membawanya mengikuti alunan sumber masakan. Disana, Dodo sedang mengorak-arik masakan di atas wajan entah menu apa yang akan dia siapkan.


"Kesayangan aa sudah bangun, sebentar ya Non sedikit lagi sudah selesai."


"Iya sayang, tidak usah terburu-buru. Santai saja." Alih-alih membantu suaminya menata makanannya di dalam piring, atau sekedar mengelap sisa cipratan, Jesslyn malah bertopang dagu memandangi keindahan di depannya.


Dodo membalikkan badan, tersenyum madu ke arah istrinya sembari membawa segelas susu hamil dan Avocado toast menu sarapan andalan Jesslyn. "Aku gak mau ini, mana yang kamu orak-arik tadi?" Jesslyn melayangkan protes saat di atas mejanya terhidang bukan menu yang dimasak Dodo di depan matanya.


"Nasi goreng lempuyang? memangnya Non pernah mencobanya?" Dodo khawatir dengan asupan makanan sang istri mengingat dirinya tengah hamil muda. Apalagi rasa nasi goreng lempuyang adalah pahit.


"Kemarikan saja, lihatlah bagaimana aku memakan makanan itu." My Dodo kau tidak tahu saja selama aku disini aku dicekoki makanan ajaib oleh emak. Kalimat barusan tidak betulan terucap, hanya disimpan di dalam benak.


Satu piring nasi goreng lempuyang tandas, di lanjut meneguk segelas susu hangat buatan sang suami. Sekarang giliran lelaki berkaus putih berambut rapi menghabiskan menu sarapan andalan milik Jesslyn.


"Non tidak mual?" Tanya Dodo setelah memperhatikan keadaan Jesslyn tidak seperti orang hamil pada umumnya. Jesslyn menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kata emak aku ngidamnya kebo."


Dodo serta merta membekap mulutnya sendiri lalu terbirit mencari wastafel terdekat. "uuueeekk".


"Sayang.. kamu baik-baik saja?" Jesslyn cemas, ia bangun dari duduknya memijat tengkuk leher suaminya yang sedang membungkuk mengeluarkan isi perut.


"Saya baik-baik saja Non"


..........


Detakan jam terdengar nyaring saat matahari sudah meninggi, seolah benda itu sedang memperingatkan bahwa Dojess sudah saatnya menghadiri pernikahan Bram.


Di luar sana, saat Dodo mempersiapkan mobil dengan Jesslyn berdiri menunggu, Neneng sang wanita pengagum setia Dodo datang. Entah cuma sekadar lewat atau memiliki nyali untuk menyambangi rumah Bu Unah.


"Neng, mau kemana?" Tidak disangka Jesslyn yang malah bertanya pada gadis bernama Neneng , motifnya apa hanya dia dan tuhan yang tahu.


"Mau ke rumah Abang Iyan."


Apa?

__ADS_1


Tidak ada adik Abang pun jadi, setelah kejadian superhero payung yang dilakukan Iyan, terbesit di benak Bu Unah untuk menjodohkan putra keduanya dengan Neneng.


Awalnya, Bu Unah melancarkan serangan cie..cie.. sesering mungkin saat Neneng mampir ke warung, setelah itu mulai membuat cerita bahwa Iyan seolah mendambakan Neneng. Ya, mendambakan karena setiap harinya Iyan bisa seharian Full memandangi foto Neneng di ponselnya. Padahal ya, aslinya Iyan tidak lebih dari menyaksikan pertarungan Naruto dengan Orochimaru.


"Non ayo." Kilah Dodo agar cepat pergi dari situasi dimana akan berjudul calon kakak ipar ku adalah orang yang menyukai suamiku.


"Sebentar sayang, aku hanya memastikan apa yang telah terjadi."


"Apa yang mau Non tahu? biar saya bantu jawab."


"Apa yang terjadi sama pemandangan ini?"


"Mereka akan menikah bulan depan Non."


"Apa!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2