Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Tergopoh-gopoh


__ADS_3

Dengan perasaan berat tanpa mau menoleh sedikit pun, Dodo menatap nanar mobil yang perlahan beranjak maju meninggalkannya. Lajunya lamban namun pasti, seolah mobil tersebut sedang mengejek lelaki yang berdiri di belakang, mengatakan bahwa Jesslyn tidak akan kembali lagi padanya.


Sampai kendaraan roda empat itu menghilang di telan jarak, Dodo masih terpaku diam tak bergeming. Membuat Jesslyn yang tadinya bersikeras pada pendirian menoleh kebelakang, setelahnya menangis tersendu dengan dada yang terasa sesak.


"Ibu kenapa? apa kita perlu putar balik?" Anggi menwarkan sebuah pilihan yang memang diinginkan oleh Jesslyn.


"Tidak, lanjutkan saja perjalanan." Jesslyn masih saja keras kepala. Apa yang telah dilakukannya kali ini memanglah sesuatu hal yang biasa dia lakukan. Lalu untuk apa ada drama tangisan seperti ini?


"Baik Bu."


Mobil mulai bergerak cepat membawa Jesslyn sampai pada tujuan tepat waktu, kalau bisa, Jesslyn mau tiba lebih awal agar dia tidak berlama-lama mengulur waktu untuk kembali.


Susana hening tercipta, setelah Jesslyn menumpahkan air matanya.


Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Dodo menghela nafas sembari mengusap wajah, demi mengusir keresahannya, ia berinisiatif untuk pergi ke kolam ikan dahulu sebelum melesat pergi ke gedung Manggala.


Disana, ia disambut riang oleh empat sekawan yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Toyib yang menyadari kedatangan Dodo terlebih dahulu sontak berteriak.


"Hujan gede, hujan gede"


"Berisik, hujan gede apaan?" teriakan Toyib disambut To'ing. Pemuda itu khawatir jika teriakan Toyib di kabulkan tuhan, dirinya beserta staf yang lain kelimpungan menimba air. Sebab persiapan mereka belumlah matang.


"Iya lu, bos datang malah dipanggilin hujan. Andai gua punya kekuatan sihir, lu udah gua sulap jadi centong nasi." Pekik Jamal.

__ADS_1


"Yah kan aku terkejut saja, mendapati bos kita ini datang kemari tiba-tiba. Jarang-jarang kan." Toyib memasang tampang sok polos.


"Idih" Rohim mendecih mendengar Toyib menggunakan kata aku. Sejak kapan anak itu merubah panggilannya.


Disuguhkan perdebatan ke empat temannya, Dodo hanya bisa menampakan senyum terpaksa. Isi kepalanya riuh dengan banyak spekulasi berkerubung.


"Do, tumben kesini. Ada apa nih?" To'ing bertanya.


Dodo yang sedang berusaha keras mengenyahkan keresahannya tampak sia-sia. Sebab dari air muka yang terpancar, sahabatnya dapat mengartikan bahwa Dodo sedang tidak baik-baik saja.


Mau jawab gak apa-apa, seketika otaknya menyuguhkan tayangan kembali saat moment dimana Toyib memberi nasihat. Bahwa fungsinya teman itu bukan untuk dibohongi dengan kata baik-baik saja. Dodo menarik nafas dalam-dalam.


"Saya..


Di tempat yang berbeda.


Di sepanjang perjalanan, situasi arus lalu lintas terbilang ramai lancar. Lima menit lagi mereka akan sampai pada tempat tujuan dimana akan diadakan rapat pembahasan seluruh anak perusahaan Artha grup. Disana juga, seseorang yang telah menyeret Dodo masuk dalam lingkaran Manggala hadir, sebagai pemilik separuh kerajaan bisnis yang telah menaungi perusahaan pimpinan Jesslyn. Nona Rianti.


Hari ini, hari pertama Jesslyn memulai tanpa adanya Bram. Dia harus terbiasa akan hal itu, karena apa yang telah mendampingi kita tidak akan selamanya bersama kita. Suatu saat waktu akan merubahnya.


Orang yang sempat terlintas sebentar sebagai mantan asisten, kini telah menampakkan diri. Ia berdiri setia di samping CEO yang lain, Jesslyn tentu melihatnya, wanita itu kemudian memahat senyuman tanpa ada rasa penyesalan sama sekali.


"Ayo" ajak Jesslyn pada asistennya yang baru.

__ADS_1


.


.


seratus dua puluh menit kemudian, rapat telah bubar. Tidak butuh waktu lama untuk sekedar bertukar laporan informasi serta hasil akhir dalam mencapai mufakat. Karena yang memimpin adalah Tuan Niko, orang yang kemauannya harus selalu terealisasi. Jadi, kalau sudah seperti itu yang lain tidak bisa apa-apa.


Jesslyn buru-buru ingin kembali dalam pelukan Dodo, wanita itu bahkan sangat merindukan tangan hangat suaminya ketika mengusap kepala lalu turun ke pipi, sampai turun lagi ke hati. Stop, jangan sampai turun lagi hehe.


"Bu pelan-pelan saja jalannya, saya takut ibu tersandung." Kata Anggi tergopoh menyeimbangi Jesslyn agar wanita yang telah dititipkan padanya tidak terluka sedikit pun.


"Aku tidak bisa pelan-pelan gi, kalau menyangkut Dodo aku tidak bisa pelan-pelan. Jadi kamu harus bisa mengikuti saya."


"Iya Bu, saya hanya khawatir saja dengan kandungan Bu Jesslyn." Perkataan Anggi menghentikan langkah setengah berlari yang dilakukan Jesslyn. Astaga, dia hampir lupa kalau di dalam rahimnya ada Dodo junior.


Bodoh, kenapa kalau sudah jatuh cinta jadi bodoh begini. Jesslyn.


"Berikan aku air"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2