
Saking semangat dan antusias, Pak Nata dan Bu Unah memasukan koper milik anak dan menantu ke dalam rumah. "Mak, Pak, biar saya saja." Kata Dodo melihat orang tuanya tergopoh membawa beban, harusnya bisa di tarik saja karena kopernya memiliki roda, namun entah faktor apa orang tua Dodo membawanya dengan cara di panggul.
Jesslyn memijat pelipisnya yang tidak pusing, dia hanya berpura-pura untuk mengalihkan agar dia tidak tertawa karena tingkah lucu sang mertua.
"Neng pusing?" tanya Bu Unah yang menyergap aksi Jesslyn barusan.
"Tidak Mak, hanya mengusap saja. Tenang, menantu emak ini baik-baik saja."
Yah padahal emak berharapnya pusing
"Mak, istirahatlah biar yang membereskan semua Bi Lilis, sebentar lagi dia akan datang."
"Iya Neng, emak balik ke warung dulu ya, kasihan Neng capek barangkali mau istirahat." Bu Unah sambil mengusap-usap rambut menantunya.
"Iya Mak, emak juga istirahat, pasti lelah sudah bersihkan rumah ini. Harusnya emak duduk manis saja tadi biarkan pelayan saya yang mengurusnya."
"Gak apa-apa Neng, emak senang soalnya dapat kabar kalau Dodo sama Neng balik lagi ke sini." Habis usap-usap, Bu Unah kini menyandarkan kepalanya di bahu Jesslyn dengan tangannya yang memeluk tubuh ramping menantunya.
Lagi-lagi mereka membicarakan hal menggelikan lainnya hingga tubuh yang sudah mepet tersebut harus berjingkrak kegirangan. Sungguh membuat yang melihatnya jadi ikut cengengesan.
"Mak" Dodo datang menjadi orang ketiga, "Ada apa anakku? Jawab Bu Unah, sontak saja menarik perhatian Jesslyn untuk ikut dalam obrolan.
"Tumben jawabnya ada apa anakku" cetus Jesslyn, karena sudah merasa satu frekuensi dengan ibu mertuanya membuat Jesslyn tidak menyaring pembicaraannya lagi.
"Emang biasanya bagaimana Neng?" Kata Bu Unah sambil cekikikan. Pertanyaannya hanya formalitas saja.
"Biasanya jawab Ngapah tong?"
"Hahahaha" mereka tergelak bersama begitu kuat, sampai mengagetkan tetangga yang dari tadi masih menikmati kebersamaan Bu Unah dengan Jesslyn.
__ADS_1
Dodo pun turut tersenyum geli dengan aksi ibu serta istrinya ini. Biarlah mereka tertawa senang, itu lebih baik daripada meratapi hidup yang kadang tidak sesuai keinginan. Karena beberapa hari ke belakang Jesslyn terus murung dan bertanya kenapa dia dilahirkan hanya untuk di tinggalkan.
Sama halnya dengan orangtuanya, keluarga Dodo pun mencoba untuk tegar dengan masalah yang bertubi-tubi, sampai akhirnya kesabarannya itu satu persatu telah membuahkan hasil.
Salah satu hasil sabarnya itu adalah berkumpulnya kembali keluarga, walau Pak Dirga tidak disangka telah mengambil keputusan sendiri untuk mengalah.
...........
Resmi sudah Jesslyn kembali ke rumah dulu yang sempat memberinya naungan. Rumah yang di bangun dari nol tanpa ada cinta di dalamnya.
Seiring berjalannya waktu, cerita yang di yakini tidak akan mungkin terjadi malah menjadi-jadi. Akhirnya mereka kembali lagi dengan perasaan yang sama dalam situasi yang berbeda.
Situasi dimana tidak ada lagi dinding pembatas diantara mereka. Surat perjanjian itu bahkan sudah di bakar habis oleh Jesslyn dan disaksikan oleh Bram yang diam membisu. Tersisalah debu hitam yang terbang terbawa angin.
Sedangkan Dodo, dia bahkan lupa jika pernah tanda tangan Perjanjian kontrak setelah mendapat cinta yang tulus dari seorang wanita bernama Jesslyn Andara.
Mengingat kejadian kemarin mengharuskan Jesslyn untuk berfikir bahwa Dodo sebaiknya berhenti saja bekerja disana.
"Bukan Non, itu murni komplotan rampok. Memang jalan menuju Manggala begitu sepi, sunyi senyap bagai jalan mati. Hanya orang tertentu saja yang tidak diganggu oleh para bandit jalanan."
"Mereka seperti hafal ya siapa saja yang tidak boleh diganggu?" Jesslyn bertanya.
"Iya Non, dan pas Non lewat kemarin, jadilah sasaran empuk bagi mereka. Inilah alasan kenapa saya harus mencarikan bodyguard untuk selalu di sisi Non. Karena saya tahu akan tiba saatnya dimana Non akan mengunjungi saya di tempat kerja."
"Kok kamu bisa tahu kalau suatu saat aku akan pergi ke tempat kerjamu walau sudah kau larang?"
"Saya pernah mempelajari teori dari teman saya, Bang Dani namanya, dia adalah karyawan di perusahaan yang Non pimpin."
"Apa tuh teorinya?"
__ADS_1
"Jika kau begitu menggebu melarang sesuatu pada wanitamu, maka dia akan semakin penasaran untuk melakukannya. Begitu Non kalimatnya."
"Karyawanku itu benar juga. Hehe"
"Kamu waktu pertama kali ke Manggala apakah mendapat sambutan di jalan sama seperti yang aku alami?" lanjutnya lagi.
"Tidak, kan saya datangnya bersama Pak Willy." Dodo tersenyum dan mulai merapat.
"Benar juga, mereka pasti segan dengan karyawan mu ya?"
"Iya Non"
"Apalagi Tuan Niko itu termasuk jajaran orang yang di takuti, mungkin saja bandit itu juga sedang mengambil keuntungan dari kekuasaan Tuan Niko dengan bisnis hitamnya."
"Iya Non"
Disepanjang Jesslyn bertanya hanya terdengar jawaban iya Non. Berkata Iya non, iya Non tapi mulutnya sudah sibuk dengan aktivitas lain. Jesslyn pasrah dan menikmati saja apa yang dilakukan suaminya.
.
.
.
.
Bersambung...
Pesan Bibi seperguruan : Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai.
__ADS_1