
Jesslyn diam dengan tatapan mata yang kosong, seperti ada yang dipikirkan saat mendengarkan Bram berbicara. Menarik nafas, membuangnya kembali, lalu menjatuhkan sendok yang dari tadi hanya menari-nari di piring.
"Saya tidak menghukum dirimu jika kamu menyesali perbuatanmu itu."
Bram mendongakkan kepala, matanya berbinar atas pengampunan wanita dihadapannya.
"Terimakasih atas kebaikannya."
"Jadi, bisakkah kamu menerima hadiah yang saya sebutkan tempo hari? saya tidak mau berhutang Budi." ucap Jesslyn dengan tegas. Namun ia juga sedang menahan kesal dengan apa yang telah di perbuat Bram pada ayahnya.
"Saya sangat tidak pantas Bu mendapat hadiah itu. Sudah mendapat maaf dari Pak Dirga dan Bu Jesslyn saja sudah cukup bagi saya."
"Tapi saya tidak mau punya hutang budi. Hadiah itu sebagai balasan dari usaha kamu membantuku mendapatkan bukti."
Bram diam, sesungguhnya dia juga tidak enak hati dengan apa yang telah diperbuat.
...****************...
Waktu mulai bergeser, saatnya aktifitas melelahkan segera berganti menjadi waktu menunggu pulang.Tiga puluh menit sebelum jam pulang adalah waktu berharga membereskan segudang tumpukan pekerjaan yang berserak.
Menyusun berkas dengan rapi dan menata kembali pada tempat semula. Soal sudah selesai atau belumnya urusan bagaimana besok pagi. Yang penting rapihkan dulu meja biar enak dilihat.
Belum lagi sudah capek ngetik dan bikin bagan, lalu bikin laporan untuk meeting pagi dengan desain sedemikian rupa kemudian saat akan di simpan laptop berputar dan mati seketika. Sungguh sangat indahnya hidup saat itu.
__ADS_1
Ada pula divisi yang sudah tidak memiliki toleransi tenggat waktu atau sebut saja deadline, sudah pasti mereka akan lembur sampai malam.
"Bos, gak balik?"
"Sebentar lagi nanggung, due date nya besok soalnya"
Bermacam-macam kondisi para pekerja keras untuk meraih masa depan.
Bagaimana dengan CEO nya?
Jesslyn masih diruangan sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Matanya tidak lepas dari layar ponsel berharap ada notif pesan masuk.
"Bu Jesslyn, mau saya antar pulang?" Bram menawarkan jasa.
"Tidak Bram, saya bawa kendaraan sendiri." Masih dengan pandangan mata yang tidak beralih.
"Kamu tidak usah khawatir, saya sudah memiliki pengawal sekarang."
Pengawal? seserius itukah keamanan Jesslyn dan Dodo sekarang.
"Kalau begitu hati-hati di jalan ya Bu. Jika terjadi sesuatu atau butuh bantuan, hubungi saya." kata Bram menawarkan perlindungan.
"Kalau saya butuh itu sudah pasti saya akan menghubungi suami. Terimakasih kamu sudah khawatir dengan saya. Bram, saya pernah berdiri di terpa badai, tidak akan terjatuh hanya karena gerimis."
__ADS_1
Jesslyn berbicara demikian karena menangkap sinyal bahwa asistennya itu sedang mengkhawatirkan keamanannya.
Mendengar apa yang dikatakan Jesslyn membuat Bram bertambah kagum. Itulah salah satu alasan penunjang rasa cinta yang bergejolak. Sadar Bram, kamu sudah memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.
Memang tidak dipungkiri, keamanan Jesslyn dan Dodo saat ini harus ekstra di perketat dan juga harus waspada di setiap situasi. Terutama Dodo, pagi tadi bahkan dia disambut oleh panah Dartboard yang berhasil dia hindari walau masih menggores sedikit pelipis.
Coba bayangkan, bisa jadi panah Dartboard tersebut menancap di mata atau yang lain. Luar biasa bahayanya bukan?
Walau hanya sebuah penyambutan pesan untuk pemimpin baru, caranya itu tidaklah dibenarkan.
"Kamu dimana? saya sudah mau pulang ini." Ujar Jesslyn lewat telepon.
"Saya sudah menunggu di parkiran Nona."
"Baiklah tunggu."
Bram yang masih penasaran dengan Jesslyn mengikutinya hingga sampai di parkiran, sekalian dia pulang juga agar tidak ketahuan jika sebenarnya Bram menyelam sambil minum air.
Oh jadi ini pengawalnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....