
Di taman,
Menjelang sore sebelum pulang Dodo memang selalu membersihkan daun kering yang berserak di taman.
"Ya ampun, bapak direktur masih nyapu aja. Sini pak saya gantikan." sudah mau merebut sapu lidi yang di kenakan Dodo. Tetapi dia tidak membiarkan itu terjadi.
"Eh bang, udah masuk jam pulang ya? tidak usah." ujar Dodo menyembunyikan sapunya di balik badan.
"Pak direktur saya heran sama bapak, kenapa masih saja mengerjakan ini semua, padahal tinggal tunjuk orang dan suruh ini itu" bercanda karyawan.
"Iya nih pak Dodo. Kita jadi tidak enak tau pak."
"Apa sih para abang-abang ini, hehe" Dodo kikuk. "Panggilnya Dodo aja bang, tidak usah pake pak, saya jadi canggung."
Semua mata saling pandang, sunyi belum ada yang berani berbicara lagi. Bagaimana bisa mereka sebebas dulu berbincang dengan suami direktur, rasanya tidak enak hati saja.
"Kok malah jadi pada bengong nih." Dodo membuka obrolan lagi.
"Hemm iya, Do." ragu-ragu.
"Santai aja bang. gak usah sungkan manggilnya. Mau ngopi bareng tidak?" ajak Dodo untuk mencairkan suasana.
"Boleh-boleh." jawab serentak bersamaan dengan antusias. Bukan karena kopinya melainkan cerita apa yang akan di dapat dari Dodo nanti.
..........
"Bram, apa masih ada jadwal lagi untuk saya?"
__ADS_1
"Ada satu jadwal lagi setelah ini. Pertemuan dengan kontraktor yang akan mengerjakan bangunan yang diinginkan tuan muda Niko. Saya sudah memeriksa e-mail nya dari nona Rianti."
"Bram, menurutmu nona Rianti orangnya yang seperti apa?"
"Sejauh saya menilai, dia wanita cerdas dan murah senyum. Kemampuannya hampir sama dengan mendiang tuan muda Satria."
*K*enapa jadi bertanya seperti itu ya? pikir Bram.
Pikiran Jesslyn memutar kembali kejadian di pasar malam itu, ketika Dodo berbincang dengan nona Rianti dengan biasa saja yang bahkan Jesslyn pun menundukan kepala hormat ketika bertemu dengannya.
Tubuhnya menangkap sinyal agar segera mundur dari perbincangan mereka. Walaupun Dodo mencekal tangan Jesslyn untuk tetap berada di sampingnya, Jesslyn tetap melangkah mundur.
Ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan. Satu pasang mata milik Niko, pemimpin baru Artha grup yang tak lain adalah kakak dari Satria. yang satu pasang lagi adalah miliknya.
Lelaki disebelahnya sudah mengeram kesal dengan kepalan tangan. Melihat itu, Jesslyn semakin takut dan tidak mengerti. Tapi dia teringat kembali pesan Dodo yang terngiang di kepala. percaya !
Dia peluk Dodo selalu saat sudah di rumah. tidak mau lepas walau hanya sedetik sambil mendengarkan penjelasan Dodo. Jesslyn tidak cemburu, hanya saja dia takut kehilangan perhatian Dodo selama ini.
Dengan melihat ekspresi Niko saja Jesslyn sudah menebak, akan ada bahaya mengintai Dodo. Jesslyn tidak mau itu terjadi, dengan mengumpulkan keberanian Jesslyn berbicara dengan Niko.
"Maaf tuan muda, saya sudah lancang mendekati Anda."
"Siapa?"
"Saya Jesslyn Andara CEO PT. xxx anak perusahaan milik Artha grup. Dan seseorang yang berbicara dengan nona Rianti adalah suami saya."
"Suami?"
__ADS_1
"Iya tuan." Jesslyn menunduk takut.
Kepalan tangan sudah mulai mengendur, rumor yang beredar Niko adalah pria berdarah dingin yang mampu melakukan apa saja demi ambisinya memang benar adanya. Jesslyn menghela nafas berharap perkenalannya tadi bisa mengeluarkan Dodo dari bahaya.
Kilas balik buyar, Jesslyn merasakan tidak enak di bagian perut. Memang hari ini adalah tanggal periode setiap bulannya datang.
"Bu, apa ibu baik-baik saja?"
Tanya Bram melirik keadaan Jesslyn dari kaca, wajahnya mulai memucat.
"Iya, saya baik-baik saja."
.
.
.
.
Bersambung...
Note :
Episode ini ada kaitannya dengan novel author yang berjudul cinta sejati. Dua novel yang saling berkesinambungan.
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1