Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Akhir cerita


__ADS_3

"Sudah jam berapa ini? manusia jaman sekarang walau punya hp tidak terlalu berguna."


Jesslyn melempar ponsel yang sedari tadi berbunyi kereta api tanpa adanya pengangkatan ke atas tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya di bantal dengan komat-kamit bersumpah tidak akan mengulangi panggilan itu, sepuluh menit kemudian berubah haluan, tangannya merayap mencari benda yang tadi sempat di kata-katai tidak berguna.


Dengan wajah yang masih dibenamkan, Jesslyn mengoceh pada ponselnya tanpa menatap, ia bilang mau menarik kata-kata sumpah tadi jika sekali lagi mencoba panggilan berhasil diangkat. Dia yang bersumpah serapah, dia pula yang ingkar.


"Do, kamu ghosting kaya gini benar-benar menyebalkan. Awas saja kali ini sampai tidak diangkat."


Belum sampai menekan tombol panggilan, pintu sudah menunjukan tanda-tanda kedatangan seseorang. Jesslyn mengintip lewat ekor mata. Tahu siapa yang datang, wanita itu membenamkan wajahnya kembali.


Jesslyn membalikan badan, memunggungi Dodo yang masih berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya ketika perempuan itu menyambut kepulangan Dodo dengan senang hati, kali ini Jesslyn malah membuang muka. Dia kesal, sekaligus sedih karena Dodo mulai sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk memanjakan dirinya.


Dodo yang melihat reaksi Jesslyn sontak mengerutkan kening kebingungan, padahal saat pergi tadi Dodo mendapati istrinya sebagai perempuan yang sangat pengertian. Seperti biasa, Dodo masih polos. dia tidak bisa cepat tanggap pada apa yang dirasakan Jesslyn jika perempuan itu tidak menjelaskan kepadanya.


Sementara itu, Jesslyn merasakan dadanya semakin sesak. Kabut bening mulai menyelimuti bola matanya, hanya menunggu waktu sampai kabut-kabut itu berubah menjadi aliran air mata. Dodo benar-benar tidak peka!, itu lah kalimat yang selalu memekik di kepala perempuan yang bernama Jesslyn.


"Non"


"Hem, masih ingat sama aku?"


Dodo memutar bola matanya, seperti sedang mencari memori tentang apa yang diajarkan Dani menjadi lelaki peka. Dia ingat, walau cuma secercah bongkahan batu kerikil.


Pertama, peluk walau meronta tetap jangan di lepaskan. Karena rumusnya kebalikan, jika wanita mengatakan tidak maka itu yang harus dilakukan.


Kemudian meminta maaf, walau kita tahu kita tidak melakukan kesalahan, yang penting minta maaf duluan itu lebih penting.


"Maaf" suara Dodo terdengar pelan di belakang telinga, namun dapat mendamaikan hati yang berkecamuk. Seketika, Jesslyn cepat-cepat menghapus jejak air bening yang tanpa permisi menetes di belah pipinya.


"Kamu pikir, kamu sudah terlihat keren bisa ghosting kaya gini. Sama sekali gak di mataku. Kamu itu sangat menyebalkan hari ini." Jesslyn mencurahkan kekesalannya.


"Saya tadi ada urusan, sama sekali tidak ada niat mempermainkan Non. Oh iya, Non sudah minum obat sama vitaminya?"


"Sudah"


"Mau pulang hari ini? atau masih mau menginap lagi?" Dodo memberikan pilihan, karena kondisi badan sudah mampu atau belum hanya pemiliknya yang tahu.

__ADS_1


"Pulang, aku tidak suka tempat ini. Tempat ini mengingatkanku pada kejahatanmu meninggalkanku seorang diri tanpa tahu kemana."


Dodo semakin mengeratkan pelukannya, mencoba menghirup dalam-dalam aroma sabun yang menguar dari tubuh sang istri. Ia berharap Jesslyn lekas meredakan kekesalannya agar situasi kondusif. Sebab, andai saja Jesslyn mau menatap lelakinya, Dodo terlihat begitu letih.


Mereka akhirnya pulang dengan Dodo yang selalu memeluk Jesslyn seperti boneka. Perempuan itu membiarkan walau mulutnya masih manyun-manyun. Antara perangai dengan respon tubuhnya tidak bekerja sama dengan baik.


............


Pagi sekali, Jesslyn telah terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata pemandangan wajah sang suami yang menyambut, bahkan pelukannya yang hangat masih menempel erat.


Jesslyn mengusap-usap pipi Dodo yang memang terlihat masih lelah. Apalagi setelah diperhatikan secara seksama, terlihat ada yang kebi pada bagian kelopak mata. Selelah itu kan Dodo saat ini?


Dalam benak Jesslyn ada satu cara yang ingin ia lakukan untuk membangunkan suaminya, sekaligus tanda perdamaian tentang persoalan yang kemarin.


Akhirnya bangun juga.


Dodo membuka mata saat merasakan bibir manis sedang menjelajah bibirnya.


"Non, jam berapa ini!" lelaki itu terlonjak kaget, cepat-cepat dia pergi membersihkan diri lalu menunaikan sholat subuh bersama istrinya.


Setelah selesai, Jesslyn mengintip sebentar ke arah luar. Di rumah mertuanya terpasang tenda dan juga banyak kursi. Lalu mata elangnya juga menangkap ada Neneng disana sedang berbincang dengan Iyan.


"Sayang, coba lihat. Kamu kemarin sibuk karena ini?" Jesslyn menunjuk kearah luar, "iya Non."


Makin berasap kepala Jesslyn, di tambah ekspresi wajah Dodo yang sendu seperti tidak ikhlas jika Neneng harus menjadi Kakak iparnya, atau mungkin ada aib keluarga yang sedang di tutupi hingga terjadi acara tersembunyi.


"Aku mau protes sama emak, biasanya dia selalu cerita apapun ke aku. Tapi kali ini.."


"Non, kita sarapan dulu ya. Sini aa suapin makannya." Dodo menarik Jesslyn yang sedang menggebu- gebu melayangkan protes. Akhirnya, Dodo yang sempat menyebalkan sudah menghilang dan kembali lagi dengan mode suami siaga.


"Makan yang banyak Non, buat kamu sama anak kita." Sambil menyuapi istrinya asupan gizi seimbang, lelaki itu menatap Jesslyn yang sedang lahap dengan bola mata yang sudah berkabut. Makan yang banyak sayang, setelah ini kamu akan tahu kebenarannya. Maafkan saya selama ini.


"Sayang, aku sudah makan dengan baik. Aku juga sudah jadi istri yang patuh. Jadi kamu harus lepaskan aku sekarang, aku mau ke rumah emak."


Jesslyn begitu semangat berjalan menyusuri depan rumah yang masih terlihat banyak sampah yang berserak, perempuan itu sempat bertegur sapa dengan Neneng. Ia memicingkan mata, merasa heran pasangan pengantin baru pagi sekali sudah menyapu halaman rumah mertua.

__ADS_1


"Teh Jesslyn." sapa Neneng cengar-cengir dengan sapu lidi yang masih di genggamannya.


"Iya Neng" jawaban singkat dengan ulasan senyum. Ia melanjutkan lagi misi utama protes kepada Bu Unah.


.


.


Bermenit-menit telah berlalu, saat Jesslyn kembali lagi kerumahnya, pergelangan tangannya di cekal oleh Dodo lalu berkata, "Emak gak ada di rumah."


"Kenapa kamu gak bilang sayang."


"Saya mau bilang Non keburu pergi. Ayo saya antar Non."


Jesslyn mengikuti Dodo dengan berjalan kaki. karena tidak menggunakan kendaraan, Jesslyn berfikir jaraknya tidaklah jauh. Mereka menyusuri bulakan dan pohon-pohon yang cukup besar.


"Emak pagi-pagi sudah nyari lalapan kesukaannya? benar begitu sayang?"


Hening, tidak ada jawaban apapun dari Dodo. Lelaki itu bersikap seolah seperti makhluk astral saja, hanya ada suara tonggeret bercampur kicauan burung kedasih.


Saat sudah sampai, orang yang di cari tidak menampakkan batang hidung. Jesslyn hanya mendapati gundukan tanah merah yang masih basah serta payung hitam teronggok tidak jauh.


Jesslyn sama sekali tidak mengerti apa maksud suaminya.


Setelah Jesslyn memastikan dengan membaca tulisan di papan nisan yang menancap, dunianya seketika berhenti berputar. Badannya lemas seperti jiwa yang melompat dari raga.


Perempuan itu benar-benar runtuh, dia membekap mulutnya dengan kedua tangan dengan badan yang praktis mundur membentur batako penyangga.


Dodo segera menarik Jesslyn dalam pelukan.


"Do, apa maksudnya ini, sebelum aku pergi emak sehat-sehat saja Do. Hiks..hiks..." dengan sisa tenaga, demi membuang rasa sesak di dada Jesslyn memukul kecil ke arah Dodo. Lelaki itu diam saja memaklumi apa yang telah istrinya lakukan.


Jesslyn memeganginya kepalanya, melihat ke arah langit yang mulai menghangat seolah dimatanya sedang berputar.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2