
Hilir mudik truk pengangkut bahan bangunan menuju kediaman Dodo banyak menarik perhatian orang yang melihatnya. Sangat cepat pergerakan antara rencana denga realisasi. Pak Nata dan Bu Unah di buat takjub, sebab baru saja kemarin sore di bicarakan hari ini sudah mulai pembangunan.
Telah sirna sudah praduga tentang stigma negatif saat sebelum Dodo dan Jesslyn menikah. Kini orang tua Dodo meyakini bahwa anak berumah tangga bukan karena sebuah insiden. Asumsi kenapa seorang Jesslyn dari kalangan keluarga berada mau menikah dengan Dodo seorang cleaning service adalah Dodo anak yang baik. Ya, begitulah sekiranya orang tua Dodo meyakinkan diri.
"Widih mang Nata banyak duit juga nih baru kemarin hajatan eh sekarang mau bikin rumah. Waduh bukan maen dah." Ledek salah satu tetangga di selingi tawa renyah.
"Hehe, ini mah proyek bocah Sep. Gua mau bantu sedikit juga gak boleh. Nggak usah repot-repot katanya."
"Lah iya sih beres mang, buat si Dodo ini ya apa si Iyan?"
"Dodo, bininya sih yang bikin. Kita mah nyediain tanahnya aja."
"Mantep dah."
"Iya mungkin kurang nyaman kalau bareng mertua. Makanya buru-buru bikin rumah"
"Lagian kalo saya liat-liat bininya Dodo mah orang kaya ya?"
"Ya begitu dah. Sebenarnya mah gua dari lubuk hati yang paling dalam nih..."
"Yasalaam..dalem amat mang."
"Dengerin gua dulu, gua belum selesai bicara Nasep."
"Aduh aki-aki makin ngeri aja bahasanya. emang kenapa mang dengan lubuk hati yang paling dalam?"
"Tar dulu gua inget inget lagi. Atuh lu mah di potong mulu."
__ADS_1
"Hahaha"
Perbincangan mereka akhirnya di masuki pemain ketiga. Bu Unah pun masuk dalam obrolan.
"Eh bibi Unah Dateng. Sehat bi?" Sapa Nasep.
"Alhamdulillah, sehat. Lagi kongko apa inih seru banget?"
"Itu katanya mang Nata dari lubuk hati yang paling dalam ngapah tau.. terusannya lupa."
"Oh itu, gua bantu jawab ya. dia sebenarnya mah takut punya menantu orang kaya. Takut di hina kaya di sinetron. Padahal mah ya tergantung orangnya."
"Oh gitu, lah bibi tau aja terusannya."
"Sebenarnya mah gua dari tadi dengerin lu kongko jadi kan gua langsung nyambung."
Disela orang tua Dodo sedang asyik bersenda gurau, datanglah Erma istri dari Chandra kakak pertama Dodo. Langkahnya semangat sekali, mengalahkan seorang bocah yang sedang mengejar layangan.
"Mak, Pak mau bikin apa? kontrakan?"
"Bukan, ini mau bikin rumah buat Dodo sama Jesslyn." Jawab Bu unah sejujurnya. Membuat ceria Erma menghilang entah kemana. Bu Unah sudah hafal betul menantu pertamanya ini sulit di tebak. Jika sudah diam, maka ada yang salah. Terlepas dari kesalahan itu sendiri, hanya Erma yang tahu.
Dengan langkah agak menyentak, Erma balik kanan menyudahi obrolan yang akan membuatnya gundah gulana ketimbang masih berdiri disana dengan sesak merambati dada. Sudah tahu pembangunan itu untuk apa? setiap Erma melihat bahan baku satu persatu diturunkan, kepala Erma rasanya semakin nyut-nyutan.
Keseharian Erma dan Bu Unah sangatlah akrab. Bahkan mereka terlihat seperti anak perempuan kandung dengan ibunya bukan selayaknya menantu pada seorang mertua. Erma pun kerap memberi hadiah untuk Bu Unah dan juga Pak Nata.
Dan pada saat pernikahan Dodo dan Jesslyn, Erma menyumbang sedikit dana untuk membantu hajatan sang mertua. Bu Unah selalu membangga-banggakan Erma di depan para tetangga, bahwa ia memiliki menantu yang tidak memiliki iri hati kepada ipar lain seperti Erma. Seperti kebanyakan kasus antara para ipar akan ada selisih karena iri hati. Soal Menantu kesayangan lah, soal tak di anggap lah dan segala macam tek-tek bengeknya.
__ADS_1
Namun Bu unah saat ini mencium aroma kekeliruan.
.............
Di ruang kantor Jesslyn berada.
"Bram gimana perkembangan pembangunan rumahku?"
"Sudah masuk tahap awal. Bahan baku sudah terkirim semua serta pembuatan pondasi sudah mulai dilakukan."
"Bagus, lebih cepat lebih baik."
Bram mengangguk. "Iya Nona"
"Bram, mulai sekarang kamu jangan panggil itu. Panggil aku dengan sebutan seperti karyawanku memanggil."
"Baik--Bu." Bram mengerutkan dahi. Apa tadi katanya? panggil saja sama seperti karyawan yang lain. Kenapa baru sekarang Jesslyn meminta seperti itu. Perubahan Jesslyn tersebut seperti sebuah PR tersendiri bagi Bram untuk mencari tahu kenapa bosnya meminta ubah panggilan.
*A*staga Dodo ini terlalu polos dan taat mengikuti peraturan. Menyedihkan sekali. Di ponselku tertera nomor dia, aku yakin dia tidak memiliki nomor ku. Jesslyn menggerutu dalam hati sembari sibuk scrol layar ponsel miliknya. Menghiraukan keberadaan laki-laki bernama Bram dengan segala kebingungannya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1