
Masih meluk-meluk Dodo sambil terus bergumam. Jesslyn belum bisa tenang dan bersikap normal jika suaminya belum menceritakan secara mendetail apa yang telah terjadi pada hari ini. Surat mengerikan itu bukanlah hal kecil bagi Jesslyn.
"Non tenanglah, saya akan ceritakan kepada non." Dodo mengusap kepala sang istri agar lebih tenang.
Jesslyn mengangguk, masih menyisakan suara tangis manja. Huu..hu..hu.. melirik wajah Dodo sekilas lalu memejamkan mata di pelukan suami sambil huu..hu..hu..lagi.
"Non sayang, tadi waktu di telepon non bilang apa itu kangen, mau saya jelaskan?" sebenarnya Dodo juga bingung harus jawab apa, kalimat ini semata hanya untuk mengalihkan tangis manja istrinya.
"Tidak usah di jelaskan. Aku sudah paham." Jawab Jesslyn merapikan wajahnya. "Ayo ceritakan aku sudah sedikit tenang untuk mendengarkannya. Ingat jangan ada kebohongan di dalam cerita ini."
"Iya non saya akan mulai cerita."
Dodo menceritakan secara jelas dari awal sampai akhir dia terlibat masalah. Bukan karena dia orang jahat hingga memiliki musuh, dia mendapat hadiah musuh karena meneruskan posisi orang dengan masa lalu yang kurang baik.
Orang yang telah dia gantikan, memiliki kemiripan dengan Jesslyn. Kemiripan sifat benci terus menerus hingga banyak menimbulkan masalah. Sejatinya, benci itu sama dengan racun, diri sendiri yang menenggak tapi menginginkan orang lain yang mati.
Jika keadaan seperti itu, tidak heran Dodo memposisikan sebagai penawar. Walau pendapat orang, Dodo malah terlihat kelewat baik cenderung bodoh. Dia tetap tidak peduli.
Pecinta kedamaian tidak akan membiarkan itu.
"Non, kelak non akan mengerti bahwa kita tidak boleh memelihara rasa benci menjadi lebih besar."
Jesslyn merenung.
"Sayang, bisa tidak kamu jadi orang jangan terlalu baik?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa non?" Dodo heran.
"Kalau terlalu baik cepat matinya." Di bubuhi senyuman manis. "Aku tidak mau kehilanganmu lebih cepat." Lanjutnya lagi.
Saking gemasnya, Dodo mencubit pelan hidung mancung istrinya, Jesslyn meringis dan memegang tangan Dodo yang tadi dipakai mencubit. Bukan ingin memberikan
hukuman pada tangan itu, tapi dia menempelkannya lagi di hidung minta di cubit lagi seperti tadi.
"Cubit lagi sayang, hukumlah aku ini yang suka memelihara rasa benci." Pinta Jesslyn dengan wajah dibuat menggemaskan.
"Saya tidak bisa menghukum non dengan kekerasan." Dodo pura-pura bijak. "Kalau menghukum non pakai kelembutan saya bisa." Senyuman manis itu terpampang lagi, jika terlalu lama di pandang akan membuat khilaf.
"Sayang"
"Hmm"
"Sayang"
...........
Suara hujan datang begitu deras, percikan air yang menetes dari genting menjadi pemandangan sendiri bagi Bu Unah yang sedang duduk bersama Pak Nata di depan warung.
Datang dari kejauhan seseorang memakai payung semakin mendekat. Dia Neneng, ingin membeli pembasmi nyamuk di warung Bu Unah.
"Bi, mau obat nyamuk bakar ada? sama lilin takut nanti mati lampu" Payung diletakan terbuka dekat tiang, angin pun menerbangkannya dan
__ADS_1
Grep..
Iyan menangkap payung itu bak pahlawan. Kali saja bisa dapat jodoh berawal dari menangkap payung terbang terbawa angin.
"Untung ada Abang Iyan tuh neng, payungnya jadi selamat." Ujar Pak Nata, sedikit ada unsur cie..cie..
"Iya nih mang" Neneng malu. Pipinya sudah merah padam.
Bu Unah datang memecah kecanggungan, memberikan barang yang di beli Neneng dan bertanya apakah yang sedang terjadi.
Pak Nata secara gamblang menceritakannya di depan Neneng, sedangkan Iyan sejak mengembalikan payung dia pergi ke dalam rumah, tidak tahu jika dirinya menjadi bahan perbincangan.
"Kalau begitu ceritanya, jadi kaya judul sinetron pak." Bu Unah berani berkomentar melihat Neneng sudah beranjak pergi.
"Apa Mak?"
"Kakak dari orang yang pernah aku sukai adalah suamiku sendiri."
"Huaayooh, bisa aja emak haha." Mereka tergelak bersama meramaikan suara hujan.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...