
Sepucuk surat sudah di tangan, Jesslyn membentangkan lebar dan mulai membacanya.
Putriku Jesslyn Andara.
Hai nak, bagaimana kabarmu? semoga baik-baik saja. Jangan marah sama Papah ya kalau sudah baca surat ini.
Selama ini kamu sudah hidup dengan baik bersama kakakmu Joe, walaupun dia tidak bisa menemanimu selamanya, tapi kamu mampu melewati hari berat itu. Kamu lebih tangguh daripada papah yang kehilangan mamahmu.
Nak, papah lihat kamu dikelilingi orang baik, bahkan kamu dengan ibu mertuamu cukup dekat layaknya ibu dan anak perempuannya. Benarkan?
Papah tidak mau kamu berada dalam kebimbangan antara kasihan dengan papah sama keinginanmu untuk tinggal dekat dengan orang tua suamimu. Kamu akan lebih bahagia mendapat kasih sayang seorang ibu darinya.
Tidak mungkin kan papah menikah lagi di usia segini demi kamu mempunyai seorang ibu? bisa sih, tapi papah malas ah bikin adik lagi buat kamu. Hehehe.
Jesslyn tersenyum membaca paragraf ini sambil bergumam dalam hati harusnya dia yang memberikan cucu, bukan papahnya yang akan memberikan adik.
Wanita itu melanjutkan bacanya.
Nak, papah sebenarnya bukan pamit untuk menginap di rumah pamanmu, tapi papah kembali lagi ke negara xx. Jangan khawatir kan papah disini, karena papah sudah terbiasa sendiri saat melarikan diri dari masalah.
Ttd
Dari yang sangat menyayangimu, Dodo KW.
Jesslyn menilap kembali suratnya dengan rapi sambil memancarkan pandangan mata yang kosong. Ceria Jesslyn berubah menjadi muram durja.
Apa aku dilahirkan hanya untuk di tinggalkan.
__ADS_1
...........
Hari mulai berganti, setelah kepergian Pak Dirga ke luar negeri, Jesslyn tidak ada pilihan lain selain kembali ke rumahnya dulu bersama sang suami.
Jesslyn sudah ceria seperti biasa, karena pilihannya yang sengaja di arahkan oleh Pak Dirga sendiri bukanlah pilihan yang buruk. Kembali di lingkungan sederhana dengan cinta seorang ibu yang dilimpahkan oleh Bu Unah kepada Jesslyn.
Hari ini,
Di kediaman Dodo yang sempat ditinggalkan, ada Pak Nata dan Bu Unah sedang bersih-bersih menyambut kembalinya sang anak dan menantu.
Bu Unah mengepel lantai sambil bersiul berdendang ria "Sekian lama..aku menunggu..untuk kedatanganmu...tew..tew..tew.." Gagang pel berubah fungsi menjadi mic.
Sedangkan Pak Nata sibuk menyapu halaman dengan sapu lidi membersihkan sampah daun kering yang berserak, lalu mengumpulkannya sampai menggunung kemudian di bakar.
Disela kegiatan masing-masing, mereka saling mengejek kegiatan satu sama lain. Lalu bersenda gurau tertawa haha hihi dan membicarakan persoalan cucu.
"Pak, Alhamdulillah ya masalah satu persatu ada jalan keluarnya. Erma sudah sadar akan kesalahannya, Chandra juga bisa berbesar hati bisa damai sama badai yang menghadang. Sekarang Dodo dan Jesslyn mau kembali lagi kesini dekat sama kita."
"Simingki..milin..simingki..milin." Teriak tukang buah dengan grobak yang sudah dimodifikasi. Dia berhenti dan memanggil calon customer lalu menjajakan buahannya.
"Tukang lilin tuh Mak." Kata Pak Nata sok tahu. Dia menjatuhkan sapu lidinya lalu bangkit berdiri dan memperhatikan dari kejauhan tukang buah tersebut.
"Apa? tukang lilin? simingki milin pak." Tegas Bu Unah karena dia sudah tahu bahasa yang diajarkan anak kecil tempo hari.
"Apa sih itu?"
"Semangka melon."
__ADS_1
Pak Nata geleng-geleng kepala dengan bahasa tukang buah, dia pun mengikuti Bu Unah yang hendak memilih buah untuk menyambut Dodo dan Jesslyn nanti.
Saat sibuk memilih dengan para tetangga yang ikut nimbrung juga, ada mobil mewah lewat memasuki pekarangan. Klakson di bunyikan lalu kaca mobil turun. Sang pengemudi menyapa ramah orang-orang yang dia lewati.
"Yaah, udah datang tamunya. Baru lagi milih manggis sama jeruk." Bu Unah memboyong raupan buah di tangan. Meletakannya di atas meja depan rumah Dodo.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam salam."
Pertemuan kembali Bu Unah dan Jesslyn yang kesekian, walaupun bukan untuk pertama kali, mereka berjingkrak kegirangan lebih heboh dari biasanya.
Para tetangga yang melihat langsung mengambil persepsinya bahwa Jesslyn adalah menantu kesayangan Bu Unah, karena sebelumnya, Erma tidak pernah beradegan seperti ini dengan mertuanya.
Bukan soal Bu Unah yang pilih kasih terhadap menantu, dengan A begini, dengan yang b begitu. Sifat Bu Unah tidak begitu, hanya saja jika pada Erma dia sedikit menjaga sikap dengan hati-hati, karena Erma kerap marah dalam diam.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa bahagia