Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Akhirnya terkuak


__ADS_3

Ucapan Dani begitu membekas diingatan, ponselnya berdering menguapkan isi pikiran yang sedang berlarian menyita atensi.


Kabar berita yang masuk melalui pesan sudah di baca Dodo dengan serius, setelah panggilan yang tidak sempat terangkat disusul pesan masuk bertubi-tubi. Tring, tring, tring.


Isi pesan dengan urusannya sama serius, dengan waktu dan tempat yang ada, Dodo harus mengambil langkah untuk berbicara dengan Jesslyn terlebih dahulu. Siang ini harus, karena tidak ada waktu lain.


Sebelum itu, Dodo harus menyelesaikan dahulu pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Peralatan pel dan sapu sudah dalam tempat yang semestinya.


Pucuk dicinta,


Jesslyn yang tadinya mau di temui, kini wanita itu berjalan anggun melewati sekilas pandangan. Tentunya Dodo tidak menyia-nyiakan kesempatan.


"Bu Jesslyn." panggil Dodo, yang di panggil menoleh. Seutas senyum kecil terlihat ketika tahu siapa yang memanggil.


"Ada apa?" walau senyum semakin merekah, profesional harus tetap jalan.


"Kabar tentang pernikahan kita sudah merebak. Maafkan saya, tapi sungguh saya sudah menjaga rahasia dengan baik." lirih Dodo. Lelaki itu sudah berwajah pias namun tetap saja di mata di Jesslyn berkharismatik.


"Oh, itu. yaudah biarkan saja."


hah

__ADS_1


"Biarkan saja, bukannya kabar pernikahan itu bukanlah kabar buruk ya, kenapa kamu harus takut? kamu malu punya istri kaya aku?" alih-alih terkejut dengan pemberitaan, reaksi Jesslyn justru menimbulkan tanda tanya besar di kepala.


"Sudah tidak usah terkejut begitu. hahaha"


"Oh gitu ya Bu, saya tidak bermaksud begitu." masih canggung dengan mengusap wajah seperti membasuh. Dan saat itulah Jesslyn membekap tangan Dodo yang masih berada di pipi.


"Hahaha" tertawa lagi, dia lupa janjinya dulu tidak akan menjadikan suaminya bahan tertawaan. Tapi ini beda, tawanya adalah tawa bahagia.


Pukk...


Terasa ada tangan yang menepuk, Dodo sedikit terperanjat karena ayah mertuanya juga berada disini.


"Maaf ya do, papah sudah menyebarkan berita gembira ini, tidak masalah kan? atau kamu malu punya mertua seperti papah?"


Sesuatu yang pada awalnya akan ditaksir mengkhawatirkan, malah jadi drama kamu malu punya bila..bla..bla.. kaya aku. Tembok penghalang sudah hancur lebur, pihak yang di jaga kerahasiaannya tidak disangka membuat pengakuan di khalayak publik.


Respon karyawan pun tidak ada yang negatif, mengingat Dodo adalah lelaki supel, ramah tamah dan selalu membantu orang lain membuat kehadiran status barunya dapat diterima dengan baik.


Ada sorot mata berkilat, yang tidak suka dengan kemenangan Dodo. Lelaki yang mulai detik ini akan menguji kelayakan pantas atau tidaknya dia bersanding dengan Jesslyn. besar cintanya melebihi Bram akan menjadi tolok ukur.


Balik kanan adalah cara terbaik meredakan luka.

__ADS_1


Uap panas semakin mendidih di kepala. Kasus belum mencapai final, sudah bersenang-senang diatas penderitaan. Bukti yang berhasil dikumpulkan dengan mati-matian dan para saksi yang berhasil dikumpulkan dengan susah payah, Jesslyn tidak menganggap itu ada.


Usaha apa yang dia tempuh, kejadian apa yang telah menimpa, selelah apa tubuh ini berkontribusi, di mata Bram Jesslyn menganggap itu tidak pernah ada. Tetap saja Bram di mata Jesslyn adalah seorang asisten, yang telah terbawa perasaan.


Langkah kaki panjang Bram terdengar seperti hentakkan. Membawa segenap kecewa namun tetap mengurusi perihal hukum yang menimpa Erma. Rasa cintanya pada Jesslyn tidak akan mengubah arah.


Besok hari persidangan itu dimulai.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2