
Jesslyn bangun lebih dulu dari suami siaga yang selalu menjaganya kemarin, suami yang juga menceritakan cerita rakyat semalam menjelang pagi.
Untuk beringsut dari sana, Jesslyn menggunakan tenaga super pelan agar suaminya tidak terganggu dengan pergerakan yang dihasilkan. Terlampau pelan, nafas saja tidak berani untuk keluar. Jesslyn menyingkirkan tangan Dodo yang sedang bertumpu di perutnya, kemudian menggeser perlahan agar dirinya bisa keluar dari jeratan pelukan suami yang memabukkan baginya.
Usaha sudah mendekati finish, Jesslyn melihat wajah suaminya sambil berdo'a dalam hati akan kesehatan dan juga keselamatan, Rizki yang lancar dan penuh berkah, hingga berdo'a agar Dodo memiliki cukup satu istri saja. Waduh.
Greepp..
"Non sayangnya aa mau kemana?" senyum itu lagi di pancarkan, kenapa sih hati ini terlalu lemah menerima perlakuan dan cengiran manis dari seorang Dodo, itu lah isi pekikan di kepala gadis itu kepada hatinya yang bersarang.
"Kamu sudah bangun sayang, kok kamu begitu sih sayang, kamu sudah bikin usaha aku sia-sia." Cerca Jesslyn disertai tawa frustasi.
"Saat saya bangun, saya melihat Non masih tertidur pulas. Tapi saya bangunin Non kok, saya usap-usap pipi ini,,," Dodo memperagakan ilustrasi. "Non masih belum bangun, lalu saya usap-usap rambut indah ini. Masih belum bangun juga, saya usap-usap..."
Kalimatnya menggantung, netranya mengintip ekspresi istrinya yang lucu.
Entah dapat bisikan darimana Jesslyn menyilangkan tangan di dada. Cengar-cengir pura-pura seperti anak gadis yang mendapat perlakuan buruk. Dia berusaha tidak terima dan penasaran kata apa yang dilontarkan oleh Dodo, si laki-laki tidak pernah marah padanya seumur pernikahan.
"Hei kamu, apa yang kamu pegang-pegang lagi selain yang disebutkan barusan?" Hardik Jesslyn dengan tegas, lalu cekikikan di dalam hatinya.
"Saya pegang kesukaan saya Non, tapi masih belum bangun juga.."
"Stop sayang, jangan di lanjutkan." Jesslyn sudah beralih mendekati Dodo, memukul tangan suaminya dengan manja sambil mengeluarkan kalimat tidak terduga.
"Jahat, jahat tangan ini sungguh jahat." pukul-pukul ringan lalu diusap kembali seperti kasihan pada sesuatu yang sangat disayanginya. "Aku akan memberikan hukuman padamu."
"Apa hukuman itu Non?"
"Lakukan lagi apa yang telah dilakukan."
__ADS_1
"Dengan senang hati Non." Dodo mulai menyusupkan yang seharusnya menjadi penyusup, bermain disana dengan lembut hingga terbawa suasana.
"Non"
"Hemm" jawaban terlena akan sesuatu.
"Terimakasih ya sudah mau mendo'akan saya."
"Hah, kamu mendengar do'a itu kapan?" Jesslyn sudah membuka matanya yang terpejam terbawa arus.
"Tadi, pas Non diam-diam bangun mau ninggalin saya. Terimakasih ya Non sudah mendo'akan saya untuk tidak menikah lagi." sindiran keras namun disukai oleh Dodo, lelaki itu semakin memperdalam permainan hingga tidak memberikan Jesslyn untuk sekedar menjawab.
Wanita itu tersendat-sendat.
"Do.. isshh. Kamu mendengar Do'a yang ujung saja?"
Iya lah kamu mendengar yang itu saja, sebab yang lain aku ucapkan dalam hati hehe. Sengaja yang ujung aku suara kan, Karena yang ujung itu ungkapan perwakilan para istri. Iya gak sih?
"Ada yang lainnya sayang."
"Apa itu Non?"
"Rahasia. awh.." Bukan tangannya lagi yang memberikan permainan, mulutnya sudah ikutan memberikan jeritan kecil di pagi hari. Semakin matahari meninggi semakin pula keringat yang dihasilkan.
...........
Waktu menunjukan pukul 7 pagi.
Suara motor Pak Nata terdengar mendekat ke arah rumah, benar, memang mereka telah kembali dari berburu sayuran di pasar. Saat karung besar berisi belanjaan diturunkan, lalu di buka hingga terburai semua isinya, pada saat itu pula ibu-ibu satu persatu menyambangi warung Bu Unah.
__ADS_1
"Yan" panggil Bu Unah kepada putra kedua.
"Iya Mak, ada apa?"
"Dodo sudah pulang?"
"Sudah Mak tadi kata Bi Lilis, tapi belum bangun kayanya. Apa mau saya panggilkan?" Iyan sudah mau beranjak dari tempatnya berdiri, " Jangan, kasihan pasti masih capek." Bu Unah telah mencegah terjadinya praktik mengganggu olah raga pagi.
Waktu terus berjalan, Bu Unah sudah sibuk di gerumuti ibu-ibu dan melayaninya dengan sabar sepenuh hati. Bagaimana tidak demikian, ada yang beli tempe ukuran terkecil masih request ingin membeli sebelah Bu Unah oke-oke saja.
Dia potong tempe tersebut menjadi dua bagian, tidak peduli sebelahnya lagi terjual atau tidak mengingat ukuran tempenya sudah sangat minimalis.
"Assalamualaikum"
Wah ada kawanan Dodo.
"Wa'alaikumsalam."
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1