
Tok..tok..tok..
Erma bergegas membuka pintu berharap Chandra lah yang datang. benar saja, Chandra datang membawa banyak sekali tentengan ditangannya. mata Erma tertuju pada ember yang dilihatnya pas mengintip tadi.
Diperiksa satu persatu dalamnya terdapat kebutuhan sembako seperti beras 5liter, minyak 2 liter, gula, tepung, mi instan, ikan kaleng, serta berbagai bentuk camilan.
hemm gaya banget segala ngasih beginian. biar apa? biar jadi yang paling nomer satu gitu? cih..
Sampai pada dasar ember Erma terpana, ada sebuah amplop coklat teronggok. uang pecahan seratus ribu sebanyak 5 lembar di temukan di dalam, merekahkan senyum Erma.
"Wah, loyal juga bini nya Dodo. sampai segininya. Alhamdulillah tambahan uang diakhir bulan. semoga keluarganya diberikan rejeki lebih dan keberkahan hidup." ujar Chandra yang dari tadi menyaksikan Erma membongkar ember.
Wajah Erma sontak berubah lagi menjadi tak suka mendengar pujian dari mulut sang suami. Chandra menyadari dan ini merupakan kesempatan baik untuk berbicara.
"Beb, kamu kenapa? ada masalah apa? kamu beda sikapnya, cemberutin emak."
"Ih enggak, emak kali yang cuekin aku. orang aku nanya emak aja ga di jawab." jawab Erma ketus.
Chandra menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. " yaudah, kalau kamu ga mau cerita. aku mau ke kamar mandi dulu." bukan tanpa alasan Chandra menjawab seperti itu, karena pada saat Bu unah mengantarkan sup iga, Chandra sudah membaca situasi dengan sikap istrinya.
Amplop coklat yang masih di pegang Erma menjatuhkan sebuah lembaran lagi, kali ini membuat Erma terkejut bukan main. tangannya gemetar melihat apa yang jatuh itu.
Wajahnya memucat, segera ia bakar lembaran tersebut agar tidak ketahuan Chandra.
..........
Di kediaman baru Jesslyn dan Dodo.
Jesslyn merebahkan tubuh, tertawa sendiri menerka apa yang sedang terjadi di rumah kakak iparnya tersebut. sudah tidak sabar akan hari esok apakah pancingannya itu membuahkan hasil.
Malam ini, Dodo dan Jesslyn resmi untuk tidak satu kamar lagi. karena mereka sudah leluasa pergerakannya tak bisa dilihat oleh mertua. mereka masuk ke kamar masing-masing dengan menjalani privasinya tersendiri.
"Dari dulu harusnya aku memang menyediakan tempat tinggal dulu. biar lebih enak."
"Tapi kalau bukan begini gimana caranya aku bisa tinggal disini. bukankah untuk hasil drama yang bagus aku harus berperan dengan sepenuh hati dan jangan setengah setengah." ucap jesslyn dengan tatapan penuh kebencian. lelah dengan monolog nya, ia pun tertidur.
..........
Waktu menunjukan pukul setengah enam pagi. Bu unah dan pak nata baru saja tiba dari pasar berbelanja kebutuhan warung.
"Ngapah si Mak sampai lari-lari gitu?" tanya pak nata.
"Haduh, kebelet pipis."
__ADS_1
"Mang nata, mana bi unah? saya mau beli sayuran ini." ucap pelanggan yang baru saja datang.
"Bentar dulu ya, lagi di dalam rumah nanti juga keluar."
"Mamang aja atuh yang layanin."
"Gua kaga bisa, takut rugi hehe."
"Dih.."
Bu unah sudah kembali lalu melayani pembelinya. dan disaat itulah jesslyn hendak berangkat di jemput oleh Bram.
"Bi, sebenarnya siapa si yang suka jemputin bininya Dodo? maaf nih kita jadi kepo biar kaga penasaran."
"Supirnya." Bu unah asal jawab. "ini semua jadi 36 ribu." sengaja Bu unah langsung menyebut totalan belanja agar tidak berujung menggunjing.
"Ini saya bayar 20ribu sisanya catet ya Bi."
"Siap"
"Oh ya Bi, semalam bingkisannya luar biasa banget segala ada amplopnya isinya 500ribu, neng Jesslyn ternyata dermawan juga ya." tetangga langsung menebak perbuatan jesslyn karena tak mungkin Dodo yang memberi itu semua.
ah massa.. Bu unah sebenarnya tak tahu menahu tentang isi bingkisan itu.
"Mantu idaman banget itu pemirsa."
Jesslyn mendengar perkataan wanita barusan, lekas ia memanggil Dodo.
"aa Dodo.." teriak jesslyn.
"Iya non" Dodo berlari menghampiri dari dalam rumah.
Bram mendengar panggilan Dodo kepada jesslyn membuat ia tersadar telah menemukan jawaban PR nya pada tempo hari.
jadi ini alasan aku tidak boleh manggil nona lagi.
"Bram mulai hari ini kamu tidak usah antar jemput ku lagi. Dodo yang akan melakukannya. kamu pergi saja duluan ke kantor nanti 200meter sebelum sampai kamu berhenti tunggu kami."
"Baik Bu." Bram semakin tidak suka dengan Dodo.
Dodo sigap memanaskan sepeda motornya dan mengelap bersih jok yang akan di duduki Jesslyn. namun jesslyn menggelengkan kepala melihat aksi Dodo yang sok tahu.
"Siapa bilang aku akan berangkat dengan motormu itu." jesslyn menjentikan jari memberi kode, jika gerakan tersebut diubah kata maka setara dengan kata 'kemarilah'.
__ADS_1
"Berikan kunci motormu pada bram"
"Baik non." Dodo melakukan apa yang diperintahkan. Dodo mendekat tak mampu melihat pandangan Bram yang menusuk. Bram segera cancel pesanan taxi online.
"Nih" jesslyn menyodorkan kunci mobilnya.
Tanpa ragu dodo meraihnya dan melakukan apa yang setiap hari ia lihat Bram memperlakukan jesslyn. persis tak kurang satu pun. pengamatannya sedikit membuat jesslyn terkagum.
Bedanya, kali ini jesslyn duduk di samping kemudi berdampingan dengan Dodo. hal yang tak pernah dirasakan oleh Bram.
Mobil melaju dengan semestinya.
"Kamu bisa nyetir mobil?" tanya jesslyn heran dia baru menyadari pada pertengahan jalan.
"Seperti yang non lihat." jawab Dodo
"Oh ya, jangan sesekali kamu membuka kaca mobil. awas kamu jika melanggar."
"Iya non. sebentar lagi kita akan sampai."
"Berhenti disana" jesslyn menunjuk "berhentilah di dekat Bram."
"Baik non."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.bersambung...