Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pesan Iyan


__ADS_3

Jesslyn dan Bram mendatangi pengadilan. Sebentar lagi pertimbangan hukum yang akan menerpa Erma segera diputuskan. Pihak Erma tidak akan berkelit, karena memang wanita itu harus mempertanggungjawabkan nya.


Pandangan Jesslyn tak lepas dari pintu masuk, berharap akan ada orang yang dinantikan datang kesini menemani. Walaupun dia ragu, lelaki itu akan berpihak padanya atau malah sebaliknya.


Detik persidangan akan dimulai, sosok yang ditunggu pun akhirnya tiba. Dia melangkah ke dalam lalu duduk di samping Jesslyn, menundukan kepala lalu tersenyum.


Bagi Bram, entah kenapa udara menjadi pengap. Aura panas mulai menyelimuti kulit, dia pun bergeser sedikit agar tidak berada diantara elemen api dan angin.


"Suamiku, kamu datang kemari berada di kubu siapa? lihatlah, ada kakakmu disitu." menunjukan arah dimana Chandra duduk.


"Saya disini bukan berada di kubu keluarga saya ataupun non, saya berada di kubu kebenaran. Disini saya harus membela yang memang harus dibela."


Setiap kalimat penuturan Dodo, acap kali terdengar begitu menyejukkan hati. Jika saja sedang berada di rumah, Jesslyn akan merengek kedinginan. Kata dingin susah menjadi password agar Dodo menyentuhnya.


"Oh, gitu ya." matanya berbinar penuh kagum.


"Oh ya non, malam ini ada acara tidak?"


"Memang kenapa?"


"Saya mau ngajak non ke suatu tempat."


"Baiklah." Jesslyn sangat menantikan petualangan bersama Dodo. Berada disisi suaminya sudah cukup membuat Jesslyn begitu nyaman.


"Terimakasih non, sudah mau menyempatkan waktu."


"Ih tidak usah terimakasih, kamu masih kaku aja. Lemesin sayang, lemesin." Jesslyn berkobar.


Wajah kemerahan nampak di pipi Dodo, lelaki itu tersipu karena ucapan istrinya barusan. Dia melirik sebentar ke arah Bram yang tampak datar dengan pandangan lurus ke depan.


Jika saja Bram melirik juga ke arah mereka, Dodo akan menyapanya dengan senyum sopan, bagaimana pun Bram adalah orang dalam posisi tersakiti.


Tidak peduli lelaki itu sudah menghina dirinya, karena sebagai manusia haruslah bersikap baik pada sesama. Haruslah memaafkan tak ada dendam, itulah pedoman hidup yang diajarkan Bu unah pada anak-anaknya. Ibu yang paling luar biasa di mata Dodo.

__ADS_1


Sayangnya, Jesslyn tidak menyerap dengan baik keakraban dirinya dengan sang mertua. Hingga berspekulasi bahwa dirinya tidak pantas berada dihadapan Bu unah. Gadis itu sudah mematahkan hati Bu unah sebagai seorang ibu, pikirnya selama ini. Itulah alasan kenapa jesslyn belum siap untuk kembali.


Padahal kenyataanya, tidaklah demikian.


..........


Senja menjemput,


Kawanan burung berlalu lalang mengikuti rombongan, menjadikan hiasan dalam figura langit yang menguning. Di bawah sana, Bu Unah duduk termenung di warung dengan tatapan kosong, meratapi nasib cucunya yang kini sering menanyakan sang ibu.


Anak itu setiap harinya berada dalam kasih sayang Bu unah, dirawat dengan baik dan juga penuh dedikasi. setiap malam Bu Unah selalu memberi pelajaran berharga tentang kehidupan, terutama tentang kejujuran.


"Assalamu'alaikum"


Belum ada jawaban dari Bu Unah, tampaknya apa yang dipikirkan begitu pelik. Langsung saja Iyan menyambar tangan ibunya untuk dicium.


"Eh copot!" kaget.


"Saya sudah salam, emak malah bengong." saat mendengar jawaban Iyan, Bu unah pun menjawab salamnya.


Tanpa pemberitahuan, Iyan mengambil sikap untuk memijit punggung Bu Unah, barang kali ibunya sedang tidak enak badan. Bu unah pun tidak menolak, membiarkan tangan hangat putranya untuk berbakti.


"Yan."


"Kenapa Mak?"


"Lu kapan kapan kawin?"


Gubrakkk..


Ingin rasanya Iyan menenggelamkan diri di dasar lumpur. Saat orang tuanya menanyakan perihal itu, dia pun tidak tahu bagaimana menjawabnya.


"Memang kenapa Mak?"

__ADS_1


"Gak apa-apa, cuma lu doang anak emak yang belum nikah. Mumpung gua masih sehat gua bisa menyaksikan. Kan kalau lu udah nikah ada yang ngurusin."


"Yan" lanjut lagi.


"Iya Mak."


"Kasihan ya adik lu, rumah tangganya jadi begini. Semoga aja neng Jesslyn balik, bagaimanapun orang tua mah pengennya rumah tangga anak pada rukun."


Iyan meneruskan pijitan, dengan Bu Unah yang terus meracau isi hatinya. Iyan mendengarkan seksama, dengan perasaan yang sedikit teriris. Ibunya berbicara dengan tatapan yang masih kosong. Ajaibnya, Erma tidak ada dalam sebutan.


Iyan mengirimkan pesan.


"Do"


^^^"Iya, ada apa?"^^^


"Bisa gak, bawa istri lu kesini?"


^^^"Sudah di coba, tapi gagal. Tapi saya coba lagi sekarang."^^^


"Iya do."


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2