Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Tragedi


__ADS_3

Seteguk air sudah menghapus tenggorokan yang serak. Setelah membuang botol bekas ke dalam tong sampah, Jesslyn lekas memasuki mobilnya guna mempercepat waktu untuk berkumpul kembali di rumah. Moment dimana dia bermanja di pangkuan Bu Unah bersama suaminya, menjadi momok yang ingin dia ulangi kembali.


Entah bawaan bayi atau memang pertama kali dirinya mendapat kasih sayang seorang ibu di usia dewasa, dimana usia ini di hadapkan dengan kerasnya dunia. Jesslyn merasa hidupnya yang sekarang lebih baik di bandingkan kehidupan masa lalu yang dia lewati seorang diri.


Saat ini, di saat orang-orang bersantai dahulu sebelum kembali ke kotanya masing-masing, Jesslyn justru langsung tancap gas tanpa basa basi. Hingga Anggi lagi-lagi mengingatkan pada Jesslyn untuk sekedar mengisi perut yang memang sedang ada kehidupan disana.


Jesslyn menurut, dia membuka jendela mobil semburat jingga menampar pandangan, hari mulai senja ternyata, pantas Jesslyn sudah merasa perutnya terasa lapar cenderung perih.


Seiring berjalannya waktu, semua tampak biasa dan berjalan dengan semestinya. Jesslyn mengunyah makanan lebih lamban ketimbang makan dengan suapan Dodo. Sampai seseorang disana yang sedang memperhatikan, hampir tidak bisa menahan diri.


Setelah selesai dengan urusan perut, Jesslyn kembali lagi melanjutkan perjalanan. Lalu lintas tidak ramai lancar seperti tadi, kini sudah memasuki barisan padat merayap.


"Apakah tidak ada jalur lain?" Jesslyn bertanya, karena sejak tadi sudah hampir satu jam hanya bergerak kurang lebih tujuh kilometer.


"Ada, tapi sedang tidak bisa dilewati juga. Baru kemarin terjadi longsor hingga membuat jalan rusak dan belum selesai diperbaiki." Kilah Anggi yang menolehkan kepala ke bangku penumoang, lalu sekarang sudah beralih menatap lurus ke depan menemani sang supir. Ya, mereka bertiga dengan seorang supir.


"Baiklah, mungkin aku harus sedikit lebih bersabar."


...........

__ADS_1


Lalu lintas padat merayap sudah berhasil terlewati, mobil melaju tidak ragu-ragu mengantarkan salah satu orang di dalamnya yang sedang tertidur lelap di bangku penumpang. Jesslyn tertidur saat pergerakan laju mobil merambat.


Beberapa menit kemudian, suara gemuruh menelusup masuk ke jalanan disertai lempar batu dan benda tajam yang di acung-acungkan. Lebih parahnya, kobaran api kini merajai jalanan seolah menunjukan supremasinya.


Sebisa mungkin mobil yang di tumpangi Jesslyn berbalik arah. Anggi dan Pak supir sibuk mencari cara lain jika pahitnya mereka terjebak dalam situasi ini. Nahas, apa yang mereka takutkan memang benar-benar terjadi.


Prang... brakk..brugh..


Ketika mobil sudah terkepung dan menunjukan kerusakan. Tidak ada pilihan lain, Anggi beserta Pak supir memilih memasang badan untuk menjaga Jesslyn yang memang sudah terbangun lalu menjerit ketakutan. Jesslyn di tarik keluar.


Wanita itu membungkam kepala dengan kedua tangan, menutup telinganya dari kegaduhan, dan menutup matanya dari kehancuran. Dia berharap semua akan baik-baik saja ketika dia membuka matanya nanti.


"Suamiku,, sayang,, aku takut.." sakit menjalar memberikan respon tubuh Jesslyn untuk berteriak. Dodo tolonglah aku. Lirih Jesslyn di relung hatinya. Pandangan matanya kabur, memutar lalu gelap disertai telinga yang tiba-tiba tuli. Nafasnya tercekat.


Gelap, dunia Jesslyn terlihat gelap.


.


.

__ADS_1


.


.


Lelaki yang sejak awal mengekor menangkap tubuh yang hendak rubuh ke tanah. Mendekapnya guna melindungi hantaman demi hantaman lain di tengah huru-hara pertikaian dua kubu entah apa yang telah di perebutkannya. Kekuasaan? harta? ketidak terimaan? atau mungkin demi sebuah harga diri.


Sakitnya lemparan batu, panasnya kobaran api, serta perihnya sabetan ikat pinggang, mampu lelaki itu lewati demi selalu bisa merengkuh wanita kesayangannya.


Benar, lelaki itu adalah Dodo. Orang yang selalu disebut-sebut Jesslyn di situasi apapun.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2