Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Pembicaraan Toyib dan Bu Unah


__ADS_3

"Bro Willy, hari ini saya tidak datang ke kantor. Tapi saya mau mengadakan meeting zoom dari sini, saya minta tolong kepada Bro Willy untuk memberitahu semua kepala divisi."


"Beres, oh ya Do kecelakaan di Bogor kemarin benar lu salah satu korbannya? dari informasi yang gua dapat sih begitu."


"Iya benar"


"Berarti gua sekarang lagi ngomong sama hantu lu nih?"


"Saya masih berupa manusia Bro Willy, saya beserta istri masih di beri keselamatan."


"Oh, bagus dah." Jawab Willy singkat dan padat.


Ekspresi Dodo di balik obrolan sambungan telepon biasa saja, lelaki itu selalu memaklumi segala jenis tingkah orang-orang disekitarnya tanpa memperdulikan perasaanya sama sekali.


Perlu diperhatikan dengan apa yang menyangkut situasi sekililing kita, sudah benarkah diri ini dalam berucap? jangan sampai merasa menjadi orang yang paling menderita oleh lingkungan, padahal yang terjadi malah sebaliknya. Lingkunganlah yang tersiksa olehmu.


Jemari tangan Dodo menari dia atas benda lipat pintar yang telah meringankan pekerjaan, mengakses dengan mudah segala data penting. Dengan teknologi semakin canggih, keadaan yang tidak bisa memadai bisa mendekatkan yang sedang berjauhan.


Mendekatkan yang berjauhan bisa, menjauhkan yang sedang berdekatan juga bisa. Yang tidak bisa dilakukan adalah membolak-balikan hati manusia.


Di samping Dodo sedang mempersiapkan data untuk rapat yang akan segera terhubung, Jesslyn datang duduk di dekatnya membawa sebuah laptop. Dia juga sedang ingin melakukan apa yang suaminya lakukan. Mereka tidak janjian, realisasi dari apa yang telah mereka pikirkan masing-masing menjadi bukti bahwa mereka sepemikiran dan juga sehati.


"Kamu meeting zoom juga?" katanya berbarengan. Cie..cie..kompak.


"Iya" Jawabnya lagi serempak. Merasa obrolannya begitu absurd mereka pun memutuskan untuk saling diam.

__ADS_1


Dodo bergeser tempat duduk menjauh agar bisa menjalani rapat dengan tenang tanpa mengganggu satu sama lain. Dengan aksi Dodo tersebut Jesslyn memicingkan mata kecewa. Tadi saat di kamar Dodo selalu dekat-dekat, ketika sudah dapat kini jauh-jauh. Begitulah cara pikir orang dari satu pandangannya tanpa mau tahu penjelasan pihak sana.


"Maaf Non, saya menjauh karena tidak mau mengganggu rapat." Dodo bangun dari duduknya, mengalihkan perhatian kepada Jesslyn. " Non, setelah ini saya tidak akan jauh-jauh lagi." Cium bermakna dalam kembali mendarat.


"Maaf sayang, kok kamu tahu apa yang aku pikirkan?"


"Saya tidak tahu apa yang Non pikirkan, saya hanya peka dengan perubahan senyum Non." memang awal datang Jesslyn tersenyum sumringah secerah hatinya yang berbunga-bunga. Setelah Dodo berpindah tempat senyum itu hilang bak ditelan bumi.


Kegiatan pun dimulai, mereka telah disibukkan dengan urusannya sendiri.


Saat zoom sedang berlangsung membahas hal penting yang harus didiskusikan, terdengar suara gaduh dari luar rumah. Sayup-sayup suaranya mirip Toyib, Rohim, Jamal, dan Juga To'ing.


.


.


"Ini Bi, mau ada perlu sama Dodo. Orangnya ada kan Bi di rumah?"


"Ada ing, samperin aja ke rumahnya."


"Bi Unah, cantik banget si hari ini kaya bidadari turun dari pohon terong." Ujar Toyib bergurau kepada Bu Unah. "Lu juga sama Yib hari ini ganteng muka lu udah kaya pare".


"Bisa aja emaknya Dodo ini, Bi tau gak saya mimpi...." Toyib bercerita perihal mimpinya kepada Bu Unah, mimpi memang tidak terlalu jelas, kadang samar di ingatan. Namun Toyib dapat menceritakan mimpinya dengan sempurna.


"Yah Yib, sebenarnya mah cita-cita gua pengen liat Iyan Nikah sama nimang cucu dari Dodo."

__ADS_1


"Semoga terkabul Bi, saya do'akan selalu. Katanya Do'a orang yang teraniaya cepat dikabulkan, saya cukup teraniaya kali aja manjur hehe"


"Lu liat noh si Toyib, teraniaya apanya." Ucap To'ing sambil menunjuk ke arah Toyib dan Bu Unah berada. Walau To'ing, Jamal, dan juga Rohim sedang duduk-duduk di teras rumah Dodo, mereka dapat mendengar baik apa yang sedang jadi perbincangan. Suara Toyib dan Bu Unah begitu melengking.


"Emang tai ledig tuh orang." sahut Jamal sambil merekam aksi Toyib dengan kamera ponsel, dokumentasi untuk senjata bagi kawanan Dodo.


Rohim terkekeh, menyemburkan tawa saat Toyib terus saja meracau bahwa Jamal dan To'ing digadang-gadang sebagai pembully ulung dalam grup bukan ikan biasa. Toyib berapi-api menceritakan itu semua, sampai kalimat terakhir yang terlontar membuat Rohim terdiam menelan ludah.


Pasalnya, Toyib bercerita jika dia pernah sarapan kentut Rohim. "Mampuss lu him, tadi lu ketawa, sekarang lu yang kena. Dia yang kentut lu yang di salahin hahaha syalalala." To'ing puas sekali meledek Rohim. Rohim pikir yang kena silat lidah Toyib cuma To'ing dan Jamal. Ternyata dirinya juga kena bahkan lebih parah.


Ceklek..


Pinta terbuka lalu muncul sosok lelaki tempan bernama Dodo. "Ada apa ini?"


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2