Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Penyesalan


__ADS_3

"Non, saya pamit untuk kembali bekerja, selamat bertemu nanti di rumah." Dodo membuang sampah sisa pembungkus makan siangnya di meja. "Sayang, biarkan cleaning service yang melakukan ini. Hentikan." Jesslyn memekik.


"Tidak apa-apa Non, hanya sedikit." Bukannya mengindahkan seruan Jesslyn, Dodo malah lanjut membersihkan mejanya. Jiwa cleaning servicenya masih bergelora.


"Kamu ini, sudah jadi bos tetap saja kelakuan tidak berubah. Masih ngurusin sampah saja." Jesslyn terus saja menggerutu dan ditanggapi gelak tawa kecil, karena di balik kebawelan Jesslyn ada bibir mungil yang sangat menggemaskan.


Oh jadi ini alasan kenapa kebanyakan drama ada adegan mendiamkan kebawelan dengan ehemm. Dodo tersenyum sendiri membayangkannya.


"Sudah selesai, saya pamit ya Non. Assalamualaikum" mengulurkan tangan ingin di salami.


"Wa'alaikumsalam"


...........


Angin berhembus begitu kencang di pergantian musim, menggoyangkan rambut indah Jesslyn yang baru saja keluar dari mobil dengan pintu yang dibuka oleh sang suami.


Pesan Chandra tempo hari tentang keinginan Erma telah disampaikan kepadanya. Setelah menimang banyak pertimbangan, Jesslyn pun menyetujui untuk menemui Erma di penjara.


"Ayo Non" Dodo menuntun tangan istrinya.


"Sayang, kalau nanti kamu menangkap sinyal bahwa aku akan berkelahi, segeralah hentikan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya karena aku tidak bisa mengontrol emosi ku."

__ADS_1


"Iya Non."


Mereka sudah berada di dalam dan pertemuan itu pun terjadi. tidak hanya Jesslyn dan Dodo saja yang datang, disana juga ada Chandra yang menunggu. Jesslyn diam tanpa sedikitpun senyum, beda dengan Erma, dia sangat hati-hati menunjukan ekspresi wajah.


"Jesslyn" panggil Erma dengan lemah, Jesslyn hatinya mendecih apakah lemahnya Erma adalah manipulatif. Perempuan berbulu domba sangat melekat dalam ingatan Jesslyn.


"Ada apa?"Jesslyn begitu tegas menjawab sapaan Erma.


"Kata maaf mungkin sudah tidak bisa mewakili apa yang telah saya perbuat, tapi terimakasih adalah kata yang tepat untuk saya ungkapkan sekarang." Erma menunduk dalam, ingin dia meraih tangan Jesslyn untuk di genggam, namun saat ini dia hanya berani memandang tangan itu saja.


"Aku tidak berbuat baik padamu, jadi tidak usah berterimakasih." Ketus, membuang pandangan ke sembarang arah sambil menyilangkan tangan.


"Terimakasih sudah mengirim saya ke tempat ini, jika tidak, saya selamanya tidak akan sadar dan hidup dalam kepalsuan. Jesslyn, saya memang pantas tidak bahagia. Selama disini saya bisa merasakan bagaimana rasanya jauh dari orang yang kita sayang."


Erma bangkit dari duduknya lalu melangkah dan berdiri di samping Jesslyn, wanita itu menekuk lutut sampai menyentuh lantai, tubuhnya merosot. Dia menangis tak bersuara dengan wajah menunduk meratapi penyesalan.


Tangannya memilin baju lalu tetesan mendarat membasahi punggung tangan. Sudah terdengar sedikit Isak tangis sesegukan.


Sampai beberapa saat pun semua orang disitu belum ada yang menenangkan Erma, bukan berhati jahat membiarkan wanita menangis hanya berdiam diri, hanya saja mereka membiarkan Erma menumpahkan rasa agar perasaannya sedikit lega.


"Saya sangat tidak pantas meminta kamu untuk percaya kepada saya Jess, jika posisi kamu ada di saya, mungkin saya akan melakukan hal sama denganmu." Dia berbicara dengan mengatur suasana hatinya yang lebih tenang.

__ADS_1


"Jess, bagaimana kabar emak? bagaimana kabar mertua kita?" Erma mendongak menatap Jesslyn. Tidak dipungkiri Erma pun merindukan Bu Unah yang sangat menyayanginya. Tangisnya pecah, " saya bermimpi buruk tentang emak yang tidak mau menemui saya." hiks..hiks...


"Tentu saja emak tidak mau menemuimu, kan sudah ada aku yang sangat menyayanginya. Kau dulu merebut kak Joe dariku, sekarang aku merebut emak, bagaimana? enak tidak rasanya?" ber api-api. Jiwa pendendam sedang berkobar-kobar.


Siaga satu diaktifkan oleh Dodo, masih memantau belum ada tanda-tanda kekerasan fisik.


Erma menghapus sendiri air matanya, menganggukan kepalanya semangat pertanda dia menerima semua penderitaannya ini. "Saya memang tidak pantas untuk bahagia." Katanya lagi dengan wajah yang sudah tidak berbalut air mata.


"Pantas atau tidaknya kamu tidak bisa menilai." Jawab Jesslyn. "Berdirilah, aku tidak suka kamu berlebihan seperti ini." Dia mengisyaratkan Dodo lewat sorotan matanya.


Dodo mengerti, dia menyampaikan maksudnya pada Chandra. Kakaknya itu lalu memapah Erma dan mendudukannya kembali ke kursi.


Tidak berpanjang lebar pertemuan ini sudahlah berakhir. Setidaknya Erma sudah menyampaikan maksud penyesalannya dan memohon pengampunan.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa ehemm.


__ADS_2