
*G*ila, segala hamil. di sentuh aja belum. Jesslyn terus menggerutu dalam hati.
"Ada apa non?"
Dodo peka melihat Jesslyn yang terus mendesah kesal.
"Tetanggamu usil sekali. terlalu mencampuri urusan orang lain."
"Memangnya kenapa?"
"Ah sudahlah aku sedang kesal."
*T*umben non jesslyn terlihat emosi seperti ini.
Tidak biasanya Jesslyn besikap seperti hari ini. Walaupun sedang emosi pada orang lain dia hanya meluapkan dengan kalimat pedas namun lebih banyak diam. Tapi kali ini bahkan pintu saja terkena omelannya.
Entah sedang datang bulan ataukah cemburu yang masih membekas ketika Dodo bisa ramah dengan wanita lain.
..........
Pada suatu hari.
Jesslyn baru saja menerima kabar, bahwa pemilik induk perusahaan tempat perusahaannya bernaung telah berpulang.
Dia cepat bergegas untuk menemui ayahnya. Karena keluarganya adalah salah satu pendukung setia Artha grup.
"Do, kamu ikut aku ya. Bersiaplah."
"Iya non." Dodo mengiyakan tanpa harus bertanya kemana.
"Do, kita mau berkabung."
Dodo terhenyak sebentar, melafalkan do'a di dalam hatinya. Setelah itu ia pun berpamitan dengan Bu Unah yang sedang berada di warung.
Mobil melaju meninggalkan rumah dan juga Bu unah yang sedang duduk memandang.
"do, emak sakit apa kemarin?" tanya Jesslyn memecah keheningan dalam perjalanan.
"Diabetes non. Gulanya lagi tinggi."
__ADS_1
"Oh, sudah lama?"
"Baru tiga tahun yang lalu."
Dodo menjawab pertanyaan Jesslyn dengan fokus pandangan menyetir. Sebenarnya Jesslyn hanya ingin mengobrol tapi sikap Dodo yang masih kaku terlihat seperti sesi tanya jawab.
"Do,,"
"Iya non, ada apa?"
"Kaku banget sih."
Dodo menengok ke arah Jesslyn setelah dirinya mendapat sindiran, dia hanya tersenyum dan tak tahu harus bicara apa. lelaki itu tampak sedikit berfikir.
Tidak lama Dodo dan Jesslyn saling memanggil dengan waktu yang bersamaan.
"Non duluan saja."
"Kamu duluan saja yang bicara. Aku penasaran kamu mau bicara apa sih "
"Non saja yang duluan. Wanita harus di dahulukan."
"Sudahlah, aku sudah lupa." Jesslyn pasrah.
"Oh ya non, kalau boleh tau siapa yang telah berpulang?"
"Kamu tahu posisiku di kantor sebagai apa?"
"Direktur."
"Benar, dan perusahaan yang aku pimpin tempat kamu juga bekerja itu adalah sebuah anak perusahaan. Perusahaan kita di bawah naungan Artha grup. dan orang yang kamu maksud adalah pemiliknya."
Dodo menghembuskan nafas pelan.
"Jadi orang yang dimaksud adalah tuan muda Satria Felder anak dari tuan besar Darren. suami dari nona Rianti yang juga memiliki pengaruh di Artha grup."
"Kamu begitu hafal?"
"Iya non, mereka sangat terkenal dikalangan bisnis. Saya termasuk pengagumnya. Begitu hebat memimpin sebuah kerjaan bisnis yang merambah di setiap lini kehidupan dengan tidak lupa pada rakyat kecil."
__ADS_1
"Keteguhan hati, kecerdasan, dan pemahaman yang tinggi yang selalu saya ingat pada pasangan tersebut. Hanya saja itu tidak berlangsung lama. Setinggi apapun manusia mengepakan sayap, jika sang pemilik menghendakinya untuk pulang maka tidak ada yang bisa untuk menghindar."
"Do.."
"Iya non?"
"Siapa kamu sebenarnya? aku curiga kamu adalah orang hebat yang sedang menyamar menjadi manusia sederhana."
Dodo tergelak.
"Saya menyukai kejujuran, bukan kebohongan. Dari pernyataan non sepertinya non ragu dengan saya."
"Memang iya."
"Apa yang mau non tahu dari saya? nanti saya ceritakan dengan jujur."
"Tidak ada." sok tidak peduli, Dodo malah tersenyum mendengar jawaban Jesslyn.
*K*asihan kamu Rianti, pasti saat ini kamu sedang merasakan kesedihan ditinggal seorang suami. statusmu yang sekarang telah memegang tanggung jawab berat tentu sangat tidak mudah untuk kamu menjalaninya. aku sebagai teman kecilmu hanya bisa memanjatkan do'a yang terbaik untukmu dan juga mendiang tuan muda Satria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.bersambung...
__ADS_1