
Pagi hari menyambut.
Kicauan suara burung di pagi hari serta langit yang sudah memutih dari hitamnya, memberikan tanda bahwa Dodo tidak akan berada pada posisi tidurnya.
Jesslyn mengerjap, matanya mencari berkeliling dimana keberadaan sang suami. Dia mendapati Dodo sudah dalam keadaan rapi dan sedang menemani sarapan Pak Dirga.
Tunggu, Dodo juga sambil senyam-senyum dengan ponselnya, kebiasaan yang tidak pernah di tampakkan kepada Jesslyn. Baginya, ini merupakan hal di luar batas kewajaran.
Mumpung Dodo belum tersadar jika Jesslyn sudah bangun dan sedang memperhatikan, Jesslyn akan melakukan investigasi apakah yang sedang dilakukan suaminya. Pertama, Jesslyn terlebih dahulu menempelkan jari telunjuk di bibir pertanda kode untuk mendiamkan sang ayah yang mulai menyadari.
Kedua, dia mengendap-endap berjalan. Berjinjit saat sudah di belakang Dodo dan menaikan kedua alis. Menahan sedikit nafas agar tidak ketahuan jika dibelakangnya ada sosok anak manusia.
ketiga, eksekusi tidak berjalan mulus. Dodo menelungkupkan ponsel dan memutar wajah. Senyumnya Dodo semakin mengembang.
"Selamat pagi non." Ujarnya, membuat detakan jantung Jesslyn seakan berhenti.
"Hehe, iya."
"Iya apa nak? ih kamu orang Dodo ngucapin selamat pagi juga." Pak Dirga berusaha memperkeruh suasana.
"Iya iya pokoknya pah."
"Non, kalau mau mandi perlengkapannya sudah saya siapkan. Nanti lanjut sarapan, sudah saya siapkan juga."
Jesslyn masih mematung, dia masih sangat penasaran kenapa Dodo pagi-pagi sudah senyum sendiri dengan ponselnya. Pikirannya sudah mulai berfikir tidak jernih.
__ADS_1
"Non, saya ada salah ya?" wajah teduh itu sudah bermuram durja.
"Hp kamu kenapa tengkurap begitu? apa yang di sembunyikan?" nadanya ketus.
"Oh ini, saya lagi lihat percakapan grup chat semalam, ternyata ramai ya." Dodo menunjukan layar ponselnya ke hadapan Jesslyn.
"Do, ada Dodo KW gak di dalam grup chat itu? kalau ada, pelakunya bukan papah ya, sumpah." Pak Dirga menyindir, yang disindir sudah merah padam. Padahal mereka sama-sama pernah menjadi Dodo KW.
Maksud hati ingin cemburu buta di pagi hari dengan cara elegan malah berujung ketahuan lagi. Sudahlah, besok-besok kalau ada chat menggelitik dari ponsel Dodo, jangan dilihat. Ingat jangan di lihat. Kalau perlu jual saja ponselnya.
"Maafkan aku" menunduk, tidak berani menatap sorot mata teduh yang membuatnya semakin bersalah hari ini, energi yang terkumpul untuk cemburu berubah menjadi rasa malu.
Harusnya aku yang menyiapkan perlengkapan mandi, dan harusnya aku yang menyiapkan sarapan ini sayang. Kata-kata itu tercekat dileher, apa tidak malu jika mengatakan itu di depan ayahnya.
"Tidak usah minta maaf non, non tidak salah."
............
Hari ini, bertepatan dengan janji hari kerja pertama di Manggala corp, tempat Dodo mencurahkan segala yang dia pelajari dan akan diubahnya menuju arah yang baik.
Manggala adalah badan bisnis yang menguntungkan tapi bukan bisnis yang baik. Hal ini lah yang memantik banyak musuh yang kini masih hinggap pada kelamnya sejarah Manggala.
Niko dan Rianti telah melimpahkan tanggung jawab yang begitu berat dan tak main-main pada Dodo sebagai pemula. Bukannya soal untung atau ruginya, berkembang atau tidaknya, tapi ini lebih serius dari apa yang telah disebutkan tadi.
Keselamatan adalah nomor satu untuk menjadi pemimpin disini.
__ADS_1
Wuuussshh... jleb
Dodo menghindar, tapi tetap pelipis sedikit tergores dengan panah Dartboard pembawa pesan.
Dirinya membuka kertas tersebut.
Pemimpin baru ya?
Dodo tahu betul kedepannya dia akan menemukan lagi hal seperti ini bahkan lebih. Dia telah siap mental, dan berbekal ilmu yang diberikan Willy. Sebab, selangkah dia maju tidak akan bisa untuk mundur lagi.
Flashback
"Selamat pagi Tuan?" Ucap pengawal yang menjemput Dodo.
"Maaf, saya minta panggilanya jangan Tuan, bapak saja." pengawal tersebut mengangguk.
"Saya tugaskan kamu untuk menjaga istri saya dari kejauhan. Saya khawatir dengan keselamatanya. Bisa?" tanya Dodo dengan sopan. Pengawal tersebut terkesima, ada ya bos menyuruh anak buah dengan lembut begitu.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...