Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Ada penguntitan


__ADS_3

To'ing beranjak pergi dengan tergesa, jangan cemas adalah pegangan To'ing untuk menyelesaikan perintah Dodo. Dia tidak menyangka akan ada masalah serius menerpa bisnis yang telah menaungi para pemuda kampung ini.


"Jamal, Rohim, Toyib, ayo kita balik ke kolam. Hari ini akan ada penyebaran bibit ikan di kolam baru."


"Jadwalnya di majukan. Jadi kita bergerak sekarang." To'ing menyela perkataan dan membuat para anggota yang sudah mau bertanya merapatkan mulutnya kembali.


Mereka menurut dan langsung pergi dari tempat.


Sementara itu, Dodo masuk ke rumah dan mengunci pintu kembali. Dia menghampiri Jesslyn yang memang sudah berjanji menunggunya di kamar.


Dodo menatap lekat istrinya lalu beralih lagi melihat ponsel. Pikirannya berlarian seperti ada yang dipikirkan matang-matang.


"Sayang ada apa? wajahmu khawatir sekali." Jesslyn mengusap wajah suaminya, lalu memberikan kecup semangat di bibirnya.


"Non"


"Iya sayang"


"Kapan kita akan tinggal disini lagi? ataukah memang kita tidak akan tinggal disini lagi?"


Jesslyn berfikir sebentar, dia pun sebenarnya ingin sekali tinggal disini bersama Dodo. Apalagi disini Jesslyn merasakan kasih sayang ibu yang belum dia dapat. Mengenal Bu Unah adalah sebuah anugerah, pengganti kedinginan yang telah dia lalui.


Tapi


Hubungannya dengan sang ayah juga kian membaik. Dia tidak tega meninggalkan papahnya seorang diri di rumah tanpa adanya seorang anak mendampingi.


Jika di timbang lebih mendalam, Jesslyn lebih memilih untuk tinggal berdekatan dengan keluarga sederhana Dodo. Dia merasakan tulusnya kasih sayang seorang ibu yang di tunjukan oleh Bu Unah.


"Sebenarnya kita akan kembali kesini, tapi aku belum siap untuk sekarang. Papah yang menjadi pertimbanganku sayang. Aneh si, dulu aku bahkan bisa hidup mandiri dan papah juga mengurus dirinya di luar sana. Tapi keadaan kini sudah berbeda."

__ADS_1


"Ada apa kamu menanyakan hal ini? ada yang kamu khawatirkan?"


"Tidak non, hanya bertanya saja. Sebenarnya ini merupakan pertanyaan dari keluarga saya."


"Ayo lanjut non" kalimat pengalihan agar istrinya tidak berlarut dalam pikiran yang bimbang. Dodo melihat teduh wajah Istrinya bergantian dengan ponsel, lalu meletakkannya di atas nakas. Semoga saya bisa, batinnya menguatkan.


"Lanjut apanya?" Jesslyn tertawa, Dia membuka kembali yang sempat di buka Dodo tadi, sepertinya dia menyerahkan diri duluan sebelum di serang musuh.


Siang yang terik berubah menjadi teduh.


..........


Melihat kondisi pasukan Dodo.


Mereka terseok menuju kolam melewati jalan yang tidak biasanya. To'ing selalu melirik ke belakang, menyapu sekitar adakah yang mencurigakan.


Benar, dari tadi dia melihat seseorang berkaus hitam selalu ada dimana pun mereka berjalan.


"Tidak ada apa-apa" To'ing memberikan sinyal bahwa mereka telah di awasi. Jamal mengerti, untungnya Jamal bersifat peka tidak seperti Toyib. Lelaki itu juga mengirimkan kode pada Rohim yang menjadi pemandu bagi Toyib.


"Yib, hari ini bisa gak lu diam saja seharian."


"Emangnya kenapa?"


"Soalnya gua hari ini ulang tahun, terus tiba-tiba keinginan gua pengen hari ini lu diam gak ngomong apa-apa. Bisa gak lu kasih itu buat jadi kado?"


"Boleh, cuma diam doang kan? gampang itu mah, Terimakasih ya him lu minta kado yang gak pake ngeluarin duit hehe."


"Iya sama-sama" Dalam hati Rohim terserah lu dah yang penting aman.

__ADS_1


Mereka meneruskan perjalanan lagi melewati bulak semak-semak. Melewati jalan terjal mendaki, jalan yang tidak pernah dilewati orang sebelumnya.


"Eh him, bulan kemarin lu kan ulang tahun. Lah kok sekarang ulang tahun lagi? emang lu tiap bulan ulang tahun?"


"Tadi gua bilang apa?"


"Diam jangan ngomong apa-apa." Jawab Toyib, dia langsung membekap mulutnya sendiri yang sadar sudah melanggarnya.


Lanjut lagi perjalanan.


To'ing berhenti di tempat yang memang sedang ada proyek penggalian. To'ing dan Jamal berbincang layaknya mereka telah mengenal lama dengan sang kuli proyek. Malah mereka seolah menjadi pemilik proyek tersebut.


Rohim seperti sedang membantu pekerjaan, Toyib ikut juga walaupun dia tidak mengerti apa yang dilakukan temannya. Aneh sekali masuk proyek orang sok membantu apalagi dengan dua temannya, Jamal dan To'ing berbicara ngalor ngidul gak nyambung.


"Jadi proyek ini sudah lumayan selesai ya pak. Saya lihat sudah mau rampung. Lebih cepat lebih bagus sih."


Nih pemuda sok bangat akrab, apa mereka pemuda kampung sini yang mau minta pungli? batin pekerja.


"Iya bang" Raut wajahnya bingung.


Rohim melihat-lihat sekitar, orang yang mengawasi sudah pergi. Dia langsung memberi info kepada yang lain.


Syukurlah, setidaknya bisnis kita yang baru aman keberadaannya. Batin To'ing.


.


.


.

__ADS_1


.


Beraambung


__ADS_2