Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Persiapan kotak makan


__ADS_3

Dalam acara sarapan pagi, Jesslyn menyemburkan tawa tanpa ada lelucon. semua bingung ada apakah gerangan?


"Non, ada apa?" Dodo khawatir.


"Sayang, ada apa nak?" pak Dirga tak kalah khawatirnya.


Jesslyn masih tergelak, menarik nafas agar bisa menjawab.


"Gak ada apa-apa. cuma lagi bahagia aja." Tersenyum lagi, dengan pikiran yang masih mengingat kegiatan menjelang pagi. Melirik sebentar Dodo, memberikan sinyal agar suaminya itu mengerti kalau dia lah sumber kebahagiaan pagi ini.


Dodo yang sudah mendapat pelajaran banyak dari bang Dani apa itu artinya peka, langsung mengerti.


..........


Sudah dalam mode atasan dan bawahan.


Jesslyn berjalan diikuti Bram dengan menegakkan kepala, seperti biasa ucapan selamat pagi dari para karyawan memenuhi ruangan.


"Selamat pagi juga, selamat bekerja keras untuk kalian semua."


Kosakata Jesslyn sudah berubah, yang awal hanya diam dengan menjawab dalam hati. saat ini, sudah berderet kalimat balasan yang dapat memberi semangat bagi para karyawan.


Barulah sekarang mengerti, situasi apa yang terjadi hingga menyebabkan bos nya mau menjawab sapaan. Dodo, ya Dodo yang sekarang menjelma menjadi pahlawan di pikiran para karyawan atas mencairnya kebekuan Jesslyn.


Dodo juga ada disana, di barisan paling belakang namun paling menonjol di hati. Setelah bisa menangkap keberadaan suaminya, Jesslyn lanjut melangkah dengan senang.


Jesslyn mengetikan pesan...


"Sayang, kotak makan siang aku mana?"

__ADS_1


^^^"Mendekati jam istirahat akan saya antarkan non"^^^


"Tumben kamu gak umpet-umpetan?"


^^^"Sembunyi dari siapa lagi non, kita kan sudah bahagiašŸ¤—"^^^


🄰


Benar adanya apa yang dikatakan Dodo, untuk apa persembunyian itu masih berlanjut, jika seisi dunia sudah mengetahui kebenarannya. Sekarang tinggal bagaimana lelaki itu bertindak untuk masa depan bersama Jesslyn.


Bram masih setengah hati untuk menerima pukulan mundur. Mencari celah kesalahan Dodo masih menjadi agenda rahasianya. Namun sejauh ini belum ada tanda yang bisa dia pakai untuk menyerang keaslian cinta Dodo kepada Jesslyn.


*A*pa memang benar Dodo itu anak baik?


Hatinya pun mulai mempertanyakan, ragu dengan pendirian teguh selama ini. Namun hati kecil nya masih berusaha mengelak jika dia belum membuktikannya sendiri.


Hari ini,


"Bram, persiapkan semua yang diperlukan untuk rapat nanti."


"Iya Bu, semua sudah siap."


"Bagus kalau begitu."


Jesslyn berdiri meninggalkan ruangan, memastikan juga persiapan untuk dirinya.


"Ehemm"


Deheman itu mengagetkan Dodo yang sedang berada di janitor. Beruntungnya Dodo sedang berada seorang diri, jika tidak, mungkin Jesslyn akan kesulitan untuk memanggil. Dodo atau my Dodo? kalau sayang di tempat kerja tidak akan mungkin.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu bu?" beda hal dengan Dodo dia masih bisa bersikap baku.


"Ehmm, my Dodo" panggilnya, kata 'my' sedikit dipelankan, "kotak makanku mana? aku mau bawa ke tempat rapat, khawatir tidak bisa kembali cepat kesini." lanjutnya lagi sambil mengadahkan tangan.


Dodo pun menyerahkan apa yang diminta.


"Terimakasih."


"Iya Bu, hati-hati di jalan. semoga lancar rapatnya, dan jangan lupa.."


"jangan lupa apa?"


"bahagia" dibubuhi senyumannya yang manis. hampir saja Jesslyn lupa diri ingin berpamitan dengan mencium tangan suami.


Jesslyn enggan untuk balik kanan lalu pergi, gadis itu masih saja tebar senyam senyum kepada Dodo. Sampai akhirnya dia mengetuk-ngetuk pipinya, kode.


Dodo menanggapi dengan memberi cap bibir pada dua jarinya, menengok suasana sekitar aman, cap di jarinya pun di tempelkan di pipi Jesslyn.


Jesslyn menahan tawa, membekap mulutnya sebisa mungkin, baru dia mau untuk balik kanan. dan..


Bram berdiri mematung menyaksikan adegan tersebut.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2