
"Tapi apa sayang.." manik Jesslyn penuh harap agar akhir cerita bisa sesuai dengan keinginan, mana mungkin seperti itu? ini kan cerita rakyat yang sudah memiliki alur sehingga terjadi kisah Telaga warna.
"Ratu melahirkan seorang putri yang cantik. Kelahiran sang putri pun disambut riang gembira oleh segenap warga." Sepenggal kisah sudah tersambung kembali setelah sempat terhenti dengan kata 'tapi'.
"Waah, akhirnya mereka bisa memiliki anak walau dengan penantian lama. Ketika kita mendapat sesuatu dengan proses rumit dan lama maka akan merasakan bahagia yang amat sangat. Bayi yang lahir juga cantik dan tidak kurang satupun, iya kan sayang?" Jesslyn sudah memotong lagi cerita.
"Iya Non, karena orang tuanya memanjakannya sejak kecil, dia tumbuh menjadi gadis yang sangat manja. Jika keinginannya tidak terpenuhi, sang putri akan cepat murka dan berlaku kasar pada siapapun."
"Walaupun begitu Raja dan para rakyat tetap menyayanginya Non. Mereka berharap perangai sang Putri akan berubah seiring berjalannya waktu."
Jiwa penasaran itu memudar saat kelanjutan sudah menyalak di pikiran. Lebih baik menjadi pendengar yang baik dengan tangan sibuk menyusuri lekuk tubuh sang pencerita.
"Suatu ketika sang putri berulang tahun yang ke 17, kerajaan kembali mengadakan pesta. Seluruh rakyat sepakat ingin memberikan hadiah kepada putri sebagai bentuk rasa kasih sayang tulus pada sang putri. Mereka lalu mengumpulkan perhiasan terbaik yang mereka punya untuk dileburkan menjadi sebuah kalung "
"Pada saat penyerahan kalung tersebut, sang putri malah tidak bersikap senang. Baginya kalung tersebut biasa saja dan tidak seperti apa yang diinginkan. Raja malu dengan sikap putrinya, lalu menangis diikuti seluruh rakyat."
"Non..."
Seutas senyum kecil merespon dengkuran kecil istrinya yang tertidur lelap. Lalu menaikan selimutnya lebih tinggi bersamaan dengan pelukan yang semakin dalam.
__ADS_1
...........
Hanya hitungan tiga jam langit sudah menunjukan terangnya. Sayup-sayup suara mengaji setelah adzan subuh masih berkumandang terbawa angin, memupuk mata yang tertidur hampir menjelang pagi.
Bu Unah tukang sayuran yang terjadwal pergi belanja ke pasar pukul setengah enam untuk memenuhi warungnya disaat pedagang lain pergi dini hari, mengendap-endap memeriksa motor anaknya ada atau tidak. Yang di cari tidak di temukan menjadi pertanyaan di kepala Bu Unah sebenarnya sudah pulang belum anak dan menantunya itu.
"Mak, ngapain dah disitu?" Pak Nata menegur istrinya yang masih berkeliaran tidak tentu arah, mengabaikan ruang jok motor Pak Nata yang sudah siap mengantarkannya belanja.
"Perasaan kemarin Dodo bawanya Motor, tapi motor Iyan gak ada. Malah ada mobil baru lagi ini." Masih dengan tatapan menyelidik di seluruh penjuru mobil. Masih juga berjalan mengelilingi pekarangan rumah anak bungsunya yang belum menunjukan tanda-tanda kehidupan.
Pak Nata turun dari motornya, menewak Bu Unah agar cepat naik ke motor. Seukuran pedagang sayur sangat terlambat sekali untuk pergi berbelanja ke pasar. Hanya Bu Unah pedagang tersantai di kampungnya namun masih memiliki penggemar setia.
"Bi Lilis, mau jemurin baju ya?" ada ember berisi pakaian basah teronggok di samping jemuran seharusnya sudah jelas dan tidak perlu di tanyakan mau melakukan apa. "Iya mas" Jawab Bi Lilis sopan. Pertanyaan Iyan hanyalah pancingan untuk mengetahui adakah majikan Bi Lilis di dalam.
"Bapak sama Emak lagi pergi ke pasar ya?" merasa terintimidasi dengan pandangan Iyan menyapu sudut rumah majikannya, Bi Lilis memecahkan kecanggungan.
"Iya Bi, oh iya Dodo dan istrinya sudah pulang belum ya Bi?"
Haduh kok saya sampai lupa ya memastikan Bapak sama Ibu sudah pulang atau belum.
__ADS_1
"Saya belum memastikannya mas, coba saya lihat dulu ke dalam, soalnya tadi pas saya nyuci baju tidak ada orang yang pergi ke dapur ataupun kamar mandi."
Iyan semakin gelisah ternyata Bibi asisten rumah tangganya tersebut belum mengetahui Dodo ada atau tidak.
Do, jangan sampai yang diberitakan itu lu, walaupun gua tahu plat nomornya sama tapi gua masih berharap itu bukan lu Do. Iyan ingin menangis dalam hatinya.
.
.
.
.
Bersambung..
Saudara kandung akan memiliki ikatan batin yang tidak dapat di jelaskan dengan kata, walaupun yang terlihat oleh mata hanya pertengkaran dan pertengkaran.
Jangan lupa menyayangi keluarga.
__ADS_1