
Setelah To'ing merengut kesal karena ulah Toyib, dua rekannya datang, Jamal dan Rohim.
"Ing, gua bawa pakan ikan, lagi mau di beresin sama pekerja kita. Ada yang mau gua kerjain lagi gak nih?" Kata Jamal.
"Mendingan kita sarapan dulu biar cukup tenaga" Rohim sambil menyodorkan makanan beserta minumnya.
"Makan duluan aja, gua lagi mau ngambil nafas dulu." Jawab To'ing disertai tawa kecil dari Toyib. "Maaf ya kakak." Wajah dibuat melas agar mendapat pengampunan.
"Eh ada apa nih, ada kejadian yang membagongkan ya? biasanya sih begitu kalau sudah berdua sama Toyib." Seru Rohim. Nampaknya dia antusias menyambut cerita tersebut.
Jamal menambahkan, "Iya itu benar, gua aja kalau ngeliat Toyib jadi pengen cebok. Apalagi harus ditinggal berdua sama dia."
"Benar sekali Jamal, masa gua lagi telponan, lu tau kan kalau lagi ngobrol otomatis mulut mangap, eh dia kentut. Jadi kemakan dah."
"iiiiiiuuuuhhh" Serentak, lalu mereka berempat menyemburkan tawa.
...........
Mengintip kediaman bos Dodo.
Dodo masih pakai syal yang melingkar di leher. Banyak hal yang harus di urus di luar rumah hingga mengharuskannya untuk keluar berinteraksi dengan beberapa orang.
Salah satunya Bu Unah, dia belum mengucapkan terimakasih atas sarapan pagi yang sudah diantarkan.
"Mak terimakasih sarapannya, emak sudah makan?"
"Iya sama-sama, Emak sudah makan tadi sama bubur ayam."
__ADS_1
"Eh tunggu sebentar, itu lu kedinginan Do lehernya di bungkus kaya gitu." Bu Unah sudah cemas.
Dodo diam dulu sebentar, lalu tanpa berkata-kata dia membuka lilitan kain itu sampai nampak leher yang penuh tanda merah. Bu Unah tentu tahu tanda itu bukanlah hasil kerokan.
"Oh, yaudah tutup lagi."
Tertangkap ekspresi Dodo yang kikuk, tapi mau bagaimana lagi, Dodo tidak mau berbohong pada orang tua barang sepatah katapun.
Baginya, hanya hubungan orang tua dan anak jika senang maka senang, jika susah maka ikut susah. Dalam artian ketika kita ditimpa masalah maka orang tua sedih dan berusaha membantu serta menutup aib. Begitupun dengan anak kepada orang tua.
Jadi Dodo tenang bisa terbuka dengan orang tua apapun keadaanya.
"Mak, Iyan ada di dalam?" tanya Dodo mengusir canggung, sekaligus dia juga punya urusan dengannya.
"Ada, tadi sih lagi main hp."
Tidak lama kepergian Dodo, datanglah Jesslyn dengan mata yang sedang mencari-cari. Penampilannya memang belum rapi, tapi sudah mandi sejak subuh tadi.
Dimana dia? katanya mau jalan-jalan, malah keluyuran.
"Emak, lihat aa Dodo tidak?" tanya Jesslyn kepada Bu Unah yang sedang melayani dua orang Ibu-ibu.
Kemudian datanglah Bu Sarnih untuk berbelanja di warung Bu Unah, saat Dodo datang memang belum ada yang membeli, setelah Jesslyn datang datanglah ibu-ibu berbelanja sayuran satu persatu.
Baru Bu Unah mau menjawab pertanyaan sang menantu, Bu Sarnih berbicara terlebih dahulu.
"Neng, masih belum isi juga? ya ampun lama banget. Jangan di tunda, walaupun banyak uang kalau belum ada anak emangnya gak kesepian?"
__ADS_1
Bu Unah mendelik kesal, kalau bukan di tengah keramaian Bu Unah sudah mencak-mencak memberikan pembelaan untuk Jesslyn.
"Ibu ini terlalu perhatian sama saya, haha. Seperti yang tadi ibu bilang jika saya itu duitnya banyak, ya tidak kesepian dong. Bisa bayar orang buat menemani." Telak Jesslyn sambil berlalu menerobos bahu Bu Sarnih.
Bocah tengil. Gerutu Bu Sarnih.
"Mpok, harusnya jangan ngomong kaya gitu sama orang yang belum di kasih anak. Gak baik tahu, sangat menyakiti perasaan." Seru salah satu Ibu-ibu.
"Sudah-sudah, ini belanjaannya mau pada di hitung gak? Sudah mau siang tuh nanti orang rumah pada kelaparan." Sengaja Bu Unah membuat situasi lebih kondusif untuk memberi peringatan pada Bu Sarnih.
Setelah keadaan memungkinkan, Bu Unah memulai pembicaraan.
"Sarnih, gua kasih tahu ya, pertanyaan lu tadi ke menantu gua sama aja kaya nanya kapan lu mati. Yang jawabannya pun kita gak tahu. Jadi gua harap lu bisa hati-hati dalam berbasa-basi."
"Yaelah Mpok Unah, begitu aja marah"
"Gimana gua gak kesel, lu kalau ngomong seenak bero lu aja. Walaupun Jesslyn menantu, tapi dia udah gua anggap anak perempuan gua sendiri. Lu boleh ngatain gua, tapi sama anak gua jangan. Kalau gak, lu gak gua kasih ngutang lagi."
"Yah Mpok, jangan.. Maafin saya ya."
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...