
Kondisi sudah mulai kondusif. Jesslyn dan Dodo merupakan pasangan suami istri dimana mulai detik ini menjalani profesi yang di geluti.
Mereka terpisahkan oleh jarak untuk sementara waktu, setelahnya, malam pun akan bersatu kembali. Mereka saling menjaga hati dengan versi masing-masing.
"Bram, kamu masih berhutang penjelasan padaku!" Hardik Jesslyn di sela kesibukannya, dia bertemu Bram di parkiran kantor.
Bukan tidak mau profesional sehingga di kantor pun masih membicarakan masalah pribadi. Tapi waktu menunjukan, jam kerja belumlah dimulai.
"Nanti pas jam makan siang saya akan jelaskan semuanya."
"Baiklah"
Bram mengikuti Jesslyn seperti biasa. Rasa itu masih ada, entah kapan hilangnya Bram pun tidak tahu. Yang pasti saat ini, Bram telah sadar rasa itu tidak lah membesar.
Hati Bram sedikit demi sedikit sudah terdoktrin oleh Dara dengan sindirannya, menyadarkan Bram bahwa dia lelaki yang tidak tahu diri. Memaksakan cinta dengan cara menjatuhkan orang lain.
Terlebih sabarnya Dodo telah membuatnya tidak bisa melawan. Kerasnya mampu di lunakkan oleh sikap Dodo yang selalu mengalah dengan amarah, dan juga tidak membalas saat dihina.
"Selamat pagi Bu." Sapaan karyawan serempak.
"Selamat pagi juga, selamat bekerja untuk kalian semua."
Tap...tap...tap
Langkah sepatu menuju lift bersamaan dengan bubarnya para karyawan. Bram masih setia mengekor dengan ekspresi wajah yang sulit di mengerti.
Pintu lift tertutup, Jesslyn memulai obrolan terkait pekerjaan.
__ADS_1
"Bagaimana progres proyek pembangunan tuan Niko?" Jesslyn bertanya tanpa melihat, pandangan Jesslyn masih fokus lurus ke depan.
"Pembangunan sudah mencapai 80%, ada sedikit kendala karena pada bagian atap sulit untuk mendapatkan materialnya dari negara xxx."
"Lalu?"
"Semua sudah berjalan dengan lancar, tim kita sudah berhasil mendapatkannya dengan bantuan.."
"Atas bantuan dan referensi siapa?"
"Pak Dodo."
Jesslyn tersenyum, Ting..tong.. pintu lift sudah terbuka mereka melanjutkan obrolan sambil berjalan menuju ruangan.
"Baik ya Dodo, dia mau membantumu. hmm kau tidak mau kenal dia dulu sih pas di awal, main membencinya saja."
"Dia itu lelaki super baik dan bisa di andalkan Bram. Dia selalu ada dikala aku butuh bantuan dan kesusahan."
"Dan yang paling penting nih, Dodo gak pernah ngeluh." Sambungnya lagi.
Wahai nona, mungkin bukti yang terkumpul untuk menjebloskan Erma datang dengan sendirinya, ya memang begitu sepertinya. Sabar Bram, sabar. Dodo kan panutan sekarang. Kamu harus bisa legowo dan jangan ungkit apa yang telah kamu korbankan. Ingat jangan ngeluh!
Bram hanya diam dari tadi mendengarkan ocehan Jesslyn yang tak tentu arah. Sunyi di mulut ramai di hati. Hingga pada akhirnya, Jesslyn terdiam walau kalimatnya belum selesai dia ucap. Dia menyadari sesuatu bahwa perkataannya telah melewati batas.
"Bram"
"Iya Bu "
__ADS_1
"Maaf"
...........
Jam makan siang telah tiba.
Jesslyn dan Bram makan siang dengan nuansa privat. Menu makanan Jesslyn kali ini bukanlah masakan Dodo, yang dimana jika tidak ada itu Jesslyn memutuskan untuk rela kelaparan.
Walau Dodo menyanggupi jika harus membuatkan makan siang untuk Jesslyn, tetap saja Jesslyn tidak mau merepotkan. Pikiran dewasanya telah bekerja, kenapa bukan dia saja yang menyiapkan itu semua. Kan dia perempuan, dia adalah seorang istri.
Jesslyn mengerti, senyaman apapun kita, sesuka apapun itu, kita tetap tidak bisa memaksakan kehendak. Harus sadar bahwa mereka juga memiliki perasaan yang harus dimengerti, kita tidak boleh bergantung pada titik kenyamanan itu.
Dodo sudah memiliki kesibukan untuk menafkahinya agar seluruh kebutuhannya terpenuhi. Karena keinginan Dodo adalah melepaskan Jesslyn dari segala beban di pundak. Sejatinya Dodo merasa dia lah yang harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.
Makanan telah datang, menunya mewah pilihan Jesslyn sendiri, bahkan yang mereservasi tempat adalah Jesslyn. Biasa dia yang di layani, Jesslyn mulai belajar bagaimana kemandirian.
"Silahkan di makan Bram, tidak usah sungkan."
Bram hampir saja tidak percaya apa yang ada di depan matanya jika dia tidak menyaksikan langsung.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...