
Untuk hari ini, dari siang sampai malam, Jesslyn dan Dodo terpisahkan oleh jarak. Berkabar pun tidak, sengaja dilakukan, karena mereka saling mengerti satu sama lain.
Jesslyn sedang disibukan dengan perkara hukum yang menjerat Erma. Tanpa bantuan Bram mungkin jesslyn akan kesulitan untuk membongkar kisah kelam yang di kubur dalam.
Walaupun begitu, tidak seharusnya Bram memonopoli masalah rumah tangga Jesslyn. karena dia sangat tidak berhak atas hal itu.
Sialnya, Bram mengantongi jasa yang telah membuat dendam Jesslyn tersalurkan. Mengingat Jesslyn selalu menghargai hasil kerja keras orang lain serta bukan tipe kacang lupa kulitnya, Jesslyn harus mencari cara bagaimana dia bisa berterimakasih tanpa harus mengorbankan cinta.
"Bram, saya sangat berterimakasih atas kerja kerasmu selama ini. Saya akan memberikan bonus di luar urusan pekerjaan, serta beberapa hadiah properti yang berada di daerah Bandung. Tapi, saya tidak bisa mengakhiri perjanjian kontrak nikah dengan Dodo, saya akan melanjutkan rumah tangga ini."
"Boleh saya mengobrol santai dengan Bu Jesslyn di luar pekerjaan?"
"Iya silahkan."
"Apakah nona Jesslyn sudah tahu perasaan saya?" Bram berkata seperti itu, karena arah pembicaraan Jesslyn yang seolah menghentikan usahanya.
Jesslyn diam, dia tidak mau mengiyakan maupun bilang tidak tahu.
"Kalau cleaning service saja bisa mengambil hati nona Jesslyn, kenapa saya assisten yang selalu menemani dan mendukung tidak bisa melakukannya?"
"Bram"
__ADS_1
"Kehadiran saya sudah lebih lama daripada dia, bagaimana bisa dia melangkahi saya yang lebih dulu tulus menyayangi nona. Maaf jika perkataan saya kurang sopan. Tapi ini memang kenyataannya."
"Jika posisi kamu mencintai seseorang, tapi kamu juga dicintai oleh orang lain. Apa yang kamu lakukan?" Jesslyn bertanya balik.
Bram tahu ini pertanyaan jebakan, akal bulus sudah dipersiapkan untuk menghadapi ini.
"Saya menerima orang yang mencintai saya. dengan perlahan saya juga bisa sepertinya."
"Kalau saya tidak bisa, bagaimana?"
Bram diam.
"Bram, maaf aku gak bisa mengakhiri rumah tangga ini. Kamu berhak bahagia, begitupun dengan kami."
Jesslyn sudah merasa takut.
Sebagai manusia, kita tidak boleh terlalu berharap pada manusia juga, apalagi soal kebahagiaan kita dari satu sisi. Selalu berharap hari demi hari, bersabar waktu demi waktu, hingga waktu yang ditentukan tiba dan sangat tidak sesuai dengan harapan, hancurlah perasaan berkeping-keping.
Terkadang apa yang kita yakinkan hasilnya, 'pasti akhirnya begini soalnya sekarang begini' tak jarang malah sesuatu yang tidak masuk akal bakal bisa terjadi. Karena manusia hanya berperan dan berusaha, bukan yang menentukan.
Inilah yang terjadi pada Bram, sudah dipastikan apa yang selama ini ditunggu malah akan tidak pernah bisa diraih olehnya. Selama ini menunggu hari dimana ketidaksukaannya melihat Dodo dekat dengan Jesslyn malah harus selamanya melihat itu.
__ADS_1
Jangan pernah terlalu berharap bisa memiliki jika pada akhirnya harus merelakan, dan jangan pernah terlalu berharap bisa lepas dari beban, jika pada akhirnya yang kau anggap beban akan selamanya bersamamu.
"Baiklah jika itu akan membuat nona bahagia, tapi tidak semudah ini saya melepaskan. akan ada syarat dan ketentuan yang harus dilewati agar hati ini bisa sanggup untuk merelakan."
"Apa itu?"
"Tentunya bukan sejumlah hadiah mewah dan bentuk penghargaan. Saya akan kasih tahu nanti setelah sidang pembunuh kakak nona selesai." sengaja menekankan kalimat itu agar Jesslyn tidak lupa tentang keberhasilan dendamnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Bram : jadi mengsedih aku Thor.
__ADS_1
Author : sabar Bram, pasti akan ada yang indah pada waktunya. yang pasti bukan sesuatu yang kamu inginkan saat ini.
Jangan lupa bahagia !