Suamiku Bukan Orang Kaya

Suamiku Bukan Orang Kaya
Sebuah kartu


__ADS_3

Dimeja makan


"Aneh, tapi enak." Jesslyn mengacungkan sendok yang berisi pecak kembang pepaya pemberian Bu unah. dipandangi dan di amati dengan seksama lalu di lahap.


"Bahan dasarnya pahit, tapi diolah terasa enak, pahitnya berkurang bahkan hilang. sama kaya kehidupan walaupun pahit tetap dinikmati." analisa dodo


"Hemm benar juga, tapi bukankah mengubah rasa pahit itu butuh garam dan bumbu lain?" jesslyn menjawab tak mau kalah.


"Benar non, oh ya saya mau pamit keluar sebentar. mencari informasi tentang emak tadi sore."


"Silahkan."


Pencarian informasi bukan semata Dodo lakukan hanya karena perintah jesslyn. dia tidak segan jika ibunya sampai menangis. dimatanya, Bu unah bukan tipe orang yang suka mencari masalah. kalau ini terjadi bisa jadi orang lain lah yang membuatnya sedih.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikum salam." jawab para bapak-bapak penghuni pos ronda.


"Do, baru nongol lagi lu."


"Iya mang, udah lama gak ngopi bareng kita."


"Iya lu ngerem Bae di rumah sekarang mentang-mentang punya bini cakep. hehe"


"Bisa aja mamang."


Chandra yang ikut berkumpul hanya berdiam diri bermain game di ponselnya.


"Bang, emak kenapa nangis tadi sore?" Dodo berbisik.


"Gak tau. coba lu tanya Ama Iyan gua gak sanggup ceritainnya." dari jawaban Chandra Dodo berfkir ini masalah serius.


Sebelum Dodo menemui iyan, Dodo memiliki ide pencarian informasi yang akurat. ia lantas pamit meninggalkan pos ronda menuju rumah pamannya.


..........


Jesslyn berkutat dengan ponsel mengusir jenuh, menonton televisi tidak ada yang seru menghampiri Bu unah pun sudah hampir larut malam. berbicara dengan ART nya pun segan sungguh kesepian dirumah seorang diri.

__ADS_1


Ketukan pintu berbunyi.


"Non, sudah tidur?"


"Belum, buka aja gak di kunci."


Bintu berderik terbuka, muncul Dodo dengan wajah yang khawatir.


Jesslyn mendengarkan secara seksama penuturan Dodo dengan hasil yang ditemukan. rencana cadangan dibalik kekhawatiran jesslyn tentang Bu unah membawanya kepada titik terang. langkah apa yang ia lakukan selanjutnya pun jesslyn sudah menyusun matang.


"Terimakasih infonya. kamu istirahat lah."


"Iya non."


Dodo kembali ke kamar untuk istirahat sejenak. setelah itu terdengar suara merdu Dodo mengaji di keheningan malam.


Jesslyn beranjak dari tempat tidur, mengintip di balik pintu kamar Dodo yang belum tertutup sempurna. lama jesslyn terpaku memerhatikan di depan pintu kamar.


"Non, ada yang bisa saya bantu?"


Jesslyn tersadar dari lamunan, lama ia berdiri hingga seperti terhipnotis tak tahu jika aktifitas Dodo sudah selesai.


"Oh yasudah, nanti saya kesana "


"Ya"


Kondisi yang sedang dirasakan jesslyn adalah sebuah kesepian. biasanya hidup dengan kakak laki-lakinya bersenda gurau saling menguatkan dan juga saling menjaga. setelah kepergian ibunya yang tak akan pernah kembali ayah jesslyn memilih untuk memikirkan dirinya sendiri, membawa kesedihan hingga ke luar negeri tidak peduli bagaimana dengan jesslyn dan kakaknya.


Joe dan Jesslyn dewasa karena keadaan, tidak ada naungan orang tua tempat mereka berteduh. hanya mengandalkan insting Joe sebagai kakak untuk bisa bertahan dalam sebuah keluarga.


Tapi.. setelah kejadian itu telah mengubah arah hidup jesslyn. Joe kini tak bisa lagi menemani jesslyn sang adik yang berpayung kesedihan.


"Do, kuperhatikan kamu setiap malam selalu mengaji. bisakah aku menitip do'a?" jesslyn


"Maaf non, bukan maksud menggurui tapi alangkah baiknya non sendiri yang melakukan, semoga hajat non segera terkabul. atau orang yang non do'akan akan bahagia melihatnya "


"Aku tidak bisa apa-apa." lirih Jesslyn.

__ADS_1


Dodo merasa iba melihat jesslyn, orang yang penuh kekuasaan di tempat ia bekerja ternyata memiliki sisi yang tidak berdaya. dunia penuh misteri ketika melihat orang dari luar bahagia, belum tentu bahagia sebenarnya.


"Besok saya ajarkan non. kalau non bersedia saya tunggu sore hari."


"Kenapa?" jesslyn


Dahi Dodo berkerut, tidak mengerti maksud pertanyaan jesslyn.


"Kenapa kamu peduli padaku?" tanya jesslyn lagi memperjelas.


"Karena non adalah istri saya, sudah menjadi tanggung jawab seorang suami memberi nafkah, membimbing, serta menjaga istrinya."


"Oh ya ini ATM saya non pegang, isinya tidak seberapa tapi semoga cukup untuk kebutuhan." Dodo menyerahkan kartu nya.


ya ampun Dodo...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.bersambung...


__ADS_2