
Mampir sebentar di lokasi wisata, pasangan Dojess hanyut dalam berbagai permainan menyenangkan, salah satunya outbound. Walaupun Jesslyn dalam keseharian rapuh dan selalu butuh perlindungan, tapi saat dalam ketinggian dirinya begitu pemberani dan tak menunjukan takut walaupun dengan bahasa tubuh.
Kemudian, mereka beralih menyusuri danau dengan menaiki perahu. Dodo yang mendayung, Jesslyn yang duduk manis meracau senang. Sesekali Jesslyn mendayung kecil dengan tangannya masuk ke air, namun Dodo selalu memberi peringatan kepada istrinya untuk tidak menceburkan tangannya.
"Non, jangan ceburkan tangannya ke air. Saya khawatir."
"Apa yang di khawatirkan sayang, kan cuma air bukan api."
"Saya takut ada.." Belum sampai sempurna kalimat Dodo, sudah ada ular air yang melintas. Jesslyn mengangkat tangannya dengan cepat lalu menyembunyikannya di perut.
Walau jarak ular itu melintas tidak terlalu dekat dengan perahu, tetap membuat jantung Jesslyn serasa copot.
"Tetap disitu Non, biar perahunya imbang. Jangan panik, dia hanya lewat saja."
Dodo memutar balik, dan cepat mendekati tepi.
...........
Matahari yang sempat menyinari dengan terang kini redup tertutup awan mendung. Rintik-rintik air yang jatuh dari langit kini mulai mengusap manja kulit.
Dodo masih tetap memacu lajunya menuju arah pulang. Dibelakangnya, Jesslyn semakin mengeratkan pelukan karena cuacanya begitu dingin.
Jesslyn menggigil, mulutnya mengeluarkan rintihan yang membuat cemas. "Sayang, dingin sayang, suamiku aku kedinginan, Do aku dingin." Dodo mau menepikan motornya namun belum ada tempat yang nampak, hanya ada pepohonan dan hamparan kebun teh.
Akhirnya, warung yang sering di kunjungi Dodo bersama grup bukan ikan biasa sudah dekat dan akan sampai. Dia menepikan motor bersamaan dengan air yang semakin besar.
Syukurlah tepat waktu
__ADS_1
Tidak ada jaket tebal yang melindungi, Dodo menggunakan metode penghangatan tangan untuk untuk menenangkan Jesslyn. "Iya Non, aa disini." Menjawab rintihan Jesslyn yang belum kunjung usai.
Situasi gelap dan mencekam, listrik pun ikutan padam. Dodo melihat ada yang tidak beres, dia segera menggendong Jesslyn agar berada dalam pelukannya kemudian lari dengan cepat.
Brassshh.. Jeeggeeer..
Suara hantaman begitu keras, Truk bermuatan menabrak warung yang sempat dihinggapinya tadi. Beruntung, sang pemilik warung hanya mengalami luka ringan, sebab saat hantaman itu terjadi, sang pemilik warung sedang di belakang menyalakan lilin.
Lokasi hantaman terparah tepat dimana Dodo dan Jesslyn duduk.
Sepeda motor milik Iyan sudah tidak ada rupanya lagi. Ringsek tidak berbentuk. Lalu tidak berselang lama ada minibus menabrak truk muatan itu.
Situasi bertambah mencekam, segelintir orang meninjau apa yang sedang terjadi dari jarak jauh, mereka tidak berani mendekat dulu. Khawatir akan ada hantaman susulan lainnya.
Jalan menjadi tertutup, lama kelamaan kemacetan tidak dapat terelakan. Mobil pertama yang datang ketika kecelakaan itu terjadi adalah mobil yang di tumpangi Bram dan Dara.
"Haduh bagaimana ini, mana aku tidak tahu jalan alternatif disini. Ponsel juga lagi tidak ada signal."
"Aku turun dulu ya Bram, mungkin ada informasi yang kita dapat." Dara meraih payung dan keluar dari mobil Bram.
"Dar...." Bram menghentikan Dara namun telat. Gadis itu sudah berjalan menemui warga sekitar. Bram sama sekali tidak menyangka Dara adalah gadis yang kuat dan tidak memiliki rasa takut. Apalagi dengan kata manja, Dara jauh sekali dengan itu.
Mau ikut turun tapi hujan masih begitu deras. Akhirnya Bram menunggu cemas sambil mengetuk-ngetukan kemudi.
Cukup lama Dara meninggalkan mobil, Bram semakin pias, dia tak dapat berfikir jernih dan selalu berfikiran negatif. Lelaki itu kemudian membuka handle pintu mobilnya.
Sementara itu di tempat berbeda dalam waktu yang sama.
__ADS_1
Memang belum ada hujan yang turun, tetapi angin dingin sudah terasa menusuk tulang. Bu Unah kini berpakaian tebal dengan lengan panjang, tidak seperti biasanya memakai kaus oblong tanpa lengan.
Ia dan Pak Nata Duduk di teras rumah sambil menjaga warung dari kejauhan. Di lain ruangan, ada Iyan sibuk bermain dengan ponsel sambil rebahan di atas kasur. Sampai scrool layar ponselnya berhenti pada berita News Bogor terkini.
Matanya membulat sempurna saat gambar kecelakaan tesebut dia zoom, mendapati stiker di motor sport merah miliknya sama dengan yang ada di serpihan motor hancur di gambar.
Sabar, tenang, tarik nafas lalu buang. Stiker banyak yang sama yan, dia menasehati dirinya sendiri. Kini tubuhnya sudah ada tenaga untuk duduk tegap sambil mencari informasi akurat lainnya.
Iya penasaran berusaha mencari plat nomor kendaraan yang terlibat kecelakaan tersebut.
Praaanggg...
"Lah Mak, gelas lagi di genggam begitu pake jatuh." Pak Nata heran.
"Iya ya, ini tangan berasa letoy banget." Jawab Bu Unah tak kalah herannya, mereka tidak mengartikan lain hanya sebuah gelas jatuh, tidak lebih.
Iyan semakin pias mendengar keributan di luar. Semoga Dodo dan istrinya baik-baik saja.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa bahagia.