Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Setelah hujan


__ADS_3

Hujan Rintik yang awet mengharuskan Dodo untuk mengambil keputusan menerobos hujan. Tidak tega dengan istrinya jika harus berlama disini.


Jesslyn teringat dengan ponselnya, menyalakan yang tadi sempat dimatikan karena petir menggelegar. Seingat dia ada beberapa panggilan dan juga pesan.


*H*ah aku lupa memberi tahu Bram.


Baru membuka pesannya, panggilan dari Bram masuk lagi. Mereka lalu terlibat obrolan rahasia.


Disamping itu, Dodo telah menyiapkan jas hujan yang akan dipakaikan pada Jesslyn. Bajunya terlihat sedikit basah menerobos rintiknya hujan demi jas di dalam jok motor.


"Maaf non, saya mau pakaikan jas hujan ini pada non."


"Iya silahkan"


"Do, kamu gak pake juga?"


"Pake non, pake plastik ini"


Dodo menunjukan plastik besar yang sudah di modif seperti baju. Lumayan untuk melindungi dari rintiknya hujan.


"Wah kreatif juga kamu. Aku kira kamu bakalan jawab tidak, aku kan lelaki. Kuat cuma menerobos hujan segini demi kamu. hehe"


Dodo tersenyum.


"Realistis aja non. Kalau ada alternatif kenapa gak. Sini saya pakaikan helmnya sekarang."


Jesslyn menurut.


"Kamu juga udah bikin helm alternatif? dari apa? batok kelapa apa gayung Do? atau ember bangunan." Bertanya sok polos.


Dodo tertawa lepas, dan untuk pertama kalinya karena Jesslyn.


*K*enapa liat dia ketawa gitu jadi kaya melihat pemandangan yang indah si.

__ADS_1


"Kenapa harus pake alternatif helm, kan perginya non sama saya pake helm masing-masing. Cuma jas hujan saja yang ada satu non."


"Maaf, lupa." Jesslyn menjawab malu karena dia benar-benar lupa.


"Gak apa-apa non. Kenapa harus minta maaf."


Motor menerobos jalan, air yang menggenang membuat sebagian jalan menjadi licin. Dodo melaju pelan dan begitu hati-hati seperti ia sedang membawa sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


Jesslyn berpegang erat, matanya terpejam agar tak melihat laju motor yang akan membuatnya panik. Jika tidak seperti itu dia akan berteriak histeris yang akan membuat mereka malah terjatuh.


Tepat di depan rumah.


Bram menunggu dengan sorot mata jauh. Raut wajahnya sulit ditebak. Jesslyn yang menemui tampak biasa saja, bukan karena tak merasa bersalah tapi lebih menjaga sikap antara atasan dan bawahan.


"Kamu pulanglah, kita akan bahas besok lagi. maaf sudah membuang waktumu."


"Tidak apa-apa bu, saya pamit pulang dulu "


Hening sebentar, antara Bram dan Jesslyn seperti sedang perang batin. Bram yang menginginkan agar masalah ini cepat selesai dan berakhirnya pernikahan kontrak dengan Jesslyn yang justru menginginkan waktu melambat.


"Bram"


jesslyn memanggil saat Bram sudah melangkah untuk pergi.


"Iya Bu, ada apa? ada yang bisa saya bantu?" Bram antusias jika Jesslyn memerlukan bantuan


Jesslyn melirik sebentar ke arah Dodo yang sedang menghampiri mereka, setelah selesai dengan urusan parkir memarkir dan membuang mahakarya plastik jas hujan.


Lama Jesslyn menggantung pertanyaan Bram. sengaja memang sungguh sengaja.


Dodo berdiri disamping istrinya menyapa Bram dengan wajah yang ramah. begitupun dengan Bram yang hanya tanpa ekspresi jika interaksi selain dengan Jesslyn.


"Hati-hati di jalan."

__ADS_1


Bram tersenyum merekah mendengarnya. seperti ada sengatan energi baru walaupun sudah dijatuhkan harapannya berkali-kali.


"Iya Bu, selamat malam. ibu juga jaga kesehatan habis kehujanan."


Dodo masih mengamati, namun rahangnya mulai mengeras.


Sadar do sadar, Jesslyn siapa sih emang. dia bos yang hanya nikah kontrak sama lu. bisikan telinga kiri


Eh do, gimana pun juga pernikahan itu sakral dan suci. Dia tetap istri lu yang harus lu jaga dari laki-laki lain. bisikan telinga kanan.


"Tenang pak Bram, ada saya yang akan menjaganya." jawab Dodo lugas. Menegakkan kepala dengan penuh percaya diri agar harga diri tak akan di injak oleh perbedaan kasta.


Bram kaget, begitupun dengan Jesslyn. Baru kali ini Dodo mampu menyeimbangi perkataan Bram. Yang sebelumnya untuk tanda tangan kontrak nikah saja tangannya bergetar mendapat tatapan tajam dari asisten Jesslyn tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2