
"Sayang, aku harus bagaimana?" Jesslyn memecah keheningan di dalam mobil yang melaju selepas kembali mengunjungi Erma.
Bukan tanpa alasan Jesslyn meminta pendapat Dodo, selama ini dia hidup dengan rasa dendam dan benci. Jadi, kali ini rasanya dia butuh sandaran untuk bertanya.
"Menurut saya, ikuti kata hati Non saja. Saya yakin jika rasa benci dan dendam itu mulai luntur perlahan, di dalam lubuk hati Non yang paling dalam pasti memaafkan."
Jesslyn termenung lagi, dalam hatinya Jesslyn berdecak kagum pada keluarga Dodo. Chandra yang sedemikian tersakiti masih bisa menerima Erma menjadi teman hidup. Luar biasa, padahal pada kasus mereka, kembalinya Chandra pada Erma adalah antara sebuah kebodohan atau sebenarnya-benarnya makna mencintai.
"Kalau aku sudah memaafkan, kasih tahu aku bagaimana cara memulainya?"
"Dengan Non tidak kesal dan tidak ada niatan untuk melakukan pembalasan jika berhadapan dengannya, Non pada saat itu sudah mulai memaafkannya." Jawab Dodo melirik sedikit ekspresi sang istri.
Tidak terasa, pembicaraan tentang maaf memaafkan di dalam mobil cukup menyita waktu, sampai mobil menepi di depan rumah.
Terpampang mobil Pak Dirga di garasi, Jesslyn segera mengecek keadaan papahnya tersebut sekaligus temu kangen karena Pak Dirga sudah beberapa hari menginap di rumah paman.
"Pah, are you okay?" Suara Jesslyn menggema, tidak ada sahutan dari Pak Dirga. Ah mungkin saja papah sedang tertidur, gumamnya.
"Bi, papah pulang jam berapa? sekarang lagi tidur ya?"
"Tuan tidak pulang Non, hanya mobilnya saja yang kembali. Pamannya Non kesini untuk mengembalikan mobil."
Jesslyn terkejut, memangnya ada apa papahnya sampai tidak kembali. Dia mencari-cari keberadaan Dodo, karena lelaki itu ternyata tidak ada di belakang mengikuti.
Saat Jesslyn hendak keluar rumah lagi untuk memastikan keberadaan Dodo, mereka berpapasan di depan pintu dengan Dodo yang bersanding bersama sang paman.
"Sayang... paman.." Seru Jesslyn.
"Kamu sayang paman?" kata pamannya mengejek. "Bukan paman, maksudnya tadi aku manggil suamiku, eh ternyata ada paman disampingnya. Ya sudah biar adil aku nyapa keduanya hehe."
__ADS_1
"Paman papah mana?" Jesslyn ingat lagi jika ayahnya meninggalkan jejak teka-teki. Jadi dia harus memastikannya pada paman.
"Non" Dodo memanggil sambil matanya melirik kode ke arah pamannya.
Oh iya
Jesslyn meraih tangan pamannya lalu mencium dan menyalami, selembut mungkin Jesslyn menjadi keponakan yang sangat manis.
"Hahaha"
"Kenapa paman tertawa? ada yang lucu?" tanya Jesslyn.
"Tidak apa-apa, hanya ingin tertawa saja."
"Non, paman kesini mau berbicara sesuatu, apa sebaiknya kita ke taman belakang biar saya yang menyiapkan semua."
Ini waktu yang tepat untuk merubah diriku menjadi istri siap siaga.
Pamannya tergagap, "i..ya. benar itu."
Hebat sekali Dodo bisa merubah Jesslyn menjadi seperti ini. Batin Paman.
Sudah di taman belakang.
Jesslyn membawakan berbagai camilan serta buah, tidak lupa juga dengan minuman segar yang menggoda tenggorokan haus.
Flashback
"Bi, persiapkan aneka kue serta jenis buah yang ada di kulkas. Minumnya juga yang segar-segar kalau bisa tampilannya yang kekinian."
__ADS_1
"Baik Nona"
Setelah memberikan deskripsi perintah kepada bibi pelayan, dia hanya sibuk memperhatikan saja, sesekali mengkritik jika ada yang tidak sesuai seleranya.
Seperti ini kan gampang, tinggal perintah. Cuma My Dodo saja punya asisten rumah tangga tapi tidak pernah nyuruh, hehehe.
Flashback berakhir
"Perjamuan sudah siap, silahkan disantap dan dinikmati. Ini buatan aku sendiri." Jesslyn berulah, main mengakuisisi hasil pekerjaan orang lain.
"Do, kamu percaya?" Paman memberikan tugas pada Dodo untuk menilai apa yang diucap Jesslyn barusan.
Dodo tersenyum, menggelengkan kepalanya pelan. "Saya percaya jika semua ini di antarkan oleh istri saya dari dapur." Tapi masalahnya bukan itu pertanyaannya Bambang.
"Tapi kamu percaya kalau Jesslyn yang buat?" Dodo menggeleng lagi. "Jujur sekali kamu Do, memang pria sejati harus selalu jujur ya?" Pamannya tergelak tipis.
"Sudah.. sudah, perkara ini sudah di tutup." Jesslyn membuat suara tiruan ketuk palu seperti hakim, terbuat dari kepalan tangannya yang beradu dengan meja.
"Jadi bagaimana Paman? Papah dimana? baik-baik saja kan?"
"Papahmu baik-baik saja. Aman terkendali tidak kurang satu pun. Hanya saja.." Paman mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tas dan menyerahkannya pada sang keponakan.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...