Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Hujan


__ADS_3

Bram tiba di rumah Dodo beserta bukti yang disimpan aman. Bram melihat rumah Jesslyn tidak ada tanda kehidupan. Dia menelpon bosnya itu tanpa bertamu dahulu barangkali menanyakan pada Bi Lilis, sang asisten rumah tangga.


Hujan deras membuat Jesslyn tak mendengar dering ponselnya. Dia begitu asyik menikmati kebersamaan yang bakal dia rindukan nanti.


"Do, tadi itu siapa?"


"Itu to'ing, dia teman saya. Setiap malam To'ing memang selalu tidur disini."


"oh, lumayan tampan juga ya."


Dodo tidak tahu harus menjawab apa, karena dirinya pun laki-laki yang tak bisa menilai ketampanan seseorang, karena tampan adalah relatif.


"Non, maaf ya gara-gara saya non jadi terjebak hujan disini."


"Iya nih harusnya aku di rumah lagi merebahkan tubuh sambil menikmati teh hangat. Di tambah nonton drama, lengkap sudah."


Jesslyn melirik sebentar bagaimana reaksi Dodo mendengar jawabannya.


Dodo nampak merasa bersalah. Perasaannya begitu tak enak menjadikan jesslyn terjebak dalam situasi seperti ini. Dia hanya bisa berharap hujannya lekas mereda.


"Do, kalau aku gak bisa lagi di sampingmu, kamu akan bagaimana?"


Dodo menarik nafas dalam.


"Pasti kamu senang ya bisa berakhir dengan perjanjian kontrak nikah yang sudah ku buat." lanjutnya lagi.


Jesslyn sangat penasaran atas jawaban Dodo dengan pertanyaan pancingannya tersebut. Sebenarnya apa yang di rasakan Dodo sama atau tidak dengan apa yang dirasakan Jesslyn, masa iya Dodo tidak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap jesslyn yang cantik, cerdas, dan elegan.


*K*alau jawaban dia datar, Dodo sebenarnya normal gak si sebagai lelaki. Masa iya sedikitpun gak ada rasa tertarik denganku. Eh apaan sih kok aku jadi ke pede an gini.

__ADS_1


"Pernikahan kita diawali sebuah kontrak, jadi akhirnya pun akan tragis. Saya sudah waspada diri akan hal itu jauh sebelum melangkah. Walau.."


"Walau apa?"


"Tidak apa-apa non."


"Do, ku mohon jujur aja." Jesslyn penasaran.


Petir menggelegar, membuat Jesslyn reflek memeluk Dodo dan bersembunyi di tubuhnya. Dodo menenangkan istrinya yang sedang ketakutan dengan mengusap kepala lalu berkata.


"Jangan takut, ada saya disini non."


*i*striku, saat kamu mengatakan jika tidak lagi disampingku. Hati ini perih. Siapa yang akan menjagamu nanti? bisakah kamu menemukan orang yang benar menyayangimu tulus tanpa melihat status dan paras wajah cantikmu. Aku takut tidak ada yang bisa menjagamu dengan baik.


Jesslyn terus memeluk erat Dodo yang mulai merasakan sesak di dada. Degupan jantungnya terdengar oleh Jesslyn dan memicu pertanyaan.


"Do, jantung kamu detakannya cepat."


*M*ungkin apa ya


"Mungkin apa Do? sakit?


"Bisa jadi non." Dodo sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jesslyn agar situasi kondusif.


"Maaf non, saya agak menjauh biar tidak tertular sakit." Dodo kehabisan kata sampai bicara yang tidak masuk akal.


"Do, aku udah tertular. Jantungku juga berdetak dengan cepat, pipiku juga panas. Apa kita sama? coba aku periksa."


Jesslyn seperti dokter sungguhan mengecek pipi suaminya dengan kedua tangan. Ekspresi wajahnya seolah dia khawatir tapi aslinya Jesslyn sangat menikmati kecanggungan Dodo.

__ADS_1


"Kita kira-kira lagi sakit apa ya?" tambah Jesslyn lagi yang seolah sedang berfikir. membuat Dodo semakin gugup.


Suara petir keras menggelegar lagi, sontak Jesslyn pun kehilangan keseimbangan saat sedang beradu pandang. Tubuhnya terjerembab dalam pelukan Dodo, akhir-akhir ini kehangatan Dodo merupakan candu bagi Jesslyn.


..........


Bram menunggu di teras rumah bertemankan hujan dan petir. Ingin kembali saja tapi belum ada perintah. Jangankan perintah, kabar Jesslyn saja Bram tidak tahu berada dimana. Siapa tahu hujan reda rencana bakal dilangsungkan.


Volume air yang deras berubah menjadi rintik. Tetesan air yang awet jika di tunggu sampai benar-benar berhenti. Bram menelpon lagi Jesslyn, nasib baik tidak berpihak padanya karena nomor yang dia hubungi sedang tidak aktif.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ..


Jangan lupa bahagia


__ADS_2