Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Saya Bodoh Non


__ADS_3

Segala sesuatu yang ada di dunia ini akan silih berganti. Siang bertukar malam, gelap bertukar terang, begitu pun dengan Jesslyn. Dunianya yang sempat gelap beberapa jam lalu kini kembali terang oleh cahaya.


Perlahan dia membuka kelopak mata indahnya, berusaha memeras ingatannya tentang apa yang telah terjadi. Nihil, dia belum sepenuhnya ingat bahkan Jesslyn tak yakin dirinya sedang berada di dunia ataukah bukan.


Situasi masih seperti mimpi, badannya belum bisa di gerakan walaupun dia berusaha keras menggerakkannya, ia terus mengucap istighfar dalam hati lalu memanggil-manggil nama suaminya.


Sekeras dia memanggil, nyatanya dia tidak bersuara sama sekali. Jesslyn berfikir dia telah kehilangan pita suara. Lelah dengan usahanya yang terbilang aneh antara nyata atau bermimpi atau mungkin bukan dunia lagi, Jesslyn berhenti berusaha lalu ingin memejamkan matanya kembali.


Saat matanya terpejam, di telinganya terdengar suara. "Neng, bangun." Setelah kata itu semakin jauh dan menghilang, kini berganti dengan lantunan orang mengaji yang terdengar merdu, suara itu pun sangat dikenalnya.


"Sayang.."


Dodo yang sedang menunggu Jesslyn sambil mengaji langsung terdiam, mendekatkan wajahnya hingga bersitatap dengan pandangan lemah milik Jesslyn. Ada kabut bening mengelilingi bola mata Dodo, sebisa mungkin dia mengenyahkan kabut itu hingga tidak terjadi aliran tangis.


Tidak ada kata-kata yang terucap selama sepuluh detik sadarnya Jesslyn. Mereka menyelami masing-masing perasaan yang memang tidak bisa di ubah dengan kata.


"Alhamdulillah" kata mereka kompak, mengeratkan peluk untuk menguatkan satu sama lain.


"Non jangan banyak bergerak dulu, tiduran juga tidak apa-apa. Saya yang mendekat. Katakan, Non mau bilang apa?"

__ADS_1


"Sayang, aku pikir aku sudah tidak bisa lagi bertemu denganmu. Maaf telah membuatmu khawatir. Aku selalu yakin kamu selalu ada dikala aku sulit."


Dodo terdiam, matanya menatap teduh wanita kesayangannya yang lemah tidak berdaya. Tangannya mengusap kepala dengan penuh kasih sayang. Dengan kepekaan Jesslyn terhadap sebuah rasa, kali ini ada yang berbeda dengan sentuhan tangan suaminya yang mengalir di kepala.


Apakah Dodo terlampau sedih dengan kondisiku? atau mungkin akunya saja yang berperasaan. Hah atau mungkin?


"Sayang, bagaimana dengan anak kita?" demi apapun wanita itu tidak ingin mendengar jawaban atas pertanyaannya sendiri jika itu adalah hal buruk. Dia tidak bisa mendengarnya saat ini jika itu adalah kenyataannya.


"Alhamdulillah baik-baik saja. Kita tidak kehilangannya." Jelas Dodo sembari menyeka air di pelupuk matanya.


"Aku senang mendengarnya." Jesslyn mengusap perutnya yang mulai mengeras. Lalu kenapa kamu sesendu ini? Batin Jesslyn. Wanita itu semakin bersalah dengan sikap keras kepalanya yang tidak mau mendengarkan permintaan sang suami. Pagi itu saat gerimis masih menyelimuti, dengan teganya Jesslyn berkeras hati meninggalkan suaminya yang sedang gusar.


Jesslyn semakin dalam merutuki kebodohannya. Ia bertanya-tanya di dalam dasar hati kecilnya, istri macam apa kamu ini Jess. Yang bisanya cuma bikin susah suami. Mengundurkan diri sebagai CEO di perusahaan yang bergerak di bidang properti, kini terlintas di benaknya.


"Sayang, emak kemana? tadi aku mendengar suaranya." akhirnya Jesslyn mengalihkan. Bukan sekedar pengalihan semata, ia juga penasaran dimanakah ibu mertua yang tadi bicara padanya.


"Emak di rumah, saya kesini sendiri Non"


"Tapi tadi aku mendengar suaranya sayang, dia nyuruh aku bangun. Sebelumnya aku bergerak susah sekali, bahkan aku ingin berteriak tidak bisa mengeluarkan suara. Apakah kau melihat itu semua?"

__ADS_1


"Saya selama ini selalu di samping Non, dan saya tidak mendapati apa yang telah Non bilang. Non tertidur pulas dengan alat medis yang menempel. Sampai pada akhirnya, kata sayang terdengar lirih dari mulut Non"


"Iya kah?"


"Iya Non, istri aa jangan berfikir lebih dulu ya. Mungkin saja Non memang belum tersadar penuh pada saat itu."


"Non" Lanjutnya lagi, lelaki itu meraih tangan dingin istrinya. Menciuminya hingga berangsur hangat.


"Iya sayang, ada apa?"


"Setelah tugas saya selesai, saya akan mengundurkan diri dari Manggala. Saya bodoh, lalai menjaga Non hingga situasi menjadi seperti ini." Dadanya semakin terasa sesak. "Saya bodoh Non, saya bodoh."


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2