
"Bram, tumben kamu malam-malam begini ke rumahku? ada apa?"
Wajar saja Dara bertanya demikian, ini merupakan kali pertama Bram menapakkan diri di rumahnya.
"Sudah mengantuk belum? Aku mau kamu temani saya ngobrol."
Seperti sedang bermimpi, Dara menepuk-nepuk pipi memastikan, lalu beralih mengusap matanya.
"Kamu lagi gak mimpi, ini beneran. Jadi kamu mau temani aku tidak?" Bram tersenyum, lelaki itu membawa tentengan makanan seperti sudah dipersiapkan dan percaya diri bahwa mereka akan berbincang bersama.
Dara memperhatikan Bram dari atas sampai bawah, terlihat raut wajahnya lelah dan tak bersemangat. Sebagai orang yang sedang mencintai, tentunya Dara akan berjingkrak kesenangan dengan kedatangan Bram.
Dara tidak seperti itu, memang dia senang bahkan sangat senang, tapi gadis itu masih bisa menjaga sikap dan tidak bertindak yang akan memalukan dirinya sendiri.
"Aku belum mengantuk, yasudah kita mau ngobrol dimana?" sebenarnya melihat apa yang di bawa Bram, Dara menebak mereka akan berbincang di rumahnya, tapi dara ingin memastikan siapa tahu apa yang dipikirkan beda dengan kenyataan.
"Di taman biasa aku kesana, mau kan? oh iya ini ada sedikit buah tangan untuk orang tuamu. Sekalian aku mau ijin pinjam anaknya sebentar." Tuh kan benar, beda dengan kenyataan. Dara kelabakan dibuatnya, ijin untuk pinjam anak? ambil juga boleh. Eh. Dara bergumam dalam hati.
"Kalau gitu silahkan masuk. Sementara tunggu aku bersiap-siap, kamu berbincang dengan papah dan mamah."
Nafas **D**ar, nafas. Ini beneran gak sih kemarin-kemarin aku yang selalu datang dan perhatian sama dia tanpa dipedulikan, sekarang dia nya datang sendiri tanpa diminta.
"Terimakasih." Bram melangkah masuk bersama Dara.
"Pah, mah, ini ada Bram datang." Seru Dara tanpa butuh perkenalan karena memang orang tuanya sudah mengenal Bram.
__ADS_1
Mereka terlibat obrolan tanpa canggung.
...........
Semilir angin malam membelai lembut pipi. Jas milik Bram sudah di pasangkan di punggung dara demi melindunginya dari dinginnya malam.
"Maaf ya Dar." Bram meminta maaf, lalu mematikan rokok yang hampir sisa puntungnya. Dara memperhatikan tanpa berkedip.
"Iya Bram, gak apa-apa. santai aja."
Bram mendekat setelah tadi menjauh karena menghindari asapnya terhirup oleh Dara. Lelaki itu duduk di samping Dara menatap lekat gadis di sampingnya.
"Dara, kamu gak ilfil dengan apa yang kamu lihat barusan?"
Aku mencintaimu apa adanya.
Bram memangku kepala dan bersandar di bangku taman, matanya menatap kerlip bintang di langit malam.
"Aku sudah menyerah, dia bukanlah jodohku." Bram mengintip sebentar Dara lewat ekor mata, penasaran reaksi apa yang di pancarkan oleh gadis yang dia ketahui perasaannya.
Bram tersenyum penuh arti.
"Aku gak salah dengar Bram? tumben kamu pantang menyerah."
"Iya, aku menyerah setelah jatuh cinta. Jika aku tetap meneruskan rasa ini, aku hanya akan membuat hidupku lebih menyedihkan. Aku hanyalah seorang asisten yang bekerja keras demi sebuah kelancaran."
__ADS_1
"Aku hanya sebatas pekerja yang tidak berarti apa-apa. Semua usahaku hanya di pandang sebagai pekerjaan. Sayangnya, aku menyertakan rasa cinta di dalamnya, yang pada akhirnya membuatku sakit."
"Dara, aku pikir akulah yang pantas menjadi suami Jesslyn, tapi ternyata bukan."
Dara menyodorkan minuman pada Bram agar dia bisa menjeda cerita yang membuat tenggorokan kering.
Bram meraihnya dan meneguk hampir setengah.
"Kalau boleh tau kenapa kamu bisa merasa kamulah yang pantas untuk menjadi suaminya Jesslyn?"
"Karena aku sangat berkompeten menjadi asistennya, segala upaya diluar pekerjaan hampir bisa aku kerjakan. Itulah acuan kenapa aku bisa bilang begitu. Bodoh ya, haha."
"Dar, aku baru sadar yang bodoh itu bukan cintanya, tapi caranya." Bram menghela nafas.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...