
"Iya Bram, memang kamu benar. Cinta itu gak bodoh, yang bodoh itu caranya. Sekarang kamu ngerti kan mengejar orang yang kita cintai tapi tidak sebaliknya sangat melelahkan."
"Kamu sudah lelah Dara?" tanya Bram.
"Hah, kok aku? memangnya aku kenapa? itu kan kalimat untuk kamu Bram." Dara panik dia juga meneguk minuman, sialnya dia salah meneguk hingga meminum bekas Bram tadi.
"Ya kirain kamu sudah lelah" Bram tersenyum, "Dar, itu punya aku." matanya menunjuk botol minum yang masih di pegang Dara, gadis itu menegang dengan jantung yang berdegup kencang.
Mati aku.
"Hehehe, iya nih. Maaf ya gak sengaja." cepat-cepat Dara menaruh ke tempat semula lalu meneguk miliknya yang masih penuh.
"Dar, kalau di film dan cerita novel, berbagi minuman itu sama seperti c*uman secara tidak langsung. Kamu berusaha menci"mku ya?"
"Ah masa sih, aku kan tidak sengaja Bram." Dara merah padam, bagaimana bisa dia sebodoh ini.
"Iya percaya, gak sengaja." Mengacak rambut Dara, "Dar maaf ya, aku selalu mengingkari setiap kita punya janji ketemu, padahal aku lagi gak sibuk."
"Padahal setiap kali kamu bilang tidak bisa menghadiri ajakanku kamu pasti bilangnya sibuk."
"Yah, namanya juga lelaki. Banyak alibi kalau lagi menghindar dan sedang mengejar kesenangannya."
Deg.....
Perih..perih, hati Dara mendengar kejujuran menyakitkan dari Bram. Dara sebisa mungkin bersikap biasa saja agar perbincangan tetap lancar. Tapi, yang namanya menyembunyikan tetap akan terlihat gusar.
__ADS_1
"Astaga,, Dara maafkan mulutku yang tajam ini ya. Harusnya aku tidak bicara begitu."
"Hahaha apaan sih Bram, aku sudah biasa. mending jujur walau menyakitkan daripada bohong tapi bikin kasmaran." Dara masih bisa senyum walau dipaksakan, dia kini beralih menyuap camilan yang mereka beli tadi saat berangkat ke taman.
"Bram, aku senang kamu bisa merelakan Jesslyn bahagia dengan suaminya. Setidaknya kamu tidak akan tersakiti lagi dengan ambisimu. Dan juga, kamu bisa lebih menghargai diri kamu sendiri."
"Terimakasih atas pujiannya."
"Dih, siapa yang muji?"
Bram tergelak, dia mengambil botol mineral milik Dara, lalu meneguknya.
"Bram itu kan punya aku."
"Dara, kamu kuliah sudah semester berapa?"
"Sudah lulus dua tahun yang lalu."
"Oh, sekarang berarti kerja? atau nunggu di lamar orang?"
"Bram setiap aku membantu tugasmu, aku tidak berhenti mengoceh kalau aku akan pergi bekerja ke PT. Xxx dan kamu selalu jawab iya Dara pergilah." Jawab Dara dengan sabar.
"Besok aku yang antar kamu. Jangan naik bus lagi."
"Bram, aku selalu naik ojol, bukan bus."
__ADS_1
"Oh, maaf ya aku salah lagi, aku banyak tidak tahunya tentangmu."
"Iya Bram, gak apa-apa. Oh ya aku penasaran tadi kamu bilang kamu berhenti mengejar Jesslyn karena sudah jatuh cinta, maksudnya apa?"
Bram menghela nafas, diam sejenak menggantung pertanyaan Dara. Dalam benaknya, Bram malu untuk mengakui kejahatannya selama ini dan juga malu bercerita kalau dia mengagumi Dodo.
"Pertanyaannya berat ya? yasudah tidak di jawab juga tidak apa-apa." Dara melirik ke arah jam tangan. Waktu menunjukan pukul 10 malam.
"Aku mau cerita sama kamu tapi cukup untuk kamu simpan sendiri, sebenarnya aku jatuh cinta sama Dodo, suaminya Jesslyn."
"Apa? Bram kamu masih normal kan?" mengguncangkan tubuh Bram agar lelaki itu sadar.
"Dara, setelah kamu menc*umku tadi sekarang kau malah memegang diriku." Bram tersenyum penuh kemenangan lagi, membuat Dara menarik kembali tangannya dari bahu Bram. Rencana menjaga sikap di hadapan Bram yang tiba-tiba berubah sikap hanya tinggal sebuah Rencana.
"Dengarkan aku dulu" Bram memulai cerita.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1