
"Lumayan juga pemimpin baru ini, tampangnya saja seperti orang bodoh. Hahahaha" Mereka menertawai Dodo dengan puas.
"Tahan bro, tidak usah terbawa pancingannya." Dodo menghentikan langkah Willy yang ingin maju dengan kepalan tangan. Lelaki itu tidak terima Manggala di injak seperti ini. Jika ada Niko, sudah bisa di pastikan habis orang yang di hadapannya.
Kemampuan bela diri Dodo memang tidak di ragukan, hanya saja suami Jesslyn tersebut memiliki hati yang lembut yang tidak begitu menyukai kekerasan. Sangat berbanding terbalik dengan Niko pemilik Manggala dulu, sangar dan tidak berperasaan.
"Apakah kisanak tidak mau menawarkan kami untuk duduk santai berbincang?" Kata Dodo, disela tawa yang masih mengudara. Gelak tawa langsung menguap berganti menjadi tercengang.
"Saudara Dodo ini memang memiliki hati yang lembut." Pimpinan musuh Manggala berbicara, "Tapi juga tidak tahu malunya ingin sekali diajak duduk santai berbincang." Sambungnya, Mereka tertawa kembali.
"Jadi begini cara anda menjamu tamu, baiklah tidak masalah. Lumayan unik penyambutannya, sampai orang lain tidak ada yang memiliki cara seperti ini." Kata Dodo lagi di bubuhi senyum. Willy melirik ke arah Dodo, dia baru mengerti trik apa yang di pakai Pemimpin yang dia anggap berhati Hello Kitty.
Semua yang tertawa merapatkan mulut, sepi sunyi terhenyak dengan kalimat Dodo barusan.
"Apa yang perlu kita bicarakan?" Akhirnya tawa ejekan berubah menjadi serius, Dodo tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Saya menarik Manggala untuk tidak mengusik usaha kalian. Tidak ada pemaksaan, tidak ada penindasan. Saya juga pastikan Manggala bukanlah saingan bisnis anda lagi." Lantang Dodo mengutarakan maksud kedatangannya.
"Kau tidak salah bicara? apa ini jebakan konyol?" musuh maju mendekat, langkahnya mengintimidasi dua orang yang berdiri tegak dengan pandangan lurus.
"Tidak, ini bukan jebakan. Ini sungguhan. Kalau begitu bukankah ini merupakan angin segar bagi perbisnisan anda?"
"Di dunia ini tidak ada yang semudah menerbangkan kapas dengan tiupan. Jika itu bukanlah manipulasi." Musuh menyelidik dengan sorot mata meragukan.
"Saya tidak meminta anda untuk percaya, itu terserah. Yang saya minta, anda berhenti mengganggu saya dan keluarga, juga dengan Manggala. Walaupun saya tahu anda tidak berani mengusik Manggala." Ucap Dodo dengan tegas tanpa suara bergetar sedikit pun.
__ADS_1
"Dengan ini saya meniadakan permusuhan dan kebencian diantara kita. Tidak ada lagi pihak mengusik dan terusik." Dodo pun melangkah lebih dekat dengan pria di hadapannya.
Pandangan mereka bertemu. "Tidak ada gunanya menjadi orang jahat." Satu kalimat lagi terlontar dari si pemilik senyuman manis. Suaranya berbisik di telinga.
"Satu hal lagi, saya minta jangan mengusik usaha perikanan saya. Jika anda melanggar saya tidak akan tinggal diam."
Dodo tersenyum, dia pergi dari hadapan musuh dan menghampiri ponsel miliknya yang hancur seperti remahan. Mengambil kartunya yang masih bisa di selamatkan.
Saat Dodo dalam posisi berjongkok dengan tangan yang mengulur meraih benda yang dimaksud, musuh mendekati dan akan menginjak tangan Dodo.
Secepat otaknya berfikir, Dodo mengunci kaki lancang itu dan membalikan tubuh kekar hingga terjerembab ke tanah. Dia juga memberi peringatan bahwa semut jika di injak bisa juga menggigit.
"Arrghh.." musuh kesakitan karena Dodo masih mengunci tubuh yang menyatu dengan tanah hingga tidak bisa berdiri.
Sebelum Dodo terserang lagi dengan anak buah musuh lebih banyak, Willy sudah membereskannya duluan.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Do, gua liat lu kaya punya kepribadian ganda." Willy merasa heran dengan Dodo, kadang lemah lembut kadang menyeramkan. Dia juga heran kalau Dodo bisa setegas tadi, kenapa pas training berlebihan oleh Willy Dodo diam saja menurut.
"Air akan berubah bentuk sesuai dengan wadahnya. Begitupun dengan sifat manusia, jadi ya begitulah. Hehe."
"Nih, hp baru. Pakailah." Willy menyerahkan sebuah ponsel baru beserta kardusnya.
"Kapan bro Willy membeli hp baru?"
__ADS_1
"Gua sudah terlatih menyiapkan apa yang di butuhkan tanpa diminta. Kepekaan gua sudah mencapai level tertinggi, apalagi dalam melayani bos Manggala, kaya lu sekarang."
"Kalau begitu terimakasih." Dodo membuka kemasan, memasukan kartu yang berhasil dia pertahankan, seperti mempertahankan harga diri.
Tring...tring.. tring..
Notif masuk bertubi-tubi, jejak panggilan tak terjawab juga ada disana. Baru lagi membuka satu persatu pesan, layar sudah berubah menjadi panggilan.
"Iya non. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya memastikan saja." Jesslyn khawatir dari tadi siang ponsel Dodo tidak bisa dihubungi. Urusan dengan musuh berujung dengan konferensi persetujuan membuat Dodo dan Willy terjebak lama disana hingga malam.
"Memastikan apa non? apakah memastikan jika non sedang kangen sama saya?" Kata Dodo sedikit menggoda, sudah berani dia rupanya. Willy tersenyum miring mendengar obrolan anak muda disamping. Jiwa jomblonya meronta.
"Hei, apa katamu? kangen? kangen itu apaan sih? serius nanya." Jawab Jesslyn.
Dodo tergelak kecil dengan reaksinya istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Kangen itu apaan sih?